Ilustrasi lawan virus Corona (Image by Tibor Janosi Mozes from Pixabay)

Sejarah manusia adalah sejarah bertahan hidup. Bertahan dari kelaparan, persaingan, hingga serangan. Salah satu yang tak pernah lekang dalam sejarah adalah serangan wabah penyakit maupun pandemi. Seperti pandemi virus Corona atau COVID-19 yang kini kita hadapi.

Itu sejarah manusia, dan masih berlangsung saat ini. Sebelum manusia ada, makhluk hidup di muka bumi selalu gagal bertahan alias musnah. Seperti dilaporkan National Geographic, setidaknya ada lima periode kepunahan massal yang terjadi di bumi.

Penyebab kepunahan itu bermacam-macam, mulai dari kekacauan ekosistem pada zaman es, hujan meteor bertubi-tubi, perubahan geologi, aktivitas gunung api di Central Atlantic Magmatic Province, dan tumbukan meteor besar yang turut memusnahkan dinosaurus.

Makhluk hidup tersebut sempat mendiami bumi begitu lama, jauh lebih lama dibandingkan sejarah kehidupan homo sapiens alias manusia. Meski demikian, manusia pun tak luput dari ancaman besar. Hidup jutaan manusia harus berakhir karena perang, kelaparan, dan pandemi penyakit.

Adapun pandemi menjadi salah satu ancaman terdahsyat dalam sejarah hidup homo sapiens. Semisal, Maut Hitam atau Wabah Hitam (Black Death) yang membunuh lebih dari 75 juta orang di Eropa, Asia, hingga semenanjung Afrika. Selain itu, ada Flu Spanyol tahun 1918 yang menewaskan sedikitnya 50 juta orang di dunia.

Baca juga: Virus Corona: 4 Hal Penting untuk Menghindari Penularan Baru

Namun, manusia mampu bertahan, bahkan berhasil melawannya. Contohnya, pada 1979, WHO mengumumkan kemenangan ilmu pengetahuan melawan smallpox atau cacar yang sempat menginfeksi 15 juta orang dengan kematian sebanyak hampir 2 juta jiwa.

Bagaimana bisa umat manusia menang berkali-kali melawan pandemi?

Pada 1970, WHO mewajibkan semua orang di semua negara untuk divaksinasi. Jika satu negara enggan memvaksinasi penduduknya, mereka dapat membahayakan seluruh umat manusia. Karena begitulah pandemi bekerja. Selama masih ada yang terinfeksi, ia bisa menulari banyak orang.

Lantas, bagaimana dengan penyakit yang belum ada vaksinnya? Saat China diserang hebat virus Corona, Negeri Tirai Bambu itu me-lockdown beberapa daerah. Lockdown juga dilakukan Italia, Denmark, Irlandia, Spanyol, Prancis, dan lain-lain.

Isolasi suatu wilayah atau negara memang bisa membantu menghambat penyebaran virus. Tapi sesungguhnya, apakah itu benar-benar tepat?

Yuval Noah Harari, sejarawan Israel yang menulis buku Sapiens: A Brief History of Humankind, berpendapat bahwa dalam perang melawan virus, manusia perlu menjaga jarak dengan cermat. Tapi, bukan perbatasan antar negara atau isolasi. Sebaliknya, menjaga jarak antara manusia dan lingkungan virus.

Sebab, di masa lalu pun, ketika manusia begitu berjarak dari satu daerah ke daerah lain akibat ketiadaan akses, teknologi, dan transportasi, pandemi justru membunuh lebih cepat. Terlebih, bumi tak hanya menjadi tempat tinggal manusia, tapi juga parasit semacam virus yang tak terhitung jumlahnya. Virus tersebut terus berkembang dan mengalami mutasi genetik.

Baca juga: Agar Tidak Tertular Virus Corona di Kendaraan Umum, Ini Caranya

Meski demikian, umat manusia telah melakukan inovasi kesehatan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Manusia membangun sistem perawatan kesehatan modern. Hal ini menjadikan manusia lebih siap melawan virus.

Dahulu, pada masa pandemi Wabah Hitam, manusia banyak kalah dalam pertarungan karena mereka bahkan tidak mengenal siapa musuh mereka. Mereka baru mengenal apa itu bakteri, virus dan infeksi, sekitar 300 tahun setelah Wabah Hitam berakhir. Bahkan, manusia baru menemukan antibiotik pada abad ke-20.

Yup, ilmu pengetahuan merupakan satu-satunya solusi bagi pandemi dan segala ancaman infeksi. Lebih dari itu, sesungguhnya ilmu pengetahuan tentang kesehatan akan menjadi penawar, jika segala bentuk informasi tersebar secara merata.

Dalam kasus virus Corona, imbauan pemerintah tidak salah. Kita akan tetap baik-baik saja, jika menjaga diri dengan imunitas dan kebersihan. Sebab, selama imun kuat dan kebersihan terjaga, kita akan selalu mampu menjaga jarak dari virus dan pandemi apapun.

Jika lockdown terlalu berbahaya bagi ekonomi suatu negara, maka kita perlu informasi: apa saja yang sebenarnya terjadi, berapa jumlah suspect serta penderita yang sesungguhnya, dan yang paling penting apakah kita juga terinfeksi?

Baca juga: ‘Social Distancing’, Semoga Tidak Malah Bikin Kerumunan Baru di Tempat Lain

Jika akses pada yang terakhir saja sulit, kita semua akan kesusahan memahami musuh yang kita hadapi. Langkah Korea Selatan yang melakukan tes massal adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan. Sebab, virus yang kita hadapi sudah bermutasi dan menular cepat.

Sayangnya, banyak sekali warga Indonesia yang bahkan tidak memiliki akses terhadap pengetahuan perihal kesehatan dasar. Apalagi, tes SWAB COVID-19 masih berbayar. Ketimpangan inilah yang berbahaya. Jika tes hanya bisa dilakukan oleh kalangan menengah atas, masyarakat bawah hanya akan menjadi korbannya. Ingat, selama masih ada satu orang yang menjadi carrier virus, maka seluruh manusia di dunia berpotensi terinfeksi.

Jadi jelas, ketiadaan akses terhadap informasi membahayakan kita semua. Catet…!

Belum lama ini, seorang selebtwit merilis sebuah video yang memperlihatkan bahwa rakyat kecil tidak takut terhadap virus Corona. Mereka beraktivitas di pinggir jalan hingga bersentuhan dengan banyak orang tanpa garansi kebersihan. Hal ini menunjukkan perspektif masyarakat yang menganggap virus Corona tidak sebahaya kehilangan mata pencaharian.

Persis yang terjadi ketika Wabah Hitam. Orang-orang tetap pergi ke pasar tanpa perlindungan, tanpa pengetahuan, lalu pulang bertemu keluarga dan menulari virus. Bahkan, mereka pergi berlayar hingga menyebabkan Eropa kehilangan 1/3 penduduknya.

Artikel populer: ‘Panic Buying’ Hanya Mereka yang Berduit, Sobat Misqueen Bisa Apa?

Mengapa itu terjadi? Karena mereka memiliki keterbatasan informasi. Mereka tak mengenal musuh yang mereka hadapi, sehingga mereka tidak tahu senjata apa yang harus mereka gunakan.

Antrean panjang penumpang yang terjadi di stasiun dan halte transportasi publik, selain masalah teknis pengaturan, tapi juga menunjukkan bahwa mereka tak memiliki informasi seberapa besar bahayanya virus ini. Apakah saya berpotensi tertular? Ataukah saya carrier dari virus ini?

Satu-satunya informasi yang diyakini adalah, jika tidak pergi bekerja, bos akan marah. Jika bos marah, tentu saja bisa membahayakan periuk nasi.

Pandemi tidak membuat manusia modern seperti kita takut mati, pandemi membuat kita takut sakit, tidak bisa bekerja, tidak memiliki uang, lalu kelaparan dan mati konyol.

Jadi, ada benarnya Yuval Noah Harari bahwa solusi bagi pandemi bukan sekadar isolasi, melainkan akses terhadap ilmu pengetahuan dan informasi.

2 KOMENTAR

  1. Mengutip Yuval Noah Harari dalam Perlawanan Virusbaliexpress.jawapos.com › read › 2020/03/23 › mengutip-yuval-noah…
    Mengutip Yuval Noah Harari dalam Perlawanan Virus. Oleh: Krisna Sukma Yogiswari*. 23 Maret 2020, 15: 20: 35 WIB | Editor : I Putu Suyatra. Mengutip Yuval …
    Anda mengunjungi halaman ini pada 25/03/20.

    Itu cuplikan di mesin pencari link yang saya tautkan di komentar di atas sebelumnya. Pihak bersangkutan sudah menghapusnya diam-diam. 😛

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini