Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta &...

Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)

Ilustrasi (Youtube/Starvision Plus)

Saat Marvel Cinematic Universe membuat seri Avengers yang pelan-pelan menyatukan berbagai pahlawan super ke dalam satu film, maka di Indonesia muncul dunia Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang melakukan hal sebaliknya.

Mira Lesmana dan Riri Riza dengan tega melepas dua tokoh dari AADC dan AADC 2, yakni Milly dan Mamet, untuk menjadi satu film yang disutradarai oleh sosok yang sebelumnya tidak ada bau-bau AADC sama sekali: Ernest Prakasa.

Entah disiapkan atau tidak, sesungguhnya Milly dan Mamet memang wajar untuk dibuatkan spin off-nya secara lebih bebas. Hal itu tentu berbeda, jika jagat AADC membuat film tentang tokoh lainnya.

Tokoh Milly (Sissy Priscillia) dan Mamet (Dennis Adhiswara) dalam AADC dan AADC 2 memang tidak didalami betul, sebagaimana Alya dan Maura. Sebuah ruang besar yang digarap Ernest dalam film berjudul Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga).

Mungkin sesudah ini Ernest juga bisa diserahi untuk membuat spin off dengan tokoh Pak Wardiman. Pemerannya? Tentu saja, Reza Rahadian. Hee…

Menggunakan sebagian besar timeline sesuai ending AADC 2, keadaan Milly dan Mamet sebagai keluarga muda dengan seorang bayi berusia sekitar enam bulan merupakan contoh yang sangat dekat dengan realita rumah tangga milenial. Terlebih, sudah banyak kasus kegagalan pernikahan dalam posisi persis seperti Milly dan Mamet.

Baca juga: 3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Paling kondang dan mutakhir tentu saja rumah tangga Gisela Anastasia dan Gading Marten yang akan berujung cerai, meskipun keduanya dikenal sebagai salah satu role model hidup berumah tangga dengan gelimang endorse-an.

Pada saat yang sama, para pemuda-pemudi didorong untuk menikah muda, salah satunya dengan logika untuk menghindari zina. Sebagian dorongan masyarakat untuk menikah itu memang keterlaluan. Dalam humor bapak-bapak, misalnya, mereka sering bilang bahwa menikahlah karena menikah itu enaknya sedikit, sisanya enak banget.

Padahal, yang dibutuhkan oleh masyarakat kita sekarang bukan cuma soal menikah dan kemudian permasalahan selesai, melainkan kesiapan diri bagi yang akan menikah. Pernikahan tanpa kesiapan hanya akan menciptakan neraka di dunia. Tingginya angka perceraian di Indonesia adalah bukti yang paling jelas.

Ernest dan istrinya, Meira Anastasia, memang merupakan rumah tangga muda, sehingga mereka mengambil kisah rumah tangga muda untuk diolah komedinya dalam koridor dunia AADC.

Dalam posisi sebagai rumah tangga muda milenial, film ini cocok bagi yang ingin mencari dan mencuri ilmu soal rumah tangga yang nggak akan dikisahkan oleh orang-orang yang hobinya mendorong anak muda untuk menikah.

1. Hubungan dengan Mertua

Mamet dikisahkan memiliki passion di bidang kuliner, namun kudu bekerja di pabrik konveksi milik Pak Sony (Roy Marten), mertuanya. Sudah nurut sama mertua, masih dimarah-marahi pula.

Baca juga: Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Mendadak jadi ingat kisah konglomerat Tahir, menantu Mochtar Riady. Yha, walaupun dibandingkan dengan Tahir, permasalahan hidup Mamet alias Slamet jelas nggak ada apa-apanya.

Hubungan mertua dan menantu memang selalu menjadi keunikan yang tidak pernah habis dalam sebuah rumah tangga. Konflik antara mertua dan menantu, baik terbuka maupun tertutup, adalah hal yang logis. Biasanya itu terjadi karena mertua dan menantu belum mengenal baik.

Hingga akhirnya, pada satu percakapan, Pak Sony keceplosan menyatakan bahwa dirinya tidak peduli dengan Mamet, namun hanya peduli Milly dan Sakti.

Film Milly & Mamet ini akan mengingatkan orang-orang yang ingin buru-buru alias ngebet nikah bahwa pernikahan itu bukan sesederhana urusan dua orang belaka, melainkan dua keluarga, keluarga besar.

2. Passion dan Mimpi

Mamet hanya cinta Milly, Sakti, dan memasak. Namun, kewajiban sebagai menantu yang baik membuat dia rela pindah dari dapur ke pabrik konveksi mertuanya alias membiarkan passion-nya terbengkalai.

Kemudian, ketika Alexandra (Julie Estelle) – sahabat Mamet semasa kuliah tata boga – datang menawarkan perwujudan mimpi untuk punya restoran sendiri, Mamet menyebut bahwa mimpi itu hanya untuk bujangan.

Kalimat Mamet itu realistis sekali. Begitu menikah, maka mimpi-mimpi besar harus melalui banyak pertimbangan sebelum diwujudkan, seringkali malah dilupakan.

Mimpi untuk sekolah di luar negeri harus mempertimbangkan beberapa hal utama, seperti anak dan pasangan, apakah ditinggal atau dibawa? Kalau dibawa, lantas bagaimana sekolahnya? Kalau ditinggal, tidak mungkin anak dan pasangan berdua saja, kudu cari pembantu dan rentetannya bakal panjang sekali.

Baca juga: Menikah, tapi Nggak Mau Punya Anak, Boleh kan?

3. Kesibukan Pekerjaan

Ketika persiapan buka restoran, Mamet pulang malam ketika anaknya sudah tidur. Sementara, saat Milly sibuk mengurusi konveksi menggantikan Pak Sony dan terpaksa pulang agak malam, Mamet marah-marah. Padahal, sang anak hanya tumbuh gigi dan pastinya agak sedikit rewel.

Dalam kehidupan rumah tangga muda, apalagi yang dua-duanya bekerja, hal semacam itu jamak sekali. Cerita bahwa suami akan disambut dan dibuatkan kopi lalu dilanjutkan dengan baca koran hari ini adalah sekadar kisah klasik.

Keluarga saya, misalnya, memilih untuk menggunakan jasa daycare alih-alih asisten rumah tangga (ART) yang menginap. Maka, ketika saya pulang agak larut, istri saya jadi kerja dobel mulai membereskan rumah hingga mengajak anak bermain. Atau, sebaliknya, jika istri yang lembur, peran ganda itu saya yang mainkan. Toh, suami dan istri bekerja demi keluarga juga.

Mungkin satu hal yang perlu diperdebatkan dari film Milly & Mamet ini adalah si Mamet ternyata nggak paham-paham benar mengurus anak, bahkan mendadak galak ketika anak rewel hanya gara-gara tumbuh gigi.

Padahal, sepanjang pengetahuan saya sebagai bapak daycare, cukup banyak kok suami-suami yang sama pahamnya dengan istri soal tumbuh kembang anak.

Artikel populer: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

4. Hidup Baru dengan Bayi

Terang sekali bahwa Milly mengalami baby blues dalam kadar ringan. Tadinya ia sibuk di bank, kemudian sibuk mengurusi bayi. Ini tentu sebuah perubahan hidup yang tidak mudah.

Beberapa detail hidup baru dengan bayi dimainkan secara ciamik oleh Sissy Priscillia, mulai dari sulitnya menidurkan anak, mau rebahan dikit eh bayi bangun, hingga kadang bosan mengurusi bayi yang katanya lucu itu.

Percayalah, tidak semua suami paham kondisi istri yang semacam itu. Pun, tidak semua istri mau menceritakan kondisi tersebut. Umumnya, ketika hal semacam itu dikeluhkan, malah mendapat ocehan dari keluarga besar.

Jadi, kamu-kamu yang memang kebelet nikah harus menyiapkan diri untuk kehidupan baru yang pastinya tidak mudah.

Sesudah menyaksikan film Milly & Mamet, saya bisa pastikan bahwa angan-angan hidup berumah tangga yang selalu damai tenteram penuh kekayaan sebagaimana di dongeng akan sirna seketika, karena bagaimanapun hidup kudu realistis.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.