Ketahuilah, Pemain Bola dan Anggota ‘Boyband’ itu Beda-beda Tipis

Ketahuilah, Pemain Bola dan Anggota ‘Boyband’ itu Beda-beda Tipis

Ilustrasi (Youtube/Kevin Moyer)

Sastrawan kanon asal Argentina, Jorge Luis Borges, dikenal sebagai pembenci sepak bola. “Sepak bola sangat populer karena kebodohan begitu populer,” sindirnya. “Sepak bola adalah satu kejahatan Inggris terbesar,” ledeknya. Permainan yang buruk rupa secara estetik, tambahnya.

Kalau saja Borges seorang selebtwit dan komentar-komentarnya tadi jadi tweet, tentu saja bakal viral dan menciptakan polemik. Beberapa akan membelanya, sebagian lagi akan menentangnya. Misalnya dengan mengutip Albert Camus atau Eduardo Galeano atau mention pakar bola macam Zen RS atau Pangeran Siahaan. Yang pasti, Borges bakal dihujani protes.

William McGregor, pengusaha tenun Skotlandia yang mendirikan liga sepak bola Inggris pada 1888, orang pertama yang menggambarkan olahraga itu sebagai ‘bisnis besar’. Frasa yang telah menjadi satu klise sepak bola.

Kemudian dengan mekanisme kapitalisme, ‘bisnis besar’ ini disulap jadi ‘agama terbesar’. Menyindir sepak bola dan pendukungnya sama saja cari mati.

Media sosial telah menjadi satu elemen penting fandom olahraga, terutama sepak bola. Banyak orang hari ini menonton pertandingan sambil bergurau dengan pendukung lain lewat ponsel mereka, yang menjadi layar kedua.

Kehadiran media sosial bisa mengikat yang sekubu sekaligus meruncingkan mereka yang beda kubu. Tandingan fanatisme para pendukung sepak bola mungkin hanya bisa diimbangi oleh pencinta K-Pop. Mereka sama-sama fanatik, bahkan lebih religius ketimbang kaum agamawan. Mereka gigih dalam membela kepercayaannya.

Baca juga: Sosialisme Adalah Kejutan Dalam Sepak Bola, tapi Kapitalisme Menikmatinya

Sepak bola dan grup idol sebenarnya punya banyak kesamaan: para pemain ‘menari’, tontonan yang menarik massa, ada semacam pengkultusan, bakal ada yel-yel dan jeritan, dan ini merupakan industri yang mendatangkan banyak profit. Pemain sepak bola dan anggota grup idol pun kadang nyambi jadi bintang iklan.

Yang membedakan, sepak bola tak bisa dimainkan di panggung musik, sementara boyband bisa ditanggap di dalam stadion sepak bola.

Ya konyol saja menggelar pertandingan antara Persib lawan Persija di ICE BSD. Tapi sangat mungkin untuk mengundang Super Junior untuk manggung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Seperti yang terjadi saat seremoni penutupan Asian Games 2018.

Menonton penampilan Super Junior yang membawakan lagu Sorry Sorry, Mr Simple, dan Bonamana, saya kembali teringat saat pertama belajar menghafal nama member grup idol. Tiga video musik dari lagu-lagu hits tadi jadi sarana belajar ketika itu. Apalagi sebagai pemula, