Ilustrasi perempuan. (Photo by Duong Nhan from Pexels)

Ada sebuah kelompok diskusi daring yang menarik di page media sosial yang diikuti oleh perempuan dan lelaki dengan latar belakang sosial berbeda-beda. Bisa dibilang ini kelompok inklusif, yang membahas tentang seks dan seksualitas, terutama di kalangan perempuan yang sampai saat ini masih dianggap tabu.

Tapi jangan harap bisa menemukan candaan konyol yang menjurus mesum ya, sebab forum diskusi tersebut memang bertujuan untuk mengedukasi dengan berbagi pengalaman antar satu sama lain.

Menurut sang pendiri, yang juga seorang perempuan, forum tersebut berawal dari sebuah kelompok kecil antara dirinya dengan beberapa teman perempuan yang sudah menikah, tapi ternyata menghadapi banyak masalah terkait kehidupan seksual. Sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Memang sih, selama ini perkara kehidupan seksual para perempuan jarang sekali dibahas. Bahkan, di era kemudahan informasi dengan hanya berbekal kuota internet seperti sekarang saja, informasi yang ada sering kali membahas tentang segala sesuatu yang bisa dilakukan perempuan agar bisa memuaskan pasangan (laki-laki).

Baca juga: Jangan Berlebihan, Perempuan Serba Bisa Bukan Pencapaian

Kalaupun ada yang spesifik, semisal masalah orgasme pada perempuan – yang jauh beragam daripada orgasme laki-laki, tetap saja tujuannya cuma satu: mengagung-agungkan ‘keperkasaan’ lelaki karena dianggap bisa membuat pasangannya mencapai orgasme.

Itu sesuatu yang umum sekali dalam masyarakat kita. Saya sendiri punya beberapa teman perempuan yang sudah menikah dan sering kali mengeluhkan kehidupan seks mereka yang jauh dari bayangan. Memang harus diakui bahwa perempuan dalam posisi yang sangat tidak menyenangkan, jika berkaitan dengan masalah seks dan seksualitas.

Perempuan akan selalu dipermalukan atau disalahkan terkait bahasan yang satu ini. Dianggap sebagai perempuan gatal karena memiliki hasrat seks yang tinggi, sementara dianggap frigid saat tak begitu berhasrat. Di sisi lain, perempuan dianggap ‘doyan’ ngeseks kalau punya banyak anak, namun dianggap ‘kering’ jika punya sedikit anak.

Itu baru beberapa dari sekian banyak bahasan tentang seks dan perempuan.

Baca juga: Suka Sama Suka, Apa Iya Bisa Ngeseks Semaunya?

Beberapa waktu lalu, perkara vaginismus sempat menjadi bahasan di Twitter. Si pembuat thread justru mendapat banyak sekali ‘nasihat’ dari nitijen. Nitijen yang suka nge-judge rame-rame meminta si pembuat thread tidak tegang saat berhubungan badan. Kasihan pasangan nggak bisa menikmati senggama apalagi orgasme, kata mereka.

Ngeselin nggak sih bacanya? Lebih kasihan ke pasangannya ketimbang si penderita vaginismus. Padahal, vaginismus adalah kondisi medis berupa pengencangan otot-otot di sekitar vagina secara tidak sadar, semisal ketika ada upaya penetrasi. Intinya, vagina menolak penetrasi.

Si pembuat thread mengaku sudah berkonsultasi dengan dokter, psikiater, hingga pemuka agama. Jawabannya sama, harus berusaha rileks agar pasangan juga nyaman. Kalau terus-terusan kayak gini kasihan pasangan nggak bisa menikmati berhubungan badan. Nah, itu juga kata mereka.

Alih-alih memikirkan bagaimana perasaan si penderita vaginismus, ia malah dinasihati agar bisa menyenangkan pasangan. Seolah-olah perempuan yang menderita vaginismus tidak berhak merasakan kenikmatan bersenggama hingga ia harus lebih memperhatikan kebutuhan pasangannya daripada kebutuhannya sendiri.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Di titik ini, sangat jelas bahwa perempuan dalam kehidupan seksual masih menjadi objek belaka, bukan subjek. Bahkan dalam doktrin budaya kita, perempuan dilarang menolak keinginan suami untuk berhubungan badan. Begitu juga dengan perempuan dilarang meminta berhubungan badan terlebih dahulu karena dianggap ‘melangkahi’ kodrat.

Lihatlah, saat perempuan berinisiatif atau bahkan merasa tidak terpuaskan dalam kehidupan seksual, mereka tak boleh protes. Sebab itu dianggap sebagai aib pasangan yang harus ditutupi dan diterima dengan lapang dada. Kalau nekat protes, perempuan bakal dicap sebagai perempuan ‘gatal’ oleh orang-orang di sekitarnya.

Sementara, kalau ada laki-laki atau suami yang terkesan hiper dan acap kali memaksa pasangannya berhubungan badan, maka pasangannya itu nggak boleh mengeluh. Selain dianggap berdosa menurut agama, ancaman lain kalau menolak permintaan suami untuk berhubungan badan adalah, perempuan ditakut-takuti bahwa suaminya bakal mencari perempuan lain.

Parah…

Hal-hal seperti itu akan ‘membunuh’ perempuan dari dalam. Tak heran, menjadi perempuan di negeri ini, bisa mengalami kematian dua kali. Pertama, kematian secara psikis, dimana jiwa, pikiran, kebebasan, dan kemandiriannya dibunuh oleh doktrin patriarki. Kedua, saat raga tak lagi bernapas karena sudah tak sanggup menanggung derita…

Artikel populer: Pendidikan Seks Memang Harus ‘Cabul’

Perempuan sama sekali tidak punya posisi tawar. Perkara kepuasan seksual seakan hanya milik lelaki. Masyarakat kita pun mengamini. Coba tengok laki-laki yang menikah lagi dengan alasan istrinya tak mampu memenuhi kebutuhan seksualnya. Masyarakat cenderung menyalahkan perempuan.

Sementara, jika perempuan ingin bercerai dari suaminya karena si suami dianggap tak mampu memenuhi kebutuhan seksualnya, kira-kira apa yang bakal dikatakan oleh orang-orang? Yang ada, perempuan dicerca habis-habisan, dirundung, dan dianggap sebagai perempuan haus seks.

Ngejomplang banget.

Seorang perempuan dari Probolinggo pernah menggugat cerai suaminya lantaran kecewa dengan kehidupan seksualnya. Alhasil, perempuan tersebut menjadi bahan perundungan oleh netizen. Keluarga suami bahkan menggugat si perempuan dengan tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.

Sebetulnya masih bisa diatasi sih, kalau si lelaki mau terbuka dengan keadaannya. Namun, para lelaki yang bermasalah dengan kehidupan seksual sering kali tidak mau terbuka. Mereka terjebak ilusi maskulinitas. Lebih mementingkan ego, dan masyarakat patriarki adalah biang keroknya.

Lantas, apa kabarnya kepuasan seksual perempuan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini