Menstrual Cup (Photo by Anna Shvets from Pexels)

Cawan menstruasi atau menstrual cup semacam cawan elastis yang terbuat dari medical silicone berbentuk corong dengan gagang kecil di bagian pangkalnya. Kalau kamu belum pernah lihat dan susah membayangkan deskripsinya, tentu bisa mencari referensi secara visual di Google. Menstrual cup digunakan untuk menampung darah menstruasi yang keluar dari dinding rahim. Cawan ini sebagai pengganti pembalut sekali pakai.

Sejak berumur sekitar 14 tahun atau 1 SMP, hampir semua manusia yang memiliki vagina dan rahim mengalami peristiwa biologis saat dinding rahim yang menebal kemudian luruh karena tidak dibuahi, yang bernama menstruasi. Bahkan, dulu banyak teman yang mendapatkan menstruasi pertama kali saat masih SD. Sejak itu, siklus kehidupan kami langsung porak-poranda berubah drastis.

Sebenarnya, sudah banyak bertebaran gambaran betapa menyiksanya luar biasanya peristiwa biologis yang satu ini. Namun, izinkan saya menggambarkannya kembali, termasuk pengalaman pertama memakai menstrual cup.

Kira-kira 2-3 hari sebelum menstruasi, biasanya sudah muncul pertanda yang disebut premenstrual syndrome (PMS). Itu loh, yang sering jadi guyonan masyarakat misoginis untuk meng-unvalidasi perasaan perempuan dengan ujaran “kok galak banget sih, lagi PMS yaa”. Yeee, knalpot RX King kalo bacot sa ae!

Saat PMS, kami tak hanya mengalami mood-swing seyeng, tapi juga mood-rollercoaster alias sebentar marah, sebentar bete, sebentar sedih sampe nangis tiba-tiba, sebentar bersemangat banget tapi badan lemes, sebentar sange tapi anggota Indonesia Tanpa Pacaran jomblo.

Baca juga: Kenapa Harus Malu ketika Sedang Menstruasi?

Setelah itu, perut mulai kembung luar biasa seperti direndam di air es sampai kram. Minyak kayu putih hingga kutus-kutus pun tidak terlalu membantu, karena yang sakit terlapisi kulit dan selulit gemas. Kemudian, bila darah menstruasi sudah keluar, sakit kram tadi akan menjalar hingga ke bawah pusar atau rahim. Rahim inilah biangnya. Ia akan merasakan nyeri hebat seperti sedang digaruk pakai kuku Buto Ijo, atau kukunya Suzzanna pas jadi sundel bolong dan membelah kuburannya jadi dua. Maaf, yang ini sepertinya hanya anak 90-an aja yang related.

Apakah hanya perut dan rahim saja? Oh tidak. Entah mengapa, saat menstruasi seakan-akan seluruh tubuh ingin bersolidaritas dengan memunculkan sakitnya sendiri-sendiri. Tak jarang, tubuh akan ikut drop dan lemas, kepala migrain dari jidat, ubun-ubun, leher, hingga menarik punggung atas. Jerawat kadang bermunculan di mana-mana dan beberapa hal tidak terduga lainnya, seperti tiba-tiba diare atau muntah. Semua rasa itu akan muncul secara bersamaan setidaknya hingga H+3 menstruasi. Lantas, setelah itu, apakah permasalahan akan usai???

Tentu, jawabannya tidak.

Karena setelahnya, saat kamu mungkin sudah menghabiskan 1 pak pembalut sekali pakai isi 18, bagian luar vaginamu perlahan tapi pasti akan ruam kemerahan dan guatal pol alias yaa ampun pengen misuh!!! Inilah penderitaan lain dari menstruasi yang tak kalah bxgeifwgddtuvxgsus, yakni iritasi. Kalau nggak digaruk guatal, digaruk perih, dihajar pembalut lagi lecet! Ya, ya, ya, aku mendengar jeritan persetujuan di benakmu.

Baca juga: Bacaan untuk Laki-laki yang Beli Pembalut

Menurut penelitian, 8 dari 10 orang yang menstruasi rentan iritasi. Sedangkan dari 8 orang tadi, hanya 1 yang sadar sedang mengalami iritasi. Nah, saya berada di tingkatan yang tidak hanya sadar, tetapi merasa tersiksa. Gonta-ganti merek pembalut, pemakaian dengan durasi dipersingkat dari standar 4 jam sekali pakai, sampai berdoa kepada Tuhan. Namun, iritasi tak kunjung reda.

