Ilustrasi. (Photo by cottonbro from Pexels)

Belum menikah di usia 30-an bagi perempuan mungkin sama menantangnya seperti menjadi janda. Belum lagi banyak disematkan istilah yang bikin kepingin garuk aspal. Pratu alias perawan tua, tebu bongkeng yang artinya tebu yang jelek.

Seorang teman di masa SMP yang nggak kenal-kenal amat, pernah menulis komentar di unggahan media sosial saya. “Sebenarnya ada masalah apa, cantik-cantik kok nggak laku?” Isi unggahan bahas A, dikomentari soal B. Menurut teman tersebut tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, ia terheran-heran kenapa komentarnya diprotes teman-teman saya yang lain. Tebak gender? Ya, laki-laki.

Setelah disebut nggak laku, stigma lainnya akan mengikuti. Terlalu ambisius mengejar karier, pilih-pilih karena standar jodoh terlalu tinggi, belum move on dari kisah cinta sebelumnya, dan punya trauma disakiti laki-laki. Macam-macam dan nggak ada satu pun yang enak didengar. Memaksa perempuan untuk melakukan klarifikasi dan pembelaan diri. Padahal bukan pesakitan, tidak merugikan orang lain, dan tidak melakukan kesalahan.

Baca juga: Lihatlah, Mereka bahkan Bergembira di Atas Derita Para Janda

Sulit sekali sepertinya melihat perempuan sebagai manusia. Hidup sebagai perempuan di Indonesia, sering kali dianggap sama seperti benda mati dan barang dagangan. Kalau protes nanti dibilang baperan. Tak peduli salah atau benar, sopan atau kurang ajar, kalau sudah keluar kartu ‘baper’ untuk lawan bicara berarti dianggap loser. Coba saja nyolot atau sekadar menyatakan keberatan, malah akan mendapat komentar “pantas nggak laku, jutek, sih”. Orang yang bermulut julid itu nggak terpikir bahwa orang lain tersinggung bukan karena tertohok soal status, melainkan tersinggung karena merasa tidak dimanusiakan.

Meski terjadi di ranah kultural saja, damage stigma negatif perempuan lajang usia 30-an ini berat. Masyarakat dan keluarga terdekat memaksa perempuan menerima saja laki-laki yang ada dan bersedia (karena kekhawatiran tak laku). Kadang harus pula jadi istri kedua dan seterusnya. Makin berumur seorang perempuan lajang, makin tak berhak ia memilih dan memutuskan.

Meski berpendidikan, punya berpenghasilan yang cukup, bahkan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, tetap dianggap cupu tanpa status sudah menikah. Jika perkawinannya toksik, harus bertahan sebab menjadi janda juga akan mendapat stigma negatif dan perlakuan buruk.

Baca juga: Perempuan Kritis dan Suka Debat, Apa Iya Dijauhi Laki-laki?

Pernah ramai di sebuah fanpage, curhat seorang istri yang suaminya menganggur dan lebih mementingkan hobi gantang manuk (memelihara burung berkicau untuk kontes) dan memancing ketimbang mengurus keluarga. Istri sudah membiayai keluarga, masih juga diminta uang untuk hobi suami plus uang rokok. Sudah jelas suami tersebut tidak bertanggungjawab dan belum siap berumah tangga. Tapi nyatanya banyak yang seperti ini dan dimaklumi, “Namanya juga laki-laki.”

Perempuan dianggap tak punya posisi tawar, sekadar memperjuangkan haknya sekalipun. Makin tidak karuan ketika identitas agama mulai dibawa-bawa. Perempuan dianggap perlu banget ‘dihalalin’ supaya lebih mudah diterima di masyarakat. Ide-ide kesetaraan disebut bertentangan dengan akidah karena perempuan yang minta setara dianggap melawan kodrat.

Laki-laki yang melajang di usia 30-an tidak akan dicurigai ketika tampak ganteng dan wangi. Berbeda dengan perempuan lajang, terlihat menarik sedikit saja dicurigai mau menggoda suami orang. Kalaupun memang ada suami orang yang tertarik, yang salah tetap perempuan lajang. Drama yang semacam sering sekali dihadapi perempuan di dunia kerja. Seakan perempuan nggak mampu bekerja banting tulang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Baca juga: Cinta Bisa Mengubah Laki-laki? Itu Hanya Dongeng

Istri teman kantor pernah melabrak saya. Gara-gara pekerjaan suaminya dibantu saat cuti sakit supaya tim tetap bisa mengejar tenggat waktu. “Suami Mbak nggak sekeren itu sampai sudah beranak dua pun masih menarik buat digoda.” Jawaban pendek tersebut membuat teman kantor meminta maaf berkali-kali untuk perbuatan istrinya. “Biasa perempuan umur segitu belum kawin, haus belaian, marah-marah melulu,” kata teman kantor yang lain setelah menghadapi omelan klien. Kalau memang hasil pekerjaan kita buruk, masalahnya ada di kita, dong. Kok malah mengungkit status lajang klien yang kebetulan seorang perempuan.

Pernahkah terjadi pada laki-laki, belum menikah di usia 30-an atau berstatus duda, mendapat label/stigma negatif dari masyarakat? Paling mentok diledek saja. Tak sampai dianggap expired seperti barang dagangan, perlu diberi label “halal” dan dianggap melawan kodrat, dicurigai ingin menggoda suami orang, sampai mengomel untuk urusan pekerjaan pun disebut haus belaian.

Di China, status belum menikah juga dianggap masalah besar. Selain kultural, status tersebut sampai perlu dibawa ke ranah struktural menjadi sebuah instrumen opresi yang dikenal dengan terminologi sheng-nu yang berarti ‘perempuan sisa’. Kebijakan tersebut dimulai tahun 2007 saat Pemerintah China memperingatkan tidak imbangnya jumlah wanita dan laki-laki karena aborsi akibat kebijakan satu anak.

Artikel populer: Pacaran Lama-lama Terus Putus, Rugi Nggak sih?

Media dengan sponsor Pemerintah China secara aktif menggunakan istilah sheng-nu dalam berita, kolom, survei, tayangan televisi, dan sebagainya untuk memberi stigma negatif pada perempuan di atas 27 tahun yang belum menikah. Meski pada saat itu jumlah laki-laki China lebih banyak, dianggap tidak masalah karena laki-laki cenderung menikah dengan perempuan yang berusia lebih muda. Terjadi diskriminasi gender yang terstruktur dan difasilitasi negara. Duh, jangan sampai terjadi di Indonesia.

Mau sampai kapan melajang dianggap sebagai kesalahan? Dikejar pertanyaan dan prasangka buruk, dilabel tak normal, dan mendapat stigma negatif. Disebut gagal sebagai anggota masyarakat bahkan penentang kodrat dan akidah.

Ketimbang julid kepada perempuan lajang, akan lebih berguna jika energi julid tersebut digunakan untuk memperhatikan sekitar. Mungkin ada tetangga yang mengalami KDRT, bisa saja ada saudara yang terjebak di perkawinan toksik, atau ada perempuan-perempuan yang punya beban ganda sampai merugikan kesehatan fisik dan mentalnya. Setiap orang bisa melakukan sesuatu untuk membantu, kalau mau.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini