Kadang Perempuan Belanjanya Suka Lama, Lho Memang Kenapa?

Kadang Perempuan Belanjanya Suka Lama, Lho Memang Kenapa?

Ilustrasi (Joshua Rawson-Harris via Unsplash)

Saya pernah menemukan postingan gambar di media sosial yang intinya memaparkan bahwa perempuan lebih lama dalam berbelanja dibanding laki-laki. Banyak yang menjadikan itu sebagai bahan guyonan, terutama laki-laki.

Namun, perempuan sendiri juga banyak yang langsung mengakui. Ya memang kalau belanja suka gitu. Bisa keliling-keliling dulu di dalam mal sampai tiga jam lebih, nyoba ini-nyoba itu, terus membandingkan harga dan produknya, sebelum akhirnya udahan.

Bahkan, ada pula yang masih sempat mampir di resto atau kafe favorit untuk melepas lelah. Ada yang sekalian makan atau sekadar ngopi-ngopi cantik. Habis itu tinggal pulang atau lanjut ke kegiatan lain.

Beda dengan kebanyakan laki-laki yang biasanya langsung ke satu-dua tujuan. Mereka beli yang perlu-perlu aja, entah itu produk otomotif atau gawai, terus pulang. Kalaupun lapar atau haus, mereka biasanya lebih suka dibungkus – apalagi kalau belanjanya sendirian. Lebih praktis dan malas ribet.

Sekilas memang nggak ada yang salah dengan perbandingan tersebut. Saya nggak bilang bahwa hasil penelitian yang diekspos melalui gambar itu sebagai seksisme. Memang faktanya demikian.

Tapi, yang jadi masalah ketika perbedaan itu dijadikan lelucon yang ujung-ujungnya udah bisa ketebak: mengunggulkan kebiasaan laki-laki dan meremehkan kebiasaan perempuan dalam berbelanja.

Contohnya banyak banyak banget. Ingat pepatah “marriage is a workshop, where the husband works and the wife shops”? Meski hanya bercanda, ada kesan meledek bahwa lakinya capek-capek cari duit, eh… bininya tinggal ngabisin dengan belanja ke sana ke sini.

Padahal, sekarang juga udah banyak kok, istri yang bekerja di luar rumah, bahkan yang gajinya lebih tinggi dari suami. Ini fakta lho, nggak usah sensi dulu.

Belum lagi, banyaknya sinetron atau film yang mengumbar karakter perempuan shopaholic yang kesannya lebih banyak negatif. Dianggap matre atau ‘high-maintenance, manja, doyan barang-barang mahal alias branded atau high-end, egois, ganjen, hingga dinilai terlalu peduli dengan penampilan fisik sendiri alias narsistik.

Habis itu? Tinggal tambahin aja karakter pasangan yang ngomel-ngomel atau manyun saat diminta – atau lebih tepatnya dipaksa – menemani belanja, termasuk membawa belanjaan dan rela jadi sopir pribadi. Kesannya korban, padahal bisa nolak kalau mau.

Saya nggak membantah bahwa memang ada perempuan yang seperti itu. Namun, kalau langsung menggeneralisir bahwa perempuan pasti belanjanya lama dan karakternya nyebelin – atau menganggap perempuan hanya tahu belanja dan ngabisin duit suami doang –, kok kedengerannya cupet banget ya?

Lho, saya perempuan, tapi kurang suka belanja. Hanya belanja kalau memang lagi perlu-perlu banget. Celakanya, saya malah langsung dianggap nggak normal atau ‘kurang perempuan’. Maksudnya apa sih?

Ilustrasi men buy women shop (Kerryn Smith)

Saya dan mungkin Anda pasti punya aturan sendiri soal belanja. Kalau saya pribadi, jangan belanja kalau lagi lapar. Mending makan dulu sampai cukup kenyang. Sebab, menurut satu artikel lama, belanja dalam kondisi perut lapar berpotensi jadi lebih boros dari niat semula. Masuk akal banget sih.

Selain itu, ada lagi alasan lain mengapa perempuan lebih lama kalau belanja. Ini juga udah ada penelitiannya. Pada zaman purba, laki-laki otomatis didaulat menjadi pemburu dan perempuan sebagai pengumpul dan peramu.

Namun, itu karena satu hal. Saat perempuan hamil dan punya anak, mau nggak mau kegiatan di luar rumah jadi terbatas. Padahal, dalam kondisi tertentu, perempuan juga bisa berburu.

Ketika mengumpulkan barang juga nggak mau sembarangan. Ini terlihat dari cara perempuan membanding-bandingkan produk, harga, kualitas, hingga rela menjajal beberapa toko sejenis sebelum memutuskan untuk membeli yang benar-benar sreg dan awet.

Sesuka-sukanya sama shopping, mereka juga masih mikir. Kalau bisa, jangan sampai salah beli barang. Beli sepatu hak kok langsung jebol begitu baru dipakai dua-tiga kali. Dan, kalau bisa dapat diskon, kenapa harus bayar penuh? Tul nggak?

Terlebih di zaman sekarang, ketika kita semua sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing, plus ekonomi yang sesekali mirip roller coaster. Daripada cuma beli satu-dua item, lalu pulang, terus baru sadar ternyata masih harus beli barang lain yang juga penting. Kan, jadi nggak praktis kalau harus bolak-balik.

Satu hal lagi, kata siapa semua barang yang perempuan beli hanya buat mereka? Apalagi, mereka udah nikah dan jadi ibu. Mereka nggak hanya mikirin diri sendiri. Ada kemeja baru buat suami yang lagi mengincar promosi jabatan, sepatu untuk si kecil, makanan kesukaan keluarga, hingga produk pembersih rumah.

Meski sering diejek ribet, dianggap buang-buang waktu, hingga tukang ngabisin duit, gitu-gitu mereka masih peduli sama orang di sekitarnya. Camkan itu kisanak!

Lagipula, kalau dipikir-pikir, ngapain juga nyinyirin perempuan yang suka lama kalau belanja? Belum tentu juga pakai duit kalian.

Coba bayangkan kalau semua manusia di dunia ini – laki-laki dan perempuan – gaya belanjanya sama: cuma ingat keperluan sendiri. Bisa jadi nggak ada makanan di rumah, baju-baju pada kucel semua, debu di mana-mana, nggak ada stok obat, dan masih banyak lagi.

Jadi, kadang perempuan memang suka lama kalau belanja. Ada masalah?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.