Teruntuk Kamu yang Ngeres kalau Lihat Perempuan Indonesia sama ‘Bule’

Teruntuk Kamu yang Ngeres kalau Lihat Perempuan Indonesia sama ‘Bule’

Ilustrasi (Allef Vinicius/unsplash.com)

Pada suatu siang, seorang teman baik tiba-tiba bertanya acak, apa yang saya rasakan ketika orang memandangi atau terkadang bertanya langsung dengan tatapan dan pertanyaan menuduh? Menuduh bahwa saya adalah perempuan Asia, tepatnya Indonesia, yang hanya mencari pundi-pundi uang dari pria kulit putih, atau hanya digunakan sebagai sumber seks saja.

Saya bertanya balik, bagaimana perasaannya saat orang lain memandanginya dengan tatapan menuduh yang sama? Menuduh bahwa dia adalah pria kulit putih sampah masyarakat Amerika yang datang ke Asia untuk wisata seks, dan sekadar diuntungkan karena kurs mata uang.

Lalu kami cuma bisa tertawa. Saya jadi teringat seorang pengemudi taksi di Bali yang bertanya apakah ‘tamu’ saya juga membayari ongkos transportasi dan makan di luar ‘tarif’ yang saya pasang. Saat itu saya dan seorang teman laki-laki sedang melakukan tugas kantor di Bali.

Atau, banyak juga pegawai restoran yang sering kali bersikap tidak ramah kepada saya, tapi baik betul kepada teman yang Kaukasian. Bahkan, mereka juga sering kali tidak percaya kalau saya memberi kartu untuk membayar dan tetap meminta tanda tangan kepada si kawan yang ‘bule’.

Suatu waktu, seorang satpam di apartemen di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, juga pernah menuduh saya sebagai pekerja seks, ketika saya membantu menyewa unit harian di apartemen tersebut untuk seorang teman kantor yang berkunjung tiga hari saja di Jakarta. Kebetulan si teman juga laki-laki kulit putih.

Banyak orang memang paling senang mengurusi moral serta selangkangan orang. Tak heran kalau ada pasangan diarak bugil saat sedang ngobrol-ngobrol santai, atau muncul ide untuk ngintip orang pacaran lalu merisak mereka lewat media sosial. Atau, bisa jadi juga, banyak yang sekadar nyinyir sesaat, sesudah itu palingan lupa.

Persoalannya, nyinyir bisa jadi bukan sesuatu yang benar-benar sesaat. Ada persoalan subtil yang jauh lebih penting dari nyinyir itu sendiri. Nyinyir adalah katalis dari keberadaan pola pikir tertentu, prasangka tertentu.

Ketiadaan prasangka buruk tak akan membuat seseorang berpandangan buruk mengenai sesuatu hal, dan tidak akan berujung pada nyinyir. Ketiadaan prasangka buruk tak akan membuat seseorang atau sekelompok masyarakat mengurusi remeh-temeh kehidupan orang lain.

Prasangka buruk dan pola pikir ini yang berbahaya. Nyinyir yang tadinya tampak tak berbahaya bisa jadi berakar dari kenyataan bahwa masyarakat melihat perempuan dari rasnya sendiri dengan begitu rendah.

Perempuan, atau perempuan Indonesia dalam hal ini, dianggap sebagai entitas yang tidak bisa setara dengan laki-laki, khususnya laki-laki berkulit putih. Perempuan juga dilihat sebagai entitas yang tidak akan pernah bisa mencapai titik tertentu kalau tanpa bantuan laki-laki.

Sebab itu, perempuan yang berada pada waktu tertentu, tempat tertentu, atau posisi tertentu, selalu dianggap terkait dengan keberadaan laki-laki.

Bisa jadi juga tuduhan tersebut terkait dengan keterbiasaan melihat perempuan sebagai entitas domestik yang hanya boleh gagah di dapur, sumur, dan kasur. Juga keterbiasaan mengasosiasikan ‘budaya barat’ dengan film Hollywood kualitas rendah yang melulu memasukan unsur seks untuk berjualan.

Padahal, film Hollywood yang buruk lebih sering lebay alih-alih benar. Ini semacam nonton film Ranjang yang Ternoda dan Gairah Terlarang lalu menuduh semua orang Indonesia begitu semua.

Sebab itu, ketika melihat perempuan berada di luar ranah tersebut, tak ayal terjadi kegagapan berpikir. Bagi sebagian orang, kegagapan ini akhirnya dijawab dengan jalan pintas bahwa perempuan pasti hanya menggunakan seksualitasnya untuk bisa mencapai posisi tertentu.

Hal ini juga berlaku dalam pekerjaan. Pernah dengar orang menuduh seorang perempuan bisa naik jabatan karena memiliki affair dengan bosnya, atau karena pandai ‘melayani’ klien? Gosip dan kenyinyiran tanpa dasar macam ini juga salah satu bentuk kegagapan berpikir.

Lebih lanjut, secara umum, hal ini menjadi jauh lebih bahaya dari pada sekadar nyinyir. Nyinyir hanyalah puncak gunung es dari persoalan bagaimana sekelompok orang merendahkan perempuan, dan merendahkan bangsanya sendiri. Namun, semoga saya salah, semoga ini hanya kejadian acak dan bukan berakar pada kultur yang misoginis.

Kabar baiknya, tentu saja tak semua orang memiliki anggapan demikian. Mereka yang penuh prasangka buruk terhadap hal yang tak dipahami, atau terhadap budaya yang berbeda, biasanya jarang melakukan perjalanan interkultural.

Perjalanan yang saya maksud bisa saja perjalanan fisik, tapi saya ingin menekankan pada perjalanan mental saat menyerap dan memahami keberadaan budaya dan nilai-nilai yang berbeda.

Memandang perempuan, atau orang lain, siapapun, sebagai manusia yang setara seharusnya adalah sesuatu yang inheren tanpa harus belajar dari perjalanan interkultural.

Karena saat menuduh-nuduh orang lain berdasarkan rasnya, bukankah artinya juga merendahkan diri sendiri? Seolah siapapun yang berasal dari bangsa yang sama tak bisa setara dan berada dalam hubungan yang sepadan dengan bangsa lain yang dianggap lebih tinggi.

2 COMMENTS

  1. ketiwa wanita lokal mendampingi warga non lokal dari bangsa manapun memang ada yg berasumsi “nakal. Pun demikian saya ini cowok, ketka saya bersama rekan kerja yang “bukan lokal” saya dianggap sebagai drivernya (maaf bukan berarti merendahkan driver). Padahal ada kalanya “non lokal” tersebut adalah levelnya sama atapun ada juga yang dibawah saya. Apakah memang bangsa kita masih banyak yang berpandangan bahwa kita ini kalah kualitas?

  2. Mungkin bukan faktor kultural yg membuat adanya pandangan seperti itu, bisa jadi karena dipengaruhi kebiasaan masyarakat dalam sudut pandang tertentu

    Hal ini bisa saja menjadi relatif karena menempatkan pada pandangan subjektif masing2, tapi yg urgent untuk dilakukan adalah belajar dan memahami lagi untuk kembali k sebagaimana mestinya

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.