Nyanyian Perempuan Eks Penghuni Kamp Konsentrasi

Nyanyian Perempuan Eks Penghuni Kamp Konsentrasi

Dialita Choir (Dea Safira Basori)

Saat perebutan kekuasaan dunia antara Blok Barat dan Timur, banyak perempuan Indonesia yang terkena dampaknya. Bagaimana bisa suatu perang dingin yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika dan Uni Soviet kala itu membuat perempuan Indonesia menjadi korban?

Perempuan yang aktif memberantas buta huruf, senang berkegiatan sosial, aktif bergerak dalam organisasi dan komunitas pemuda, bahkan perempuan yang menggemari seni pun ditangkap dan dikirim ke kamp-kamp, antara lain kamp Plantungan, Bukit Duri, dan Ambarawa.

Setelah mereka keluar dari kamp-kamp tahanan tersebut, mereka dicap sebagai tahanan politik dan mendapatkan stigma sosial yang diberikan oleh negara. Stigma-stigma itu berangkat dari fitnah keji, hanya karena mereka disinyalir dekat dengan organisasi yang sekarang sudah tiada.

Hingga hari ini, fitnah tersebut masih lekat dan disebarluaskan dari generasi ke generasi untuk menumbuhkan provokasi dan rasa takut terhadap sebuah ideologi yang sebetulnya sudah usang.

Lantas, apa hubungannya antara perebutan kuasa dunia dan tertangkapnya ribuan perempuan Indonesia?

Dalam dokumen-dokumen rahasia yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat terungkap bahwa pemerintah AS terbukti mendanai militer Indonesia pada 1965. Hal itu terjadi karena ketidaksukaan AS terhadap Soekarno yang cenderung mengusung sosialisme dan anti-Amerika.

Karena itu, setiap orang yang berkaitan dengan gerakan sosial dan intelektual yang dianggap dekat dengan sebuah partai, ditangkap dan diasingkan ke kamp-kamp konsentrasi.

Apa yang terjadi di kamp-kamp tersebut tidak dapat dibayangkan. Perempuan harus hidup dalam keterbatasan, terpisah dan jauh dari keluarga.

Banyak pula yang tidak tahu apakah keluarganya tahu bahwa mereka ditangkap. Mereka hilang dan ditangkap hanya karena memiliki kekerabatan dengan anggota partai.

Sebagai perempuan, penjara adalah sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan. Keadaan perempuan yang bermenstruasi membuat mereka yang ditahan di kamp kesulitan untuk mengakses kebersihan dan kesehatan reproduksi.

Selain itu, bagi anak perempuan yang masih belia, penjara dapat menimbulkan depresi. Dalam keadaan depresi, mereka tak bisa berbuat banyak, sehingga hal yang bisa dilakukan hanyalah meluapkan perasaan dengan berteriak dan bernyanyi.

Meski mengalami tekanan lahir dan batin, perempuan-perempuan itu tidak berhenti berkarya. Mereka menciptakan dan menyanyikan lagu di dalam tahanan. Proses pembuatan lagu tak lepas dari perasaan rindu, luka, dan kesedihan.

Dibalik lirik lagu yang sederhana, terungkap banyak kisah pahit yang berangkat dari pengalaman perempuan di balik jeruji. Karena di kamp, misalnya di Bukit Duri, tidak boleh ada alat tulis. Mereka hanya mengandalkan ingatan dan mulut untuk terus mengulang-ulang lagu yang ada.

Selepas mereka keluar dari kamp, mereka tetap berkumpul untuk tetap mempertahankan tali persaudarian. Sembari tetap melakukan kegiatan sosial, mereka tak sengaja mengumpulkan lagu-lagu yang mereka ciptakan di kamp.

Kemudian, mereka membentuk paduan suara bernama Dialita, yang merupakan singkatan dari ‘Diatas Lima Puluh Tahun’.

Dalam usia yang sudah sepuh, mereka mulai mengingat-ingat dan mendokumentasikan lagu-lagunya. Cita-cita mereka sederhana: kelak akan ada anak muda yang mau menyanyikan lagu-lagu tersebut.

Dialita Choir (Dea Safira Basori)

Para perempuan yang tergabung dalam kelompok Dialita pun beragam. Generasi pertama Dialita adalah mereka yang ditahan di kamp, sedangkan generasi kedua adalah mereka yang orang tuanya ditahan, dan generasi berikutnya adalah cucu-cucu dari yang sebelumnya.

Dengan pertalian itu, Dialita merupakan sebuah persaudarian yang tidak lepas dari sejarah kelam yang menyatukan mereka. Kini, impian dan cita-cita sederhana itu mulai terwujud.

Sekumpulan seniman muda yang bergelut di dunia musik, seperti Kartika Jahja, Bonita, Junior Soemantri, Sinta Nursanti, Endah Laras, dan lain-lain bersama Institut Ungu bahu-membahu menggelar “Konser Perempuan untuk Kemanusiaan: Lagu untuk Anakku” yang diadakan pada 13 Desember 2017.

Tak disangka, peminat yang menonton konser itu  cukup banyak, terbukti pemesanan tempat pun habis dalam waktu yang singkat. Sejumlah anggota paduan suara Dialita pun tak gentar latihan setiap minggu agar dapat tampil maksimal.

Konser tersebut ingin menyampaikan pesan persahabatan, perdamaian, dan persaudaraan. Di tengah stigma sosial dan meningkatnya konservatisme di Indonesia, mereka berupaya mencari penyembuhan dari trauma masa lalu dengan menggunakan medium musik, yang juga berperan sebagai pengantar pesan perdamaian.

