Ilustrasi perempuan. (Image by Pexels from Pixabay)

Pernahkah kamu mendengar bahwa istri yang bekerja harus mutlak izin suami, harus tetap mengerjakan tugas domestik, harus tetap masak, harus tetap cantik pas pulang ke rumah? Apalagi kalau gaji istri lebih besar ketimbang suami, ini dijadikan semacam peringatan agar para lelaki lebih berhati-hati.

Tempo hari beredar infografis yang menyatakan bahwa istri yang bekerja di luar rumah harus menyiapkan sarapan dan baju untuk suami, kemudian istri dilarang berangkat duluan sebelum suami berangkat dan diminta pulang sebelum suami pulang. Istri juga diminta untuk tidak terlihat mengenakan baju kantor atau baju dinas saat pulang ke rumah, karena dapat membuat suami merasa tidak nyaman.

Entah mengapa lelaki bisa merasa tidak nyaman dengan perempuan mengenakan baju kantor. Apakah karena perempuan tampak kucel dan bau badan sehabis bekerja atau karena baju kerjanya yang membuat lelaki merasa tidak percaya diri karena melihat perempuan bekerja? Aneh banget.

Baca juga: Tantangan Perempuan Kelas Menengah saat Menjadi Orangtua

Di zaman Orde Baru, perempuan diperbolehkan bekerja asalkan tidak meninggalkan kewajibannya. Embel-embel “asalkan” dan “kewajiban” selalu ditempelkan sepaket. Apa sih kewajiban perempuan itu? Mengerjakan tugas domestik? Memangnya kalau punya rahim dan vagina, ada tulisan bahwa organ ini digunakan untuk ngepel dan masak? Ini yang selalu bikin blunder.

Kenapa lelaki tidak pernah diingatkan untuk tidak meninggalkan kewajibannya juga, yaitu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, dan memasak? Lagi pula, bukankah anak menjadi tanggung jawab bersama?

Seharusnya perempuan yang bekerja itu tanpa embel-embel “asalkan”, apalagi ada syarat dan ketentuan berlaku yang berkaitan dengan pekerjaan domestik. Sebab pekerjaan domestik sebenarnya bisa dikerjakan bersama-sama. Embel-embel tadi memberi kesan seolah-olah perempuan tidak punya hak utuh sebagai manusia untuk bekerja. Padahal, itu juga hak perempuan tanpa syarat dan ketentuan berlaku.

Baca juga: Sebetulnya Apa yang Dicari Perempuan dengan Menunda Pernikahan?

Belum lagi, kalau gaji perempuan lebih besar dari lelaki. Perempuan seakan-akan menjadi makhluk yang ditakuti para lelaki. Mereka merasa takut direndahkan, seperti yang mereka kerap lakukan kepada perempuan selama ini.

Kalau memang takut dengan perempuan yang mandiri dan bisa menghasilkan uang sendiri, kenapa tidak berusaha bersikap lebih baik daripada menyebarkan mitos sesat tentang perempuan yang bekerja? Hari gini, kita tahu bahwa untuk dapat menghidupi keluarga, kedua pasangan harus bekerja.

Mitos tentang perempuan bekerja lagi-lagi sengaja diproduksi dan disebarluaskan agar perempuan tunduk dan patuh, tapi tidak dengan lelaki. Lelaki bisa bebas melakukan apa saja seolah-olah itu sudah menjadi hal yang normal.

Mitos dan hoaks itu juga menyebabkan perempuan diupah murah. Akibatnya, apa-apa harus menunggu izin suami, perempuan tidak akan bisa bergerak leluasa untuk meningkatkan kariernya. Bisa jadi ia terjebak dan akhirnya terus-terusan diupah murah di tempat ia bekerja.

Baca juga: Perempuan Kritis dan Suka Debat, Apa Iya Dijauhi Laki-laki?

Selain itu, mitos tersebut melanggengkan subordinasi terhadap perempuan di tempat kerja. Perempuan yang lebih banyak bekerja sebagai pegawai akan dipaksa tunduk oleh atasan. Ia pun tidak akan pernah punya kuasa dan daya untuk melawan, jika ia dizalimi oleh atasannya. Hal ini pula yang menyebabkan perempuan rentan mengalami kekerasan seksual.

Perihal “izin suami” untuk bekerja ini sangat problematik. Bagaimana jika suami sakit parah, tapi istri tetap disuruh menunggu izin suami? Padahal, kerja adalah hak dasar manusia, termasuk perempuan. Sama halnya dengan hak untuk hidup dan bernapas.

Jika masih ada lelaki yang masih memaksakan perihal izin serta syarat dan ketentuan berlaku kepada perempuan yang memilih untuk bekerja, maka ia tak layak menjadi pasangan kita. Yang ada, lelaki semacam itu hanya menjadi beban hidup. Sebab apa yang ia lakukan merupakan kekerasan ekonomi.

Artikel populer: Cinta Bisa Mengubah Laki-laki? Itu Hanya Dongeng

Kekerasan ekonomi adalah kondisi dimana seseorang dibatasi kebebasannya, diintimidasi, dan dikendalikan lewat hal-hal yang berhubungan dengan finansial.

Pada 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 19,5% perempuan pernah mengalami kekerasan ekonomi berupa larangan bekerja oleh pasangan. Lantas, bagaimana perempuan bisa berdaya mengembangkan diri kalau ia masih bergantung secara finansial kepada lelaki?

Menyebarkan mitos dan hoaks tentang perempuan bekerja bisa berujung pada kekerasan ekonomi dan pemiskinan perempuan. Apalagi, pengeluaran perempuan banyak sekali, terutama saat menstruasi. Maka tak heran, jika wajah kemiskinan Indonesia adalah perempuan. Terlebih, kalau perempuan tak diperbolehkan sekolah dan dipaksa menikah muda.

Rentetan dari pembatasan terhadap perempuan perihal bekerja ini panjang sekali. Jadi, jangan sepelekan mitos-mitos yang melarang perempuan bekerja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini