Di Balik Misteri Perawan Kubur dan Neo-McCarthyisme

Di Balik Misteri Perawan Kubur dan Neo-McCarthyisme

Ilustrasi (herb.co)

Saya akan membuka artikel ini dengan kutipan yang begitu Freudian dari penulis horor esek-esek Abdullah Harahap dalam Misteri Perawan Kubur: “Hantu hanya ada dalam khayalan manusia-manusia penakut. Semakin mereka takut, semakin mereka percaya.”

Kutipan dari novel horor itu bisa menjadi jawaban atas apa yang melanda saat ini. Paranoia massal terhadap isu yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, isu kebangkitan PKI, yang sialnya muncul saat waktu-waktu tertentu terutama momen politik.

Dalam Misteri Perawan Kubur, Abdullah Harahap bikin cerita hantu yang penuh ketegangan, campuran antara ngeri-ngeri gothic Stephen King dan erotica dalam film semi Korea. Sama seperti cerita ‘ngeri’ yang terus dinarasikan oleh sejumlah pihak tentang isu kebangkitan PKI.

Bahkan, kalau dicermati, musik pengiring film Pengkhianatan G30S/PKI sudah mirip-mirip film horor Suzanna. Tapi, di mana letak erotisnya? Ya itu, ketika DN Aidit merokok. Sekarang rokoknya diblur, apa coba namanya kalau bukan erotis? Parno dan porno memang beda tipis-tipis.

Lalu, mengapa paranoia terus direproduksi? Mengapa hantu-hantu terus diciptakan untuk kemudian dijadikan ketakutan kolektif? Ya karena itu masih laku di masyarakat kita. Sepertinya saya perlu sedikit merevisi kutipan dari novel Misteri Perawan Kubur karya Abdullah Harahap menjadi…

“Hantu hanya ada dalam khayalan manusia-manusia penakut. Semakin mereka takut, semakin mereka percaya dan laku!”

Mereka mungkin merasa masih hidup di era Perang Dingin. Jika diibaratkan seorang novelis, maka ia beraliran realisme McCarthyisme.

McCarthyisme sendiri adalah praktik membuat tuduhan adanya subversi atau pengkhianatan tanpa disertai bukti yang tepat. Istilah ini merujuk pada Senator Amerika Serikat bernama Joseph McCarthy pada periode yang dikenal sebagai ‘second red scare, yang berlangsung antara tahun 1947 sampai 1956.

Periode itu ditandai dengan adanya represi politik yang meningkat, serta sebuah kampanye penyebaran rasa takut akan adanya pengaruh pada institusi Amerika yang kabarnya disusupi agen Soviet.

Makna McCarthyisme kemudian meluas, sebut saja Neo-McCarthyisme, yang menjelaskan soal ekses lain dari upaya serupa. Istilah ini sekarang digunakan lebih umum untuk menggambarkan tuduhan sembrono dan tidak berdasar. Juga serangan demagogis terhadap karakter atau patriotisme yang dianut musuh politik.

Selama era McCarthy, ribuan orang Amerika dituduh komunis atau simpatisan komunis dan karenanya menjadi subyek penyelidikan yang agresif. Jumlah yang dipenjara berjumlah ratusan, dan sekitar sepuluh atau dua belas ribu kehilangan pekerjaan mereka.

Daftar yang kena gebuk McCarthyisme ini luas, bahkan banyak di antaranya tokoh ternama. Ada Albert Einstein, sutradara Luis Bunuel, penulis Bertolt Brecht, Arthur Miller, sampai penyair Allen Ginsberg sang panglima barudak Beat Generation. Tanpa tuduhan berdasar, semua kena persekusi.

Karena sedang dalam masa Perang Dingin, isu ini menjual. Sekaligus alat politik yang licik dan efektif. McCarthy mendiskreditkan para pengkritik dan lawan politiknya dengan menuduh mereka sebagai komunis atau simpatisan komunis untuk melanggengkan kariernya.

Agar enggak terlalu melebar, saya enggak akan bahas soal apakah paham komunisme itu benar atau salah. Pertanyaan ini yang bikin Camus dan Sartre nggak temenan lagi.

Namun, Orde Baru sukses dalam memelintir sejarah kiri di Indonesia untuk mencitrakannya sebagai ideologi iblis yang menjadi ancaman terbesar bagi negara. Terbukti, jauh setelah Orde Baru jatuh, stigma kiri tetap bercokol kuat dalam masyarakat Indonesia.

Dalam karya sastra dan film, Orba berusaha melegitimasi kekerasan langsung kepada kaum komunis, dengan mencitrakan komunis sebagai ideologi sesat tak bertuhan yang berkhianat dan akan menghancurkan negara.

Lebih lengkapnya soal ini bisa dibaca dalam Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film dari Wijaya Herlambang. Mengingat ini berasal dari disertasi doktoralnya penulis, sehingga basis teori dan datanya bisa dipertanggungjawabkan.

Orde Baru sungguh luar biasa. Apa yang bisa menjelaskan panjang umurnya Orde Baru di Indonesia dan apa warisan dari kediktatoran selama tiga dekade tersebut? Benedict Anderson merinci karier Soeharto, mulai dari sejak tentara kolonial sampai jadi kroni kapitalisme dalam Exit Suharto: Obituary for Mediocre Tyrant.

Di esai panjangnya itu, Om Ben mengeksplorasi konsekuensi dari pemerintahan Sang Bung Besar dalam politik, sosial, budaya, yang bikin amnesia kolektif dan kekacauan pandangan hari ini.

Menurut Om Ben, Indonesianis bule yang menciptakan sebutan bule ini, ada satu frase terkenal warisan dari Soeharto: Gebuk! Seruan itu ditujukan bagi mereka yang mengkritiknya.

PKI sudah lama hancur, sebut Om Ben, baik secara fisik, politik, dan moral. Namun kini, setelah runtuhnya Uni Soviet dan rezim komunis di Eropa Timur, banyak orang yang masih berbual soal konspirasi komunis. Gebuk neo-PKI, seru mereka. Emang hantu bisa digebuk?