Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Ilustrasi (Jess Foami via Pixabay)

Seksualitas sebagai bagian dari hak reproduksi ternyata tak bisa leluasa diekspresikan oleh perempuan. ‘Moralitas’ terlampau mendobrak batas privasi sampai perilaku seks pun diatur dengan jantan.

Sistem yang kadung mendarah daging dalam masyarakat seperti itu menilai bahwa perempuan tidak cukup rasional untuk mengatasi perilakunya sendiri. Sehingga perlu pengarahan dari jenis kelamin lain yang dianggap lebih rasional dalam memilih keputusan.

Sayangnya, keadaan ini tidak disadari kebanyakan perempuan. Mereka ikhlas menyerahkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang patuh terhadap bentuk ‘moralitas’ tersebut.

Mereka turut melahirkan dan menumbuhkan pikiran-pikiran yang menomorduakan mereka. Oke, tidak masalah selama perempuannya nyaman. Begitu saja, toh tujuan hidup hanya untuk meraih kedamaian lahir batin. Bukan begitu, Marimar?

Nyatanya, sebagaimana yang kita tahu, perempuan rentan mengalami ketidakadilan karena identitas gendernya. Konstruksi sosial membentuk perempuan sebagai bagian ketidakberdayaan yang harus dibenahi. ‘Sosok yang lain’ seperti yang dikemukakan Simone de Beauvoir cenderung tak dianggap sebagai individu seutuhnya, melainkan makhluk yang secara kebetulan ada dan berlawanan dengan makhluk esensial.

Baca juga: Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Perempuan menjadi terpinggirkan hanya karena lahir sebagai makhluk yang memiliki rahim dan vagina, serta segala jenis hormon keperempuanan yang menyertai emosionalnya.

Ketidakadilan berperilaku sebagai makhluk seksual tersebut bersumber dari fungsi reproduktif tunggal yang dialamatkan pada perempuan. Untuk mempertahankan eksistensi sebagai makhluk hidup, manusia harus berketurunan. Dan, rahim di dalam tubuh perempuan diatur sedemikian rupa agar keturunannya sesuai dengan kehendak yang telah memiliki standar baku dari masyarakat.

Padahal, otonomi seksual dan reproduktif adalah hak asasi setiap manusia, seharusnya diberikan utuh kepadanya. Hak-hak tersebut lahir dan tidak boleh dipisahkan dari dirinya sendiri.

Ketimpangan menilai perilaku seksualitas hanyalah salah satu cacat gender di masyarakat kita. ‘Moralitas’ mengatur kehormatan perempuan, perilaku seksual perempuan harus terbungkus rapi oleh aturan dalam masyarakat, disembunyikan, tidak perlu dikeluarkan dari cangkangnya.

Baca juga: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Penolakan terhadap hak-hak reproduksi atas diri sendiri di masyarakat kita dinilai bersifat individualistis, mengabaikan kepentingan kelompok. Padahal, seharusnya bangsa dan negara wajib melindungi kebebasan personal warganya dari sistem sosial yang tidak simetris ini.

Bukan hanya ekspresi seksual di berbagai media yang saat ini membanjiri dunia maya, rumah tangga sebagai satu-satunya hubungan seksual yang sah di mata sosial pun tidak luput dari ketidakadilan.

Perilaku seks antar laki-laki dan perempuan dibentuk berbeda. Laki-laki boleh mengekspresikan seksnya seperti meminta terlebih dahulu, menuntut gaya bersetubuh, kapan dan di mana, bahkan tumpahnya sperma sebagai klimaks bersetubuh ditempatkan sebagai ukuran dalam kepuasan hubungan seks.

Sedangkan perempuan dituntut menerima perlakuan tersebut seolah-olah perempuan yang berinisiatif lebih dulu meminta hubungan seks, menolak permintaan, atau menuntut kepuasan adalah perempuan yang menolak kodratnya.

Klimaks hubungan seksual disebut orgasme, dimana seluruh saraf meninggi dan seketika meloyo setelah pelepasan. Orgasme antara laki-laki dan perempuan memang agak sedikit berbeda. Tidak semua perempuan mengalaminya, padahal orgasme adalah puncak kesenangan dalam hubungan seks.

Baca juga: Perempuan Berpakaian Mini Adalah Penebar Teror Dosa, Ah Masa?

Itulah kenapa, membahas orgasme tidak melulu soal lepasnya sperma dari sarangnya, membicarakan orgasme dengan perempuan tidak serta-merta menjatuhkan kejantanan, kok.

Sama halnya dengan masturbasi yang akhir-akhir ini ramai dibahas. Konon, masturbasi hanya normal dilakukan oleh laki-laki, itu pun boleh berjamaah sambil nobar bokep. Namun, membicarakan masturbasi di kalangan perempuan dianggap memalukan. Mengapa? Apakah  perangsangan seksual perempuan pada tubuhnya dianggap abnormal, sementara laki-laki sah saja?

Tidak banyak perempuan yang berani tampil di muka umum untuk mewakili kaumnya dalam berekspresi. Perempuan enggan menggedor aturan masyarakat. Atau, malah memilih bungkam saja daripada diserang cibiran.

Kadang kala memang perempuan juga menghindari membicarakan seks di muka umum untuk mengamankan dirinya. Blak-blakan soal seks sama saja mengarahkan diri ke unsafe behaviour yang sampai sekarang masih dijadikan dasar untuk menyalahkan korban pelecehan seksual.

Artikel populer: Fenomena Salmafina, Selebgram dan Feminis yang Melepas Hijab

Orang-orang di luar sana terlalu mudah melabeli perempuan dengan kata binal atau pelacur. Apalagi, banyak laki-laki yang dengan santai mengajaknya bobo bareng hanya karena perempuan itu lugas membicarakan seksualitas mereka.

Cacat gender seperti ini sebenarnya bisa saja diperbaiki, asal ekspresi seksualitas perempuan diberikan wadah yang aman. Namun, sayang sekali, tempat kita sekarang jauh dari ekspektasi seperti itu. Ruang diskusi tentang seks masih sangat jarang, sehingga orang-orang masih menganggapnya tidak layak dibicarakan karena ranahnya cuma dalam batas rumah tangga – harus berada dalam frame pernikahan.

Padahal kenyataannya, sangat sedikit anggota rumah tangga yang gamblang mendiskusikan seks sebagai bagian dari interaksi personal. Yang ada malah ketimpangan. Dan, lagi-lagi, kodrat perempuan tampaknya masih mengikuti arti kata ‘wanita’: wani ditoto – yang patuh. Bukan empu – kehormatan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.