Lagi-lagi Perempuan Ditimbang dari Berat Badannya

Lagi-lagi Perempuan Ditimbang dari Berat Badannya

Ilustrasi via Pixabay

Di linimasa media sosial sempat beredar video seorang ustaz muda yang konon sedang menjadi idola anak remaja kekinian. Keponakan saya yang ikut organisasi keagamaan di sekolahnya kenal betul sama beliau ketimbang almarhum Zainuddin MZ. Ya kali beda generasi juga sih.

Di video yang beredar, ustaz muda tersebut mengatakan bahwa salah satu ciri wanita solehah mempunyai berat badan maksimal 55 kg. Entah apa maksudnya, tapi ia ‘membawa-bawa’ nama istri Nabi dalam ceramahnya.

Lha, ini ngomong soal perempuan kok bahas timbangan badan? Masa sih, berat badan juga menjadi timbangan seberapa solehahnya seorang perempuan? Bukannya dari timbangan seberapa taat dia menjalankan ibadah? Aih..

Lantas, bagaimana dengan perempuan yang berat badannya di atas 55 kg, terlebih yang berbadan gemuk?

Konon, menurut riset Universitas Queensland, Australia, salah satu alasan perempuan menjadi gemuk karena mereka bahagia dengan pasangannya.

When couples don’t need to look attractive and slim to attract a partner, they may feel more comfortable in eating more, or eating more foods high in fat and sugar.” Itu kata Dr Stephanie Schoeppe yang jadi kepala penelitian.

Jangan lupa bahagia, ah!

Dari dulu segala ’standar kesempurnaan’ seorang perempuan memang ambigu. Namun, ada satu hal yang sama bahwa ‘standar kesempurnaan’ perempuan tidak dibentuk oleh perempuan sendiri, tapi oleh kultur patriarki.

Coba tengok orang tua kita dahulu, bagaimana mereka mengajarkan pada anak-anak gadisnya untuk menjaga penampilan, harus begini-begitu, makan ini-itu, melakukan sebuah lelaku agar terlihat cantik, sehingga bisa menarik hati para lelaki.

Sama halnya dengan ceramah ustaz tadi yang sangat seksis, karena ia menakar kualitas perempuan yang salah satunya dari berat badan.

Di negeri kita sendiri, sejarah mencatat bahwa perempuan-perempuan pilihan para raja, para penggede, dan tuan tanah juga tak jauh-jauh dari tipe perempuan yang sama, yang ayu, yang cantik, yang sempurna bentuk badannya.

Nggak ada judulnya, entah hikayat, dongeng, ataupun cerita rakyat yang menyebutkan bahwa seorang ratu, puteri, ataupun para nyai memiliki wajah yang jelek, bertubuh tambun, dan lainnya. Hampir semuanya dibentuk sama bahwa para perempuan pilihan ini adalah gambaran perempuan yang ‘sempurna’.

Dan, semakin ke sini, ‘standar kecantikan yang sempurna’ seorang perempuan tak jauh berbeda. Namun, kali ini ada tangan-tangan lain yang ikut bekerja, yaitu tangan-tangan kapitalis yang membujuk, merayu, serta menghipnotis agar perempuan tak pernah puas hingga kecanduan dengan apa yang namanya ‘standar kecantikan’.

Lewat tangan media, publik disodori gambaran ‘kesempurnaan’ seorang perempuan: berkulit putih bersih, tubuh harum mewangi, wajah tak berjerawat dengan bibir merekah penuh, hidung mancung, mata bulat, dan rambut halus tergerai sempurna.

Tak hanya itu, bentuk badan yang katanya seksi memiliki bentuk kaki yang panjang, dada penuh, pinggul berisi, perut rata, dan lingkar pinggang tak jauh berbeda dengan ukuran lingkar gelas air minum.

Fuihh… Ada lagi?

Lalu, para produsen kosmetik pun tumbuh bak cendawan di musim hujan, menjual apa yang ’dibutuhkan’ para perempuan. Mulai dari serial kosmetik pemutih, pemulas bibir beraneka warna, hingga obat-obatan dan alat-alat ’kesehatan’ yang katanya mampu membantu seorang perempuan agar tampak awet muda, seksi, mulus sempurna.

Apa selesai di situ saja? Ternyata tidak.

Ada banyak kompetisi kecantikan dengan gelar ratu-ratuan, puteri-puterian, hingga para perempuan kembali terjebak dalam ‘standar kecantikan’ yang sama. Standar bentuk selera masyarakat patriarkis.

Tak hanya wajah dan bentuk tubuh yang dirawat dan dibentuk dengan alat-alat ‘kesehatan’. Dengan dalih demi kecantikan, serta permintaan pasar yang tak sedikit, lalu muncul klinik-klinik dengan embel-embel milik dokter A, B atau C yang mau mengayomi para perempuan yang merasa bentuk tubuhnya kurang sempurna dengan jalan operasi plastik.

Setelah itu, apa gunanya wajah dan tubuh yang sempurna, jika tidak ditunjang penampilan yang cetar membahana?

Dan, hwalaaa.. tengoklah industri fesyen yang telah mengubah banyak pola pikir, dari kebutuhan sandang yang tadinya hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, sekarang berfungsi ganda. Tak hanya estetika, tapi juga memenuhi gengsi.

Kaki yang dahulu cukup dialasi dengan sandal, sekarang memiliki lebih dari satu jenis alas kaki. Mulai dari sandal beraneka warna, rupa serta jenis, hingga sepatu yang juga tak kalah banyak macam dan kondisinya.

Ini semua baru sebagian kecil efek hipnotis yang dilakukan oleh para kapitalis terhadap perempuan. Kita belum berbicara tentang tas, aksesoris, kendaraan, hingga gadget yang lagi-lagi katanya khusus untuk perempuan.

Bayangkan, bahkan ponsel pun punya gender, hanya karena dirancang khusus untuk perempuan dengan warna-warna yang manis, warna yang katanya disukai perempuan. Padahal, fitur dalam ponsel tersebut sama dengan jenis lainnya.

Apalagi, kalau kita bicara kendaraan yang katanya juga dibuat khusus untuk perempuan. Mereka menjual isu bahwa kendaraan tersebut ramah dan nyaman dipakai perempuan.

Lha, ini kita ngomong kendaraan lho, mesin, apa iya mesin bisa ramah kalau kita mengemudi dan mengendalikannya acak adul nggak karuan?

Lagipula, apa bedanya dengan mesin kendaraan yang lain, yang katanya lelaki banget? Apakah para motor dan mobil itu punya alat kelamin? Nggak tho?

Dan, akibat ini semua, banyak perempuan yang lebih mementingkan kebutuhan estetika ketimbang memenuhi kebutuhan primernya. Seperti makan, misalnya. Banyak yang kemudian mengurangi asupan makanan yang masuk ke tubuhnya dengan alasan menjaga kelangsingan tubuh.

Hal ini jelas menggeser jauh konsep Teori Hierarki Kebutuhan ala Maslow. Kebutuhan fisiologis pada akhirnya tergeser, bukan lagi sebagai kebutuhan primer hidup seorang manusia.

Banyak yang akhirnya terjebak lebih mementingkan esteem needs atau kebutuhan akan penghargaan dari orang lain sebagai kebutuhan primer dalam hidupnya.

Pada akhirnya, gaya hidup dan selera masyarakat patriarkis sebagai sobat karib kapitalis menjebak para perempuan untuk memenuhi standar-standar tertentu. Dan, banyak perempuan yang menyakiti dirinya sendiri untuk itu.

Sedih…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.