Ilustrasi belajar (Photo by Daria Shevtsova from Pexels)

Obrolan tentang pendidikan seks di kolom-kolom opini tampak masih malu-malu membahas yang ‘cabul-cabul’. Mungkin, efek sensor redaksi. Ada juga penulis yang harus menekankan kalau kontennya itu soal pendidikan seks, bukan cerita seks. Saking sekut-nya dianggap cabul.

Sebuah artikel yang meresensi film-film bertema seksualitas membuka paragraf dengan kalimat “Hanya orang yang tidak berpikiran mesum yang bisa melihat potensi dan keindahan di balik film dewasa ini”.

Gila apa, orang dilarang horny saat nonton adegan di Fifty Shades? Kamu aja bisa ngiler kok kalau nonton video Mukbang. Alih-alih memberi pengetahuan yang memadai, kebanyakan orang masih suka mencibir fantasi seksual dengan konotasi ‘mesum’ dan ‘jorok’. Memangnya kamu dulu lahir dari apa? Setetes air mata?

Anggaplah ‘sange’ itu bukan hal terpuji, tapi apakah tercela? Yang cela itu kan memperkosa, nilep duit negara, menipu rakyat miskin pakai instrumen hukum. Tapi yang begitu justru tidak banyak dihakimi.

Baca juga: Sandhy Sondoro Diceramahi, Agnez Mo Dibully, Maria Ozawa Dipuji

Hipokrit masih menjadi corak ketika membahas perihal kenikmatan seksual. Trending #SandhySondoroCabul misalnya, itu contoh kemunafikan masyarakat kita. Mereka yang sumbang hashtag, apa tidak pernah ngebokep seumur hidupnya? Kalau iya, wah kasihan sekali.

Perihal esek-esek memang penting tidak penting. Bisa jadi tidak penting, kalau dihadapkan pada obrolan aktivisme di ranah-ranah kemiskinan struktural. Misalnya, apa signifikansi agenda advokasi keadilan orgasme terhadap kesejahteraan sosial? Bagi kelas pekerja, tentu lebih penting menuntut pengurangan jam kerja dan upah layak.

Tapi, hey, gimana mau “kurangi bekerja, perbanyak bercinta” kalau urusan bercinta masih bermasalah dan dipermasalahkan?

Jadilah topik esek-esek perlu digosipkan, kalau kita bersedia jujur terhadap reaksi alamiah tubuh, dan mengakui bahwa kebutuhan seksual sama halnya makan minum sehari-hari. Menjadi penting pula ketika kita sadar bahwa kenikmatan seksual sangat politis dan tidak terlepas dari konstruksi budaya dan industri.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Libido dan Orgasme Saja, Perempuan juga Diatur-atur

Entahlah, apa kelas pranikah yang diinisiasi oleh Pak Muhadjir Effendy juga mengakomodir pelajaran ML dari sisi ilmiah sampai tinjauan fikihnya? Kalaupun iya, rasanya kok terlambat. Gejolak hormonal begitu kan dialami sejak usia mimpi basah atau menstruasi pertama seseorang, atau bahkan sebelum itu. Mestinya jadi materi wajib di kelas-kelas pendidikan seksual, jauh sebelum mau kawin.

Dengan begitu, silabus pendidikan seks tentu bukan hanya kesehatan reproduksi, tapi juga kesehatan masturbasi. Agar para remaja (dan saat dewasa) paham bagaimana cara merespons gejolak seksual, kiat-kiat mengendalikan, mengelola, hingga penjelasan manfaatnya untuk kesehatan dan kebugaran jasmani.

Apalagi, kita hidup di era unblock VPN browser adalah koentji segala situs. Blokir memblokir pun bukan solusi. Dibutuhkan pendidikan seks yang kaffah dan berparadigma kritis, yang tidak luput mengulas seksualitas dan pornografi.

Jika seksualitas adalah hasrat (lust) individu yang terkait konstruksi psikis, pornografi adalah industri. Sebagai industri, pornografi jelas tidak mengedukasi. Pornografi sama dengan lagu-lagu pop dan FTV picisan, sama-sama mengaduk-aduk hasrat individu.

Baca juga: Siapa Sebetulnya yang Bikin Kita Jadi Baper?

Kalau produk lagu pop dan FTV membangkitkan gairah pacaran dan patah hati, produk pornografi membangkitkan fantasi dan gairah onani. Semakin banyak dikonsumsi, semakin liar imajinasi. Semakin banyak referensi, semakin sulit ‘basah’ dalam satu durasi.

Terlebih, jika itu hanya genre-genre konvensional, maka terbitlah threesome, gangbang, BDSM, dan lain-lain. Menunjukkan betapa kreatifnya sineas-sineas porno dalam mengikuti selera pasar. Namun, seburuk-buruknya industri porno, punya faedah juga. Khususnya bagi para pasutri, apalagi yang perkawinannya mulai garing.

Bayangkan, betapa konyol jika ada sepasang pasutri muda yang baru kawin tidak tahu teknik foreplay dan intercourse. Dikira kimpoy itu perkara prokreasi alias bikin anak semata, apa? Sungguh merugi mereka yang gagal memaknai aktivitas senam ranjang. Maka, di situlah produk pornografi punya peran, sebagai instruktur senam dan perekat jalinan kasih sayang. Dengan catatan, jadilah kritis sebagai konsumen.

Sialnya, dalam budaya kita, laki-laki sebagai penonton lebih tidak terbebani secara moral ketimbang perempuan. Saya tidak tahu, apakah teman-teman perempuan saya mengenali tubuhnya sendiri, jika seumur hidup mereka menabukan kenikmatan seksualnya?

Artikel populer: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Firliana Purwanti, seorang aktivis keadilan orgasme, menemukan fakta bahwa banyak perempuan tidak menikmati, bahkan kesakitan setiap kali nganu, alih-alih merasa puas. Lewat bukunya The O Project, ia menuliskan pengalaman seksual perempuan dengan mewawancarai 11 perempuan dari berbagai daerah. Jadi, ketika Yuni Shara berani terang-terangan bilang “saya tidak pernah orgasme” di channel Youtube Deddy Corbuzier, seharusnya kita mengapresiasi kejujurannya.

Dogma perempuan ‘baik-baik’ membuat banyak perempuan tidak ekspresif perihal hasrat ketubuhannya. Sampai-sampai perempuan dipersepsikan harus kode-kode kalau ‘minta’. Yaelah, kalau laki-laki bisa langsung smekdon, kenapa perempuan mesti bergelagat dulu?

Sayangnya, perihal ketidakadilan ranjang ini tidak bisa saya ulas lebih dalam. Bukannya apa-apa, pengalaman saya baru sejauh DIY alias Do It Yourself.

1 KOMENTAR

  1. Umm.. Tinder brought me here.
    I think you got the point where a lot of hypocrite think that sex ed arent useful..
    But girl, you have a strong words up there keep it up ❤

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini