Ilustrasi perempuan. (Photo by Sam Pineda from Pexels)

Masih banyak orang yang meragukan bahwa tindakan aborsi bisa dipaksakan, karena selama ini mereka menganggap bahwa aborsi sebagai sebuah pilihan yang diputuskan oleh seorang diri. Namun, kenyataannya, tindakan itu telah banyak dipaksakan oleh berbagai pihak, mulai dari pasangan, keluarga, hingga negara.

Di Indonesia, salah satu kasus aborsi yang dipaksakan oleh pacar pernah terjadi di NTT pada tahun 2015. Korban dipaksa berhubungan badan dengan iming-iming janji pernikahan. Ketika terjadi kehamilan tak direncanakan (KTD), pelaku memaksa korban untuk meminum 8 pil untuk menggugurkan kandungannya. Korban kemudian melaporkan pemaksaan aborsi tersebut ke polisi. Ulah pelaku termasuk kekerasan seksual.

Begitu juga dengan kasus di Surabaya yang masuk pengadilan pada tahun 2020. Seorang lelaki beristri memaksa pacarnya untuk aborsi hingga korban mengalami perdarahan. Pelaku akhirnya masuk penjara.

Baca juga: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Aborsi masih dianggap ilegal di Indonesia, sehingga aborsi yang terjadi sering kali tidak aman dan merugikan banyak orang terutama korban.

Pemaksaan aborsi juga kerap terjadi di negara lain, misalnya India. Anak lelaki cenderung diinginkan oleh masyarakat di sana. Sedangkan anak perempuan sering kali dianggap merugikan. Karena ketika anak perempuan menikah, yang harus membayar mahar adalah keluarga perempuan kepada keluarga lelaki.

Akibatnya, tak jarang ketika diketahui bahwa jenis kelamin sang bayi adalah perempuan melalui pemeriksaan USG, perempuan kerap dipaksa untuk menggugurkan kandungannya oleh suami dan keluarga. Alasannya agar suami juga dapat mewariskan dan mempertahankan nama keluarganya.

Bahkan seorang korban bisa dipaksa untuk aborsi hingga 8 kali dan disuntikkan hormon dan steroid pada tubuhnya. Hal ini karena pelaku menginginkan anak lelaki. Korban akhirnya terpaksa melaporkan pelaku kepada polisi.

Baca juga: Tantangan Perempuan Kelas Menengah saat Menjadi Orangtua

Sementara itu, di Tiongkok, akibat kebijakan satu anak yang berlaku sejak tahun 1980 hingga 2015, negara bisa memaksa seseorang melakukan aborsi. Hal itu dialami oleh seorang perempuan yang dipaksa oleh pejabat setempat dan dikenakan denda karena hamil anak kedua.

Selain pemaksaan aborsi, negara juga memaksa perempuan untuk menggunakan kontrasepsi serta melakukan sterilisasi. Misalnya kepada warga Uighur. Perempuan dipaksa untuk menjalani pemeriksaan rahim hingga aborsi. Akibatnya, tingkat kelahiran warga Uighur menurun. Jika tak mengikuti aturan, mereka akan didenda dan dipaksa masuk ke dalam kamp.

Pemaksaan aborsi itu nyata dan tidak dilakukan karena perempuan menginginkannya. Bahkan di suatu negara yang melegalkan aborsi sekalipun. Saat terjadi pemaksaan aborsi akan selalu ada tekanan dan ancaman dari berbagai pihak, bahkan tak jarang sering kali diiming-imingi janji agar korban mau melakukannya. Jadi ada pengaruh, tidak berdiri sendiri begitu saja.

Baca juga: Kata-kata Toxic Positivity yang Mestinya Jangan Diamini

Ada relasi kuasa yang timpang yang menyebabkan perempuan tak memiliki kendali atas tubuhnya, dan keputusannya bukan datang dari kesadaran penuh dirinya. Kita harus bisa melihat konteks dan pengkondisian sosial yang dialami oleh korban, serta bagaimana sistem sosial tersebut membuat seseorang terpaksa menjalani aborsi.

Di Indonesia, Komnas Perempuan menilai pemaksaan aborsi sebagai kekerasan seksual. Pemaksaan aborsi dianggap sebagai pengguguran kandungan yang dilakukan karena adanya tekanan, ancaman, maupun paksaan dari orang lain.

Adapun kekerasan seksual didefinisikan sebagai setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang.

Sudah jelas ya, ketika aborsi dipaksakan, maka sedang terjadi penyerangan terhadap fungsi reproduksi seseorang.

Artikel populer: Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Pemaksaan aborsi bisa terjadi pada perempuan dalam situasi apa pun. Sering kali korban juga mengalami kriminalisasi serta disudutkan dengan ucapan “Salah sendiri melakukan seks bebas”, “Lagian mau aja pacaran sama suami orang”, “Salah sendiri hamil”, dan sederetan ungkapan victim blaming lainnya.

Apapun bentuk hubungannya, kita semestinya jangan menyalahkan perempuan yang dipaksa untuk aborsi.

Aborsi tidak bisa dijadikan hukuman karena seseorang mengalami kehamilan tak direncanakan. Begitu juga dengan kehamilan, jangan dijadikan sebagai penghukuman kepada perempuan.

Nah, kalau ada yang masih ragu apakah perempuan tidak bisa mengalami pemaksaan aborsi, alangkah baiknya belajar dari pengalaman ribuan perempuan yang tubuhnya dipaksa untuk dikoyak dan dikontrol oleh orang lain. Kuy, belajar empati kepada korban. Bisa ya? Bisa…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini