Ilustrasi pekerja. (Photo by Chevanon Photography from Pexels)

Stigma tentang perempuan yang bekerja terus berkembang hingga kini. Bakal ada orang yang selalu mempertanyakan pilihan hidup perempuan, mau jadi wanita karier atau ibu rumah tangga? Pertanyaan sejenis tidak pernah dilontarkan kepada lelaki, karena mereka tidak dibiasakan dari kecil untuk mengurus pekerjaan domestik. Sedangkan perempuan selalu dihadapkan dengan pilihan tersebut.

Masyarakat menjadi terobsesi mempertanyakan pilihan perempuan. Tentu saja perempuan bisa menjalankan keduanya: bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Namun, hal itu hanya makin membuat beban perempuan menjadi ganda, bahkan sampai berlipat-lipat. Kenapa kita tidak mulai membiasakan lelaki untuk bisa menjadi bapak rumah tangga yang juga bekerja? Lantas, kenapa sih masyarakat ini cenderung membenci perempuan yang bekerja?

Profesi tidak diakui

Di perkotaan, perempuan yang kerja sebagai pegawai negeri atau karyawan swasta akan lebih mudah diakui oleh negara. Namun, untuk perempuan yang tinggal di pelosok desa atau pesisir akan sulit diakui bahwa ia menjalankan profesinya. Sebagai contoh, nelayan perempuan sulit mendapatkan pengakuan bahwa ia berprofesi sebagai nelayan di kolom KTP-nya. Ia harus mengubah kolom pekerjaannya dari ibu rumah tangga menjadi nelayan, dan ini adalah proses panjang.

Baca juga: Perempuan Boleh Bekerja, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku?

Mengapa pengakuan ini penting untuk para nelayan perempuan? Karena pekerjaan ibu rumah tangga dalam KTP membuat nelayan perempuan tidak mendapatkan kartu asuransi nelayan. Padahal, saat itu menterinya juga perempuan, lho.

Begitu pula dengan seorang teman yang merupakan janda anak satu. Setiap ia mengurus dokumen, petugas selalu memaksakan untuk menulis ibu rumah tangga, padahal ia seorang mahasiswa.

Kita bisa lihat bahwa negara dan masyarakat menolak bahwa identitas perempuan bisa beragam dan berlapis. Perempuan cenderung hanya dilihat ‘seragam’, yaitu ibu rumah tangga. Perempuan yang menikah cenderung auto-ibu rumah tangga. Di zaman Orde Baru, pekerjaan perempuan yang menikah akan ditulis “ikut suami” dalam KTP. Namun dalam beberapa dekade ini, ditulis “mengurus rumah tangga”. Hal itu juga turut membuat identitas perempuan hilang dan melebur bersama suaminya.

Baca juga: Sebut Saja Namanya, Bukan Nama Suami atau Lainnya

Tidak suka perempuan memiliki uang

Dalam buku Perempuan dan Perburuan Penyihir karya Silvia Federici diceritakan asal mula bagaimana perempuan yang memiliki tanah dan properti diburu dan dibakar hidup-hidup. Begitu pula dengan perempuan-perempuan yang menciptakan bir di zaman Viking hingga Mesir. Namun, produksi bir kemudian direbut oleh lelaki untuk dikapitalisasi. Perempuan yang membuat bir dituduh sebagai penyihir dan tersingkir.

Banyak pekerjaan perempuan yang sebenarnya menghasilkan uang direbut oleh lelaki untuk dikapitalisasi, kemudian perempuan disingkirkan dan mengalami domestikasi. Kalaupun bisa bekerja, perempuan yang sudah menikah akan dikenakan potongan pajak yang lebih besar daripada lelaki yang sudah menikah. Hal ini karena negara tidak menganggap perempuan yang bekerja sebagai pemberi nafkah, melainkan hanya pemberi nafkah tambahan.

Karena anggapan bahwa perempuan bekerja hanya untuk membantu suami menafkahi keluarga, ia dilihat tidak perlu digaji banyak-banyak. Perempuan kemudian ditempatkan dalam pekerjaan yang dianggap remeh, padahal membutuhkan kerja yang lebih keras dan keterampilan tinggi, seperti menjadi sekretaris dan buruh pabrik garmen.

Baca juga: Suka Ledekin Orang yang Melajang, tapi kalau Kepepet Suka Pinjam Uang

Ibu-ibu PKK yang bekerja memberdayakan posyandu dan warga sekitar juga sering kali dikasih beras, bukan uang. Namun, jika lelaki yang bekerja untuk masyarakat sekecil apapun itu, ia akan dikasih ‘uang rokok’ yang bisa dinikmati sendiri. Namun, perempuan tidak bisa membeli hal yang dia suka dengan beras. Hingga hari ini, masyarakat kita tidak suka melihat perempuan yang menikmati hasil jerih payahnya sendiri.

Sering kali perempuan yang menjadi ibu dan bekerja dibuat merasa bersalah, karena membeli barang yang dia suka untuk dirinya sendiri. Saya sendiri dulu sering menemukan ibu diam-diam membeli hal yang dia suka. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh beberapa teman, dimana ibunya sering dirundung oleh tetangga karena membeli sesuatu yang dia suka.

Perempuan yang memiliki gaya hidup mewah dari hasil kerja kerasnya sendiri dianggap sebagai sebuah ancaman. Banyak yang mengira bahwa karena gaya hidupnya yang tinggi, ia akan menuntut lelaki untuk menunjang gaya hidupnya, padahal tidak ada yang minta.

Artikel populer: Tantangan Perempuan Kelas Menengah saat Menjadi Orangtua

Perempuan selalu dibuat merasa bersalah karena menikmati hasil kerjanya sendiri dengan berbagai sebutan, mulai dari “high maintenance”, “matre”, hingga yang terbaru adalah “mbak-mbak SCBD”.

Apa yang dialami perempuan hari ini tidak terjadi semata-mata karena satu-dua orang melakukan kesalahan atau tidak menyukai perempuan yang bekerja, namun terjadi secara sistematis. Penyebabnya adalah Undang-Undang Perkawinan yang melihat perempuan sebagai pemberi nafkah tambahan, bukan pemberi nafkah. Padahal, banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena gajinya yang lebih besar atau karena ia adalah orangtua tunggal. Belum lagi, kalau dia seorang ‘sandwich generation‘.

Bukankah dalam konstitusi negara kita, perempuan dan lelaki memiliki kesempatan yang sama? Lantas mengapa untuk urusan pekerjaan, kita masih dibatasi dan dihalang-halangi untuk mendapatkan upah layak?

1 KOMENTAR

  1. Haii dea, saya membaca dari artikel mu, kamu sepertinya sangat membangkaan wanita, tapi itu tidak salah.
    tetapi ada aturan yang harus di jalan kan :).
    artikel kamu bagus aku suka

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini