Banyak yang Sinis sama Perempuan Kritis, Bahkan dari Sesama Perempuan dan Teman...

Banyak yang Sinis sama Perempuan Kritis, Bahkan dari Sesama Perempuan dan Teman Sendiri!

Ilustrasi (Alex Holyoake/unsplash.com)

Sejak dulu, perempuan digambarkan sebagai sosok yang dekat dengan masalah. Apalagi, sesama perempuan seringkali terjadi kompetisi yang tidak sehat. Berbeda dengan laki-laki yang cenderung kompak, bahkan saling menutupi rahasia maksiatnya masing-masing.

Sebagaimana epiknya legenda perang Trojan, yang meletus hanya karena hasrat tak tertahankan seorang pangeran bernama Paris terhadap sosok Helen, istri penguasa Sparta, Menelaus. Dan, ‘masalah’ bernama Helen ini memicu kemarahan Sparta hingga akhirnya meluluhlantakkan kota Troy.

Di sini, kita mengenal nama Ken Dedes, sang Prajnaparamita, yang menjadi ‘sumber’ petaka kematian banyak lelaki. Sebuah kutukan yang tak berhenti pada satu generasi, melainkan berurutan dari generasi ke generasi. Semua itu diceritakan hanya karena – lagi-lagi – hasrat lelaki atas perempuan yang tak tertahankan.

Mungkin jalan ceritanya akan berbeda, jika kita melihat perempuan sebagai subjek yang mau mendobrak tatanan masyarakat yang sudah usang. Perempuan yang mampu keluar dari kungkungan tradisi.

Sebagaimana kita melihat perjalanan Roro Mendut yang tak menyerah memperjuangkan hak hidup atas tubuhnya sendiri, juga cintanya kepada Pranacitra.

Atau, jika kita menilik tulisan Pram tentang Midah, si manis bergigi emas yang pergi keluar dari lingkungan yang membesarkannya, hanya untuk meraih mimpi menjadi penyanyi. Sebuah pilihan yang tak mudah, dengan latar cerita pada masa lampau.

Midah yang dibesarkan oleh keluarga taat beragama, memberontak dari tradisi. Tak hanya menjadi penyanyi, tapi juga dengan menentukan sendiri nasibnya sebagai perempuan.

Jelas, itu sesuatu yang tak lazim di zamannya, dimana perempuan lebih banyak dipingit serta dijodohkan. Hanya mengenal suaminya pada malam pertama, bukan hari-hari sebelumnya dalam roman asmara.

Banyak legenda dan cerita rakyat yang kebanyakan ditulis oleh kaum laki-laki, hingga jarang sekali kita menemui tokoh perempuan menjadi inti cerita. Tentunya yang tak tertimpa masalah. Dalam arti, berperan sebagai pemegang kunci, bukan sebatas pembuat onar.

Sebagaimana cerita rakyat di daratan Balkan, di sebuah negara kecil penuh misteri bernama Wallachia, di mana sosok perempuan sebagai kunci, penerus keturunan legenda misteri, Vlad Tepes.

Ya, dalam kronik-kronik terbatas, disebutkan, hanya perempuan yang lahir dengan tanda berbentuk naga kecil di pundaknya, konon garis keturunan Vlad Tepes the Impaler diturunkan. Dan, ia memainkan poin penting sebagai seorang ibu!

Pertanyaan yang kemudian muncul, apa iya semua perempuan harus mau menjadi seorang ibu? Tak bolehkah ia memainkan perannya sendiri atau memilih sendiri langkahnya?

Tak hanya menjadi seorang ibu, tapi juga sebagai seorang yang merdeka atas pilihan hidupnya. Bukan menjadi seorang ibu hanya karena ‘hukuman’ sosial.

Karena pada akhirnya, menjadi seorang ibu bukanlah peran yang mudah dalam hidup ini. Pada banyak kasus yang sering terjadi di masyarakat, kata ‘ibu’ pun menjadi bias. Segala dukungan hanya di atas kertas, tapi praktiknya hampir mendekati nol besar.

Ibu, seringkali menjadi orang pertama yang disalahkan, jika anak-anaknya bermasalah, jika rumah yang ditinggalinya bersama keluarga, penuh masalah…

Kalau sudah begitu, apa artinya sematan kata ‘ibu’ pada perempuan yang katanya mulia, jika pada akhirnya tetap dianggap sebagai sumber masalah?

Masyarakat kita masih belum mampu menerima fakta bahwa perempuan pun berhak untuk menentukan perannya sendiri di masyarakat. Harapan itu terlalu grandeur, jika kita menilik pola pikir masyarakat kita yang cenderung hipokrit.

Pilihan perempuan untuk bebas menjadi siapa dan siapa cenderung ditanggapi taksa dan ambivalen. Sama seperti saat bicara seks dan seksualitas pada perempuan, tak ada bedanya.

Wacana tentang perempuan dan pilihannya menjadi wacana yang tabu, yang saru diperbincangkan. Tapi, di sisi lain, juga menjadi sebuah wacana yang menarik. Banyak mata yang melirik dan telinga yang ingin dibisik.

Perempuan tetap saja dianggap sebagai makhluk kelas dua, yang terus digiring opini dan cara berpikirnya untuk mengikuti tatanan, serta norma yang ada.

Contohnya, kewajiban tak tertulis seperti harus menjaga keperawanan hanya untuk suaminya kelak, mencari suami yang mampu mengangkat derajatnya sebagai perempuan, menikah pada umur sekian (sebelum umur sekian), mempunyai anak, mengurus rumah tangga, menjadi istri yang ‘nurut’ suami, dan lainnya.

Padahal, apa salahnya jika perempuan ingin memberikan keperawanan kepada orang yang dicintai, yang bisa jadi tak akan menjadi suami nantinya?

Sementara itu, para lelaki tak dituntut demikian. Menjaga keperjakaannya demi perempuan yang kelak menjadi istrinya. Apa hanya karena keperawanan meninggalkan ‘bekas’, sedangkan keperjakaan tidak? Naif sekali rasanya, perempuan dinilai hanya dari bekas di tubuhnya.

Sama halnya dengan ‘kewajiban’ perempuan untuk menikah pada umur sekian. Apa salahnya jika menikah pada usia yang sudah lewat masa produktifnya sebagai pabrik anak? Toh, tak selamanya tujuan menikah itu hanya untuk punya anak, kan?

Belum lagi, jika kita bicara perempuan feminis yang memilih menjalani hidupnya dengan caranya sendiri, yang seringkali mendobrak banyak tatanan dan tradisi kuno.

Sudah tahu kan, bagaimana sinisme masyarakat terhadap mereka? “Pantaslah mereka kritis, nyinyir, pedas omongannya, maklum kurang belaian dan kasih sayang laki-laki.”

Celakanya, kalimat semacam itu bukan hanya keluar dari mulut para lelaki, melainkan lebih banyak keluar dari mulut sesama perempuan, bahkan teman sendiri!

Lantas, apakah sinisme sesama perempuan itu menghambat gerakan yang mengangkat isu kesetaraan gender? Makin kritis, iya.

Ah, sepertinya video Bu Dendy masih harus saya tonton sekali lagi, alih-alih mengamini Clare Goldstein, “…those whole female gender thing did, after all, start the day I was born with vagina.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.