Hingga suatu hari, ada yang namanya menstrual cup. Dalam pikiran saat itu, cawan menstruasi ini mungkin bisa membantu mengeliminasi 1 keluhan, yaitu iritasi. Logikanya, kalau darah menstruasi bisa ditampung bahkan sebelum keluar dari bibir vagina, tentu iritasi yang letaknya di luar vagina akan musnah. Akhirnya, setelah sekitar 15 tahun mengalami iritasi, saya akan terbebas!

Tapi apesnya, datang permasalahan baru. Kali ini bukan perihal fisik, bukan juga psikologis, melainkan datang dari luar, yakni stigma. Belum lama ini, sebuah tweet kembali viral. Seorang cecunguk – yang boro-boro mengalami siklus menstruasi karena punya vagina saja tidak – berceloteh, “Untuk perempuan yang belum menikah, aku saranin jangan pakai menstrual cup karena bisa bikin kendor.”

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Tweet-nya cuma satu, tetapi pemikiran masyarakat kita yang misoginis bin patriarkis banyak yang mengamini. Akhirnya, sobat rahim ini punya masalah 1 lagi, yaitu mengedukasi masyarakat tentang betapa elastisnya otot vagina, sehingga tidak berpengaruh bila harus disumpal corong elastis dengan panjang sekitar 7 cm dan diameter sekitar 4 cm – yang ketika dimasukkan pun akan dilipat menjadi hanya sekitar 2 cm saja.

Belum lagi, konsep keperawanan pun sebenarnya hanyalah konstruksi sosial yang penuh mitos dan problematik. Lihatlah, bahkan sebelum kita benar-benar memakai menstrual cup, ada masalah serius yang harus diselesaikan dulu.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli menstrual cup seharga Rp 250 ribu di toko online. Harga tersebut dengan material medical silicone. Berbeda, bila kamu membeli dengan material organik yang dibandrol pada kisaran harga Rp 400 ribu.

Menurut cara pemakaian, cawan harus disterilkan terlebih dahulu dengan direbus pada air (mendidih) selama 3-5 menit, lalu angkat dan bilas dengan air dingin bersih. Menstrual cup pun siap dipakai. Cara memakainya dengan melipat cawan terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke vagina. Kalau mencari di YouTube tentang tutorial memasukkan menstrual cup, kamu akan menemukan setidaknya 7 teknik melipat. Salah satunya, ‘punch down fold‘. Teknik itu cukup works, kok.

Bagi orang yang belum pernah memasukkan benda asing di vagina sendiri, apalagi dalam rentang waktu yang lama dan ini adalah hal yang benar-benar baru, tentu terasa sangat aneh pada awalnya. Saat memasukkan pun, cawan yang hanya memiliki panjang sejari itu kadang terhenti di tengah. Itu membuat kita harus menarik napas panjang untuk relaksasi, sebelum kembali mendorongnya agar dapat masuk sempurna.

Artikel populer: Mau ‘Ena-ena’ kok Maksa? Istrimu Bukan Boneka Seks, Mas

Ketika cawan sudah masuk seutuhnya, di sinilah keajaiban terjadi. Kita tidak akan merasakan apapun. Ya, tidak ada yang berubah, mengganjal, atau bahkan sakit di vagina atau rahim.

Lalu, kalau mau mengeluarkan cawan, memang perlu sedikit usaha terutama bagi kamu yang nggak sabaran. Cawan tersebut seharusnya juga kembali ditekuk, jangan main tarik saja. Kalau langsung tarik begitu, alhasil terasa agak mengganjal saat menuju akhir atau bagian paling atas cawan yang merupakan bagian paling lebar.

Menstrual cup bisa berada dalam vagina selama 8-12 jam. Setelah itu, kita bisa mengeluarkannya untuk dibilas sebelum memasukkan lagi dan mengulangnya hingga siklus menstruasi selesai. Saat membilas, bisa juga pakai sabun antiseptik.

Setelah menstruasi selesai, kamu bisa melakukan sterilisasi lagi dengan kembali merebus selama 3-5 menit dan mengeringkan untuk selanjutnya disimpan di wadah kering. Jangan lupa kembali rebus cawan kalau ingin memakainya lagi pada bulan depan.

Siapapun penemu menstrual cup, terima kasih banyak ya! Setelah 15 tahun, dimana setiap bulan mengalami iritasi, akhirnya saya menemukan solusi. Sampai terharu di kamar mandi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini