Pengalaman Berteman dengan Ukhti-ukhti Anti Feminisme

Pengalaman Berteman dengan Ukhti-ukhti Anti Feminisme

Ilustrasi (Ebrahim Amiri via Pixabay)

“Mbak tau nggak sekarang tuh ada yang lebih bahaya dari LGBT,” kata seorang teman membuka obrolan pada suatu pagi.

“Wah apaan tuh?” tanya saya santai masih mengantuk.

“Feminis, Mbak. Kemarin waktu ke Jogja terus papasan sama mereka lagi demo gitu di jalan, rame banget. Ngeri, Mbak.”

Maksud teman saya adalah Women March. Melihat poster-poster semacam “Auratku Bukan Urusanmu” pasti membuatnya bergidik, hehe. Apalagi di March seperti itu kelompok (pendukung) LGBT tidak jarang coming out dengan pernyataan terbuka.

“Feminisme apaan sih?” Saya bertanya untuk memastikan pengetahuannya soal feminisme benar-benar dari sumber primer dan bukan hanya katanya-katanya.

“Itu lho, Mbak. Yang kesetaraan-kesetaraan.” Teman itu lalu menyebutkan banyak hal yang semuanya buruk tentang feminisme. Lebih buruk lagi, tanpa didasari referensi langsung alias kesimpulan itu diperolehnya dari apa kata orang.

Sebagai sesama muslimah pecinta syariat yang sempat icip-icip belajar gender dan menjadikannya fokus penelitian selama ngampus dulu, jujur saya gemas sekali dengan kebencian tak berdasarnya pada feminisme. Dia belum mengenal feminisme tapi sudah sangat membenci dan memukul rata semua pergerakannya.

Baca juga: Pegiat Kesetaraan di Sekeliling Rasul, Akhi dan Ukhti Perlu Tahu

Saya bukan feminis dan tidak semua alirannya saya sepakati. Tapi menurut saya, perbedaan mazhab keilmuan adalah biasa saja. Bahkan, jika mau menentang dengan membawa alternatif gerakan yang bisa disejajarkan sebagai perbandingan, justru bagus.

Sayangnya, teman-teman (sebab tidak hanya satu) yang membenci feminisme dan mendukung Indonesia Tanpa Feminis (ITF) masih jauh dari menawarkan bentuk perjuangan lain yang nyata untuk perempuan, selain janji kemuliaan jika khilafah tegak. Abstrak dan penuh Kelak.

Oh ya, jangan dulu sensi kalau para pendukung kampanye “Perempuan itu dimuliakan, bukan disetarakan!” ini adalah melulu ukhti-ukhti menengah ke atas yang hobi belanja gamis dan tiap hari nongkrong di kajian sosialita tanpa perlu mikirin kerja karena support finansial suami kaya raya beristri banyak. Mungkin ada beberapa yang begitu, tetapi berdasar pengalaman bergaul dengan ukhti-ukhti selama ini, mereka yang menolak feminisme di keseharian adalah mostly dari kelompok menengah ke bawah.

Para ukhti ini harus banting tulang menanggung kebutuhan hidup (baik singlelillah maupun berkeluarga) dengan pekerjaan yang jauh dari gaji pegawai BUMN bahkan UMR. Selain harus menerima nasib glass ceiling abadi, tampilan visual mereka yang tidak public-friendly (misal, bercadar) menjadi tantangan lain di dunia kerja.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Ketika mereka kemudian mendapat kemudahan bekerja di ruang publik tanpa harus menanggalkan cadar, mereka tidak tahu kalau ada kerja perempuan-perempuan yang memperjuangkan kebebasan berekspresi tersebut. Beberapa menyebut pejuang ini feminis.

Para ukhti ini juga tidak semua mendapat privilege pendidikan tinggi untuk bisa bertemu atmosfer ilmiah dimana diskusi soal gender, feminisme, atau kajian perempuan banyak dibahas. Akses termudah mereka mengenai feminisme adalah dari para penceramah yang bahkan tidak semua mempelajarinya.

Ketika pada akhirnya beberapa ukhti mendapat rezeki melanjutkan studi keagamaan di luar kota, mengharuskannya berpergian tanpa mahram tapi tetap merasa aman, mereka tidak tahu kalau ada perempuan-perempuan yang memperjuangkan hak pendidikan perempuan itu. Beberapa menyebut perempuan ini feminis.

Memang, ada beberapa tokoh muslimah pejuang perempuan yang menolak feminisme dan tetap berjuang untuk memberdayakan perempuan tanpa harus menjadi feminis. Sayangnya, teman-teman pendukung ITF yang seperti ini tidak banyak, dan bisa dibilang (meski tidak ada statistiknya) justru golongan yang membenci bahkan sebelum mengenali feminisme ini adalah terbanyak.