Konser ini juga dibarengi dengan momentum Hari Ibu, sehingga lagu-lagu yang dinyanyikan menyampaikan perasaan rindu seorang ibu kepada anaknya, serta rindu kepada ibunya sendiri. Lagu-lagu ini mengisahkan sejarah mereka dan menceritakan perjuangan serta keseharian di kamp konsentrasi.

Sehari sebelum diadakan konser, mereka yang tergabung dalam konser Dialita, mengadakan gladi bersih. Dalam kesempatan tersebut, setiap anggota paduan suara menyempatkan diri untuk mengujicoba suara mereka.

Tak disangka, ketika mereka bernyanyi secara individu, mereka memiliki suara yang begitu merdu. Bahkan, pada usia lanjut, suara mereka tidak kalah dengan anak muda yang ikut bernyanyi dalam acara tersebut.

Pada malam “Konser Perempuan untuk Kemanusiaan” yang diadakan, panggung-panggung dihias dengan nuansa nostalgia menggunakan lampu-lampu vintage.

Selain itu, dengan semangat keragaman, warna-warna panggung tak lepas dari warna toska, merah bata, abu-abu, dan merah jambu yang dikenakan oleh anggota paduan suara. Konser ini juga merayakan Indonesia dengan menggunakan kain Nusantara yang berasal dari Sumba.

Dengan lirik yang sangat sederhana, penyanyi muda dan berbakat unjuk kebolehan dengan menata ulang lagu-lagu tersebut, dengan irama-irama yang tak kalah dengan lagu populer kekinian. Para pemusik pun ikut menyanyikan lagu ciptaan Dialita.

Lagu-lagu Dialita yang diciptakan pada era sebelum para generasi milenial lahir terdengar begitu indah di telinga dan terasa mengharukan, jika kita membayangkan bagaimana proses lagu-lagu tersebut diciptakan.

Salah satu yang cukup mengena dan membuat terharu adalah lagu berjudul Ibu, yang dinyanyikan kembali oleh Endah Widiastuti. Bagi Endah lagu Ibu sangat mengena di hatinya, karena mengingat ibunya yang kini sudah tiada.

Lagu Ibu dinyanyikan oleh Endah Widiastuti (Dea Safira Basori)

Proses pembuatan lagu ini dilakukan di tengah kerinduan Utati Koesalah terhadap ibunya. Dengan menggunakan ingatan, ia ulang lagi lagu yang ia ciptakan, kemudian ditulis ulang jika memiliki kesempatan untuk menemukan kertas.

Satu-satunya kertas yang ia dapatkan adalah kertas bekas bungkus roti dan pensil yang ia dapatkan dari kepala blok. Saat itu usianya 22 tahun, ketika ia ditangkap tatkala merantau ke Jakarta, sedangkan ibunya berada di kampung.

Ia ditahan selama 11 tahun dan kala itu ia membayangkan apakah ibunya tahu ia ditahan atau tidak. Ia tak bisa bertukar kabar dengan ibunya, sehingga ibunya sendiri sempat berpikir bahwa ia sudah tiada.

Terkenang slalu kasihmu yang sejati

Cintamu yang abadi ikhlas dan murni

Teringat slalu belai sayangmu ibu

Kata dan nasihatmu terngiang slalu

Kuterbayang wajahmu ibu

Harapanku padamu sehatlah slalu

Lagu tersebut diciptakan di kamp Bukti Duri, Februari 1968.

Selain itu, Lagu Untuk Anakku dinyanyikan oleh Bonita, yang diciptakan oleh Heriyani Busono. Lagu itu berangkat dari kegelisahan para tahanan yang memikirkan ribuan anak berpisah dari orang tuanya karena tragedi politik.

Banyak dari mereka yang terpaksa meninggalkan anaknya yang masih kecil, sehingga ketika mereka sedang merindukan anaknya, lagu ini dinyanyikan untuk mereda rasa pedih akibat karena terpisah dari anak.

Dialita bersama musisi lain sukses menyanyikan lagu-lagu tersebut. Mereka berhasil membawa penonton larut ke dalam irama yang asik untuk diikuti, serta nuansa historis yang terkandung di dalamnya.

Selain karena pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan konteks ke-Indonesiaan dimana sedang terjadi situasi politik yang begitu panas, lagu-lagu ini berusaha untuk menyentuh anak muda dan khalayak mengenai peristiwa yang mereka alami.

Bonita, salah satu penggerak konser tersebut, berkata, “Ketemu ibu-ibu Dialita adalah sebuah jodoh dan benar ketika bertemu dengan mereka, beberapa tahun berteman dengan mereka, saya ada sedikit celah untuk bisa mencari tahu tentang sejarah keluarga saya.”

Konser tersebut diharapkan dapat membuka ruang diskusi agar anak muda dapat menemukan titik-titik yang hilang dari sejarah, serta mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi dibalik peristiwa 1965.

Bagi Ibu Uchikowati, salah satu anggota Dialita, ke depannya diharapkan anak-anak muda mau melanjutkan agar mereka dapat menikmati kemerdekaan, bebas dari rasa takut.

Dan, memang, sudah menjadi kewajiban anak muda untuk meluruskan sejarah. Negara ini tak akan menemukan perdamaian, jika kita masih terus-terusan memelihara, merawat, serta membenarkan genosida yang terjadi pada masa itu.

Karena apa yang terjadi pada perempuan-perempuan Dialita dan jutaan orang lainnya dapat terjadi pada siapapun, termasuk saya dan anda.

Ini adalah tanggung jawab kita sebagai penerus masa depan bangsa, bersama-sama merangkul mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM pada masa lalu. Demi masa depan yang lebih baik.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.