Perempuan dalam Lingkaran Orang-orang Terpelajar yang Sontoloyo

Perempuan dalam Lingkaran Orang-orang Terpelajar yang Sontoloyo

Ilustrasi (Prawny via Pixabay)

Suatu kali, seorang kawan – sebut saja A – membatalkan kegiatan yang sudah kami jadwalkan beberapa waktu sebelumnya. Hari itu, seharusnya kami pergi menonton pertunjukan drama.

Namun, secara mendadak, dia memutuskan untuk mendekam di kosan. Tentu saja saya kesal, dan segera meminta dia untuk memberikan alasan yang rasional.

Tidak butuh waktu lama bagi dia untuk bercerita tentang apa yang menimpanya. Menurut dia, seorang kawan laki-laki – sebut saja B – memeluk dan nyaris menciumnya ketika dia mampir untuk mengambil barang yang tertinggal.

Saya terkejut, dan tentunya A lebih terkejut plus ketakutan. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah memintanya untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.

Ketika itu, dia bertanya berkali-kali, apakah memakai tank top dan jaket membuatnya tampak menggoda? Apakah dia salah, ketika tidak bersikap tegas hanya karena laki-laki itu adalah kawan dekat? Apakah itu termasuk pelecehan seksual?

Saya memang tidak memberikan kalimat-kalimat yang menenangkan. Sebab, si A lebih butuh untuk didengarkan, bukan digerecoki dengan berbagai macam nasihat yang biasanya malah menyudutkan.

Rasanya sulit percaya ketika peristiwa yang biasanya bertebaran di media sosial, ternyata bisa menjadi sedekat itu. Mungkin Anda juga punya cerita yang serupa?

Beberapa hari kemudian, saya dan A berdiskusi tentang konsep consent dalam berhubungan. Diskusi tidak berlangsung lama hingga A mengaku bahwa kawan yang tadi menyebutnya berlebihan dan tidak tahu untung. Itu karena A dianggap masih single dan sepatutnya merasa bersyukur ada orang yang ingin mencium.

Saya pun marah. Terlebih, si B dan kawannya adalah sahabat A. Setiap malam, B dan kawannya itu datang untuk berdiskusi, sebab mereka termasuk orang yang terbuka dengan wacana dan pemikiran-pemikiran baru. Mereka tahu mana hoaks, mana bukan. Mereka juga rutin membeli buku dan rajin menulis.

Sementara itu, kawan saya yang lain – sebut saja C – dihajar habis-habisan ketika memegang gawai milik pasangannya. Sekadar informasi, pasangan si C sempat dipercaya untuk memimpin sebuah kelompok. Dia juga besar dalam komunitas literasi.

Belum berhenti di situ, seorang kawan yang lain lagi – sebut saja D – juga sempat dicaci-maki oleh pacarnya dengan sebutan yang penuh dengan stigma negatif terhadap perempuan. Padahal, pacar si D adalah salah satu orang yang saya hormati karena pengetahuannya luas.

Saya pun memiliki grup WhatsApp berisi teman-teman yang penuh dengan semangat intelektualitas. Kami saling berbagi bacaan, sumber informasi, ataupun data-data terbaru.

Tapi saya harus menahan diri untuk tidak membanting ponsel, ketika beberapa kali mereka – yang sebagian besar anggotanya adalah laki-laki – menjadikan sosok perempuan sebagai guyonan.

Lebih keterlaluan lagi ketika seorang perempuan masuk dalam lingkaran candaan yang sama sekali tidak lucu. Tak usah kaget ketika teguran untuk tidak seksis hanya sebatas angin lalu. Segera meninggalkan grup WA tersebut tampaknya pilihan yang tepat.

Beberapa cerita di atas tentu hanya secuil dari mereka yang mau bersuara, meskipun setelah itu tenggelam lagi. Sisanya memilih untuk bungkam atau menutupi habis-habisan seolah tidak ada apa-apa.

Saya bahkan pernah berjumpa dengan perempuan yang matanya lebam setelah bertemu pacarnya, dan ia masih saja bilang bahwa semuanya baik-baik saja.

Mereka sebetulnya termasuk orang-orang yang beruntung karena mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Tetapi, ternyata, orang-orang dengan pemikiran terbuka pun masih tidak bisa lepas dari sikap seksis yang memuakkan.

Beberapa di antaranya masih memandang perempuan sebagai warga kelas dua. Mengapa laki-laki bisa dengan gampangnya memberikan penafsiran terhadap makhluk di luar dirinya?

Sebagai seorang perempuan yang masih berkutat di dalam ranah akademis, saya pernah berada dalam lingkungan orang-orang yang memandang remeh perempuan pembaca, pun dengan perempuan yang berani mengutarakan pendapatnya.

Saya pun mengenal orang-orang yang beberapa kali terlibat diskusi gender ternyata tidak lebih daripada seorang pelaku. Sontoloyo!

Sampai saat ini, saya masih mengamini perkataan dari Mansour Fakih bahwa permasalahan gender adalah satu dari sekian ketiadakadilan tertua yang ada di dalam masyarakat.

Mungkin, salah satu alasan mengapa ketidakadilan ini masih mengakar bahkan di antara orang-orang terpelajar karena mempertanyakan permasalahan ini sama artinya dengan mempersoalkan sistem dan struktur sosial yang sudah mapan.

Atau, lebih gampangnya begini. Sedari kecil, kita memang terlahir dalam kondisi lingkungan yang misoginis. Tapi, sampai kapan harus berdiam diri atau menutup-nutupi seolah tidak terjadi apa-apa?!

1 COMMENT

  1. QUOTE: “Lebih keterlaluan lagi ketika seorang perempuan masuk dalam lingkaran candaan yang sama sekali tidak lucu. Tak usah kaget ketika teguran untuk tidak seksis hanya sebatas angin lalu. Segera meninggalkan grup WA tersebut tampaknya pilihan yang tepat.”

    Lebih tolol lagi kalau sesama perempuan malah ketawa kaum mereka dijadikan becandaan seksis. Makanya Indonesia nggak maju-maju kalo becandaannya masih sampah begini!

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.