Baca juga: Tentang Hijrah yang Belakangan Jadi Tren Sosial Anak Muda

Kalau istilah ilmiahnya, mereka ini sudah terkena bandwagon effect, yakni bias kognitif untuk cenderung memercayai sesuatu hanya karena banyak orang memercayainya. Parahnya, bias kognitif ini membuat seseorang bisa dengan mudahnya menghakimi suatu (kelompok) sekalipun belum pernah berinteraksi langsung dengannya.

Nah, kabar baiknya ‘penyakit pikiran’ ini sebenarnya bisa diatasi dengan cara memasukkan data baru tentang kelompok yang dibenci. Tentunya bukan dengan ceramah menghakimi balik, karena itu justru akan membuat kita balik terkena bandwagon effect terhadap teman-teman ini. Sayangnya, itu yang dulu saya lakukan.

Saya pernah begitu galak dengan langsung ngegas dan berceramah perihal beragam aliran feminisme dan karakteristik perjuangan mereka berdasarkan periode kemunculan. Saya bahkan begitu arogan dengan menyindir kebiasaan para ukhti yang suka menuduh feminis dan tidak suka membaca sebagai representasi muslimah turun kelas. Hasilnya apa?

Alih-alih bisa berjuang bersama sebagai sesama perempuan, saya justru dijauhi karena dianggap terlalu berbahaya. Padahal kan kalem nan imut sekali akutu. Hiks.

Artikel populer: Yang Tidak Dipahami Banyak Orang Mengapa Perempuan Saling Bersaing

Saya lalu mengubah pendekatan itu dengan lebih mengenal sisi personal mereka dan sempat syok betapa perjuangan mereka sebagai single fighter selama ini jauh sekali dari generalisasi penolak feminisme sebagai perempuan dengan privilege ‘kemuliaan’. Mereka justru perempuan-perempuan yang juga berjuang sangat keras untuk mendapat akses pekerjaan, pendidikan, bahkan pernikahan yang tidak hanya ‘halal’ tetapi juga ‘thoyyib’, hal-hal yang banyak beririsan dengan beberapa perjuangan feminisme.

Sayangnya, mereka terlanjur membenci feminisme, padahal belum mengenali kebaikannya. Sementara yang sudah berteman duluan, kurang bersabar untuk memperkenalkan feminisme dengan ramah dan asyik. Padahal, setelah berkenalan dan berteman pun kita masih bisa saling setuju untuk tidak setuju dengan pola perjuangan masing-masing perempuan. Kan juga nggak seru kalau semua yang menginginkan kebaikan untuk perempuan hanya boleh melalui feminisme atau dengan menolaknya.

Faktanya perbedaan pendekatan itu justru membuat kita lebih sering bertengkar perihal perjuangan siapa yang lebih mulia atau kuat. Kita menjadi lelah dan tidak fokus pada cita-cita bersama meruwat dan merawat kehidupan yang ramah manusia sebagai apapun dia diciptakan.

Sementara di luar sana, orang-orang tertawa menyimak pertikaian kita sambil melempar candaan lama yang begitu kuat perihal perempuan: because they kill each other.

1 COMMENT

  1. Bagus, Mbak, artikelnya. Setuju sih, ketidakpahaman mereka gabisa kita lawan dengan bahasa kasar dan sok tau (meski geregetan juga wkwkw). Thank you, Mbak, menambah sudut pandang lain tentang perbedaan-perbedaan pendapat ini.

    Saya pribadi memahami feminis sebagai gerakan yang menyetujui bahwa hak-hak perempuan juga harus diakui: hak mendapat pendidikan dan lain sebagainya. Saya juga ga suka sama yg ekstrim (apalagi feminazi), tapi tidak semua feminis jelek. Saya pribadi juga harus baca lebih banyak mengenai feminis ini karena yg saya dapat masih sedikit dan belum berani mengambil kesimpulan dari pengetahuan saya yg cetek. Saya sempat berkuliah di tempat dimana sebagian dosen saya merupakan feminis dan teman-teman saya ukhti-ukhti anti feminis, jd ya agak gimanaa gitu berada di titik tengah, tapi saya ga bisa banyak bersuara selain ke temen deket mengenai feminisme yg saya pahami.

    Intinya meyakinkan orang lain buat “mampu berpendapat sesuai pada porsi dan pemahaman yg dilalui oleh proses membaca dan berdiskusi” tampaknya masih jauh dari budaya orang-orang di Indonesia, baik mengenai feminisme ataupun isme isme lainnya (seperti Marxisme, yang lantas semua dicap sebagai PKI tanpa memahami latar belakang apa itu komunis, kenapa komunis ada, dan kenapa di Indonesia sempat sampai terjadi tragedi dan hal-hal lainnya). Biasanya abis dengar sedikit langsung percaya. Saya sendiri kalau menjelaskan ke orang terdekat sering malah dibilang “Ah kamu udah dicuci otak, ya?” bahkan jauh sebelum saya memaparkan hal-hal penting dan perlu dipertimbangkan.

    Eh jadi curhat, Mbak. Pokoknya ini artikel bagus. Semoga membuka pandangan orang-orang lainnya 🙂

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.