Penggemar Ikan Asin Sedunia, Bersatulah!

Penggemar Ikan Asin Sedunia, Bersatulah!

Ilustrasi (Image by uniquedesign52 from Pixabay)

Ikan asin. Belakangan, jenis makanan ini menjadi perbincangan hangat di teritori pergosipan. Gara-gara, doi menyebut mantan istrinya memiliki bau seperti ikan asin. Kalau itu bermaksud mengejek, sebagai penggemar ikan asin, saya ikut terusik.

Lha, iya dong, masa hari gini masih ada omongan kayak gitu? Selain bisa dianggap melecehkan perempuan karena mengobjektifikasi, itu juga dapat dianggap merendahkan harkat dan martabat makanan. Sebuah tindakan yang tidak berperikemakanan.

Berbicara soal bau, setiap bahan makanan memiliki bau khas masing-masing. Dengan tingkat ketajaman yang berbeda-beda. Bau ikan asin, ya seperti itu. Akan sangat aneh kalau ikan asin memiliki bau seperti kembang melati.

Mungkin, sebagian orang belum mengenal ikan asin secara holistik. Bau ikan asin bisa begitu tajam, kalau sudah dimasukkan ke dalam minyak panas di wajan penggorengan. Baunya, Insya Allah, dapat menggugah selera makan kita. Bahkan, tetangga kita. Apalagi, kalau ditemani dengan nasi hangat dan sambel, hmmm… Mak nyus.

Baca juga: Ngaku Penggemar Bu Susi, tapi Disuruh Makan Ikan saja Susah

Bau ikan asin bukanlah hal yang buruk. Jadi kurang pas, kalau ada orang yang menggunakan istilah itu untuk mengejek orang lain. Apa sebab? Sebab ikan asin sendiri adalah salah satu aset bisnis yang cukup banyak diminati di pasaran.

Bisnis pembuatan ikan asin cukup menjanjikan, karena memiliki pangsa pasar yang stabil sejak puluhan tahun. Selain itu, ikan asin merupakan salah satu makanan kegemaran masyarakat Indonesia.

Disebutkan pula, seorang pengusaha ikan asin di bantaran Sungai Musi, Palembang, bisa meraup omzet sekitar Rp 30 juta dalam satu pekan. Bisnis ini tidak pernah putus, selalu saja ada permintaan dari pasar.

Jadi, tolong ya, jangan goreng ikan asin dalam wajan ucapan peyoratif. Ini memang bukan pertama kalinya. Dulu, Bung Karno dalam salah satu pidatonya, juga menggunakan makanan untuk menyindir rakyat yang lemah.

Baca juga: Nasionalisme dalam Seporsi Makanan

Pidatonya kurang lebih seperti ini. “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Disebutnya tempe, karena mungkin pada masa itu Soekarno belum sepenuhnya memiliki referensi yang cukup tentang tempe. Dalam buku Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme, Radhar Panca Dahana membahas dan mengkritisi masalah ini secara khusus.

Bahwa tempe yang disebutkan dengan nada peyoratif oleh Soekarno tersebut sebenarnya telah menyelamatkan masyarakat miskin di Jawa ketika masa pendudukan Jepang. Kesehatan puluhan juta masyarakat Jawa terselamatkan ketika itu.

Baca juga: Menjadi Manusia Bermental Tempe itu Sebetulnya Baik

Tempe ternyata memiliki khasiat yang secara medis terbukti mampu menyembuhkan diare, menurunkan tekanan darah, mencegah anemia, menolak kanker, infeksi, osteoporosis, dan berbagai penyakit lainnya. Hingga saat ini, tidak kurang dari 2.500 buku ditulis secara internasional tentang produk kultural asli Indonesia tersebut.

Setiap makanan yang dikonsumsi oleh manusia pasti memiliki manfaat. Demikian juga dengan ikan asin. Mungkin bisa mencegah osteoporosis dan memperkuat tulang serta gigi, karena kandungan kalsium yang tinggi.

Memang sih, terkadang kita makan sesuatu bukan karena kebutuhan kesehatan saja. Bisa jadi karena gengsi, bisa jadi hanya ikut tren semata.

Ketika sudah mengonsumsi makanan-makanan yang dianggapnya berkelas dan memiliki nilai prestise yang sangat tinggi, dengan gampangnya akan menggunakan makanan-makanan berharga murah untuk menggambarkan hal-hal yang menurutnya ‘murahan’ atau buruk sekalipun.

Artikel populer: Benarkah Ngeteh Nggak Sekeren Ngopi?

Mental tempe lah, bau ikan asin lah. Anehnya, kita tidak pernah atau belum menemukan makanan-makanan dari gerai berkelas dan mewah yang dijadikan bahan olok-olok.

Yah, semoga nggak ada orang kudet yang menggunakan istilah ikan asin untuk mencemooh orang lain. Sudah saatnya kita menghargai makanan, selain manusia tentunya. Sebab, tidak ada yang salah dengan makanan. Tidak ada yang buruk dengan makanan.

Sebau-baunya ikan asin, masih memiliki potensi menjadi sesuatu yang lezat, nikmat, serta bermanfaat. Sekali lagi, untuk para penggemar ikan asin di mana pun kalian berada di dunia ini, saya bersama kalian.

Mari kita hentikan penggunaan istilah makanan sebagai bahan ejekan atau hinaan, kalau memang ada yang bermaksud seperti itu. Yang murah, yang bau, belum tentu buruk. Mungkin buruk bagimu, tapi tidak bagiku. Kalaupun itu dianggap sebagai bahan guyonan, ya nggak lucu.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.