Ilustrasi perempuan. (Image by Khusen Rustamov from Pixabay)

“Nggak ada laki-laki yang mau sama kamu kalo kamunya kayak gitu!”

Sering dengar ancaman semacam itu? Sebagai perempuan yang hidup di lingkungan yang masih memuja patriarki, celetukan seperti itu ibarat sudah lemparan sehari-hari. Entah keluar dari orangtua yang khawatir karena anak perempuannya tidak kunjung menikah, dari teman-teman satu sirkel pergaulan yang maunya ‘serba seragam’, hingga dari sejumlah laki-laki.

Sebelum keburu jiper atau marah-marah, mari kita ulik dulu. Percayalah, setelah membaca artikel ini, kamu nggak akan lagi mudah termakan sama ancaman di atas.

Taktik Khas Para Perundung

Sering nonton film berlatar sekolahan dan bertema perundungan? Selain merundung secara fisik, pelaku biasanya juga hobi mengancam dan menakut-nakuti korban. Salah satu senjata andalan mereka dalam perundungan verbal adalah klaim tanpa bukti seperti ini, “Elo orangnya aneh. Gak ada yang mau temenan sama elo.”

Baca juga: Pertemanan Tidak Sehat dan Waktu yang Tepat untuk Keluar sebelum Terlambat

Benarkah demikian? Kalau memang selama ini nggak pernah berbuat salah, kenapa harus takut sama omong kosong semacam itu? Kenyataannya, indikator mudah mendapatkan teman tidak melulu karena perilaku baik. Banyak kok yang jahat-jahat punya teman, tapi… ya, begitu. Teman-teman mereka biasanya suka jahat juga. Atau, tutup mata alias tahu tapi membiarkan, bahkan sesekali membela tipis-tipis.

Kalau korban ternyata masih punya teman, meskipun satu-dua orang, mereka juga akan dicap sebagai ‘orang aneh’ oleh para perundung. Kemudian, para perundung langsung pamer banyak-banyakan teman. Intinya, orang-orang yang sering mem-bully itu ingin terlihat ‘kuat’ dengan menjadikan orang lain sebagai pihak yang ‘lemah’. Padahal, sesungguhnya yang lemah adalah para perundung.

Kalaupun ada orang lain selain perundung yang tidak menyukai kita, itu tak masalah. Sebab memang tidak mungkin bisa membuat semua orang di dunia ini menyukai kita. Asalkan, mereka tidak mengganggu atau menyakiti. Bukan kita yang harus bertanggung jawab untuk membuat mereka senang. Yang penting, masih ada orang yang benar-benar peduli sama kita.

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Pengecut dan Misoginis

Begitu pula dengan perundung bernada misoginis yang menakut-nakuti kita bahwa tak akan ada yang mau jadi pasangan kita hanya karena ada sesuatu yang bikin mereka tidak suka sama kita. Biasanya sih, ketika kita – terutama perempuan – dianggap terlalu kritis dan suka mendebat. Semua itu bikin laki-laki menjauh, kata mereka yang julid.

Memang, pasti ada lelaki minder yang menganggap semua kelebihan perempuan sebagai ancaman bagi ‘superioritas’ mereka. Lagi pula, siapa juga yang mau sama lelaki semacam itu? Yang ada, malah tidak aman. Sedikit-sedikit takut mengecewakan dan menyinggung ego mereka yang rapuh. Lama-lama, kita dimanipulasi dengan ilusi-ilusi, sehingga kita menjadi rendah diri.

Mau sampai kapan harus berpura-pura menjadi orang lain? Pada akhirnya, tak ada yang benar-benar bahagia dengan berpura-pura menjadi orang lain, apalagi hanya demi menyenangkan mereka yang sama sekali tidak menerima kita apa adanya.

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Mirip-mirip karakter Astrid di film Crazy Rich Asians yang berusaha menyenangkan Michael, sang suami. Mulai dari menyembunyikan barang-barang mahal yang dibelinya sampai menolak tawaran pekerjaan hanya gara-gara Michael minder dengan kekayaan keluarga Astrid.

Padahal, bukan salah Astrid juga bahwa kebetulan dia berasal dari keluarga kaya raya. Masa dia harus sengaja memiskinkan diri dan pura-pura bodoh agar Michael bisa ‘merasa seperti laki-laki sejati’? Ujung-ujungnya, semua itu takkan pernah cukup. Michael tetap saja selingkuh.

Jadi, klaim “Nggak ada laki-laki yang mau sama kamu kalo kamunya kayak gitu!” tidak bisa dibuktikan maupun dipertanggung jawabkan. Klaim tersebut juga terdengar sangat pengecut.

Pertama, yang suka ngomong begitu biasanya juga yang paling lantang membela dengan tagar #tidaksemualakilaki setiap ada yang membahas statistik kasus kekerasan seksual dengan laki-laki sebagai mayoritas pelaku. Bayangkan, bukti berupa data-data sudah terpampang jelas pun masih coba dibantah.

Tapi, giliran mengeluhkan sifat atau perilaku perempuan yang nggak disukai, mulai deh bawa-bawa semua lelaki. Kalau ada lelaki yang nggak sepakat dan tetap menyukai perempuan itu, siap-siap saja diejek ‘aneh’ atau dicap ‘suami-suami takut istri’. Biasalah, merasa punya ‘superioritas’.

Artikel populer: Cinta Bisa Mengubah Laki-laki? Itu Hanya Dongeng

Lalu kedua, laki-laki mana yang dimaksud? Laki-laki di sirkel pergaulannya? Atau, sebetulnya cuma dia saja yang nggak suka? Ah, kalaupun perempuan itu punya sifat yang menurutmu kurang baik, bukan urusanmu untuk mengubahnya. Lagian, kenapa juga urusan kepribadian perempuan harus selalu ada hubungannya dengan penerimaan dari laki-laki?

Setiap perempuan berhak dan layak bertumbuh sesuai kapasitas dan kenyamanannya masing-masing. Jangan kegeeran dengan mengira mereka butuh kamu sebagai sumber validasi.

Kalau memang nggak suka dengan perempuan itu, ya nggak usah frustrasi gitu dong. Nggak usah mengejek, apalagi mengancam dan menakut-nakuti dengan klaim “Nggak ada laki-laki yang mau sama kamu kalo kamunya kayak gitu”. Sotoy nih…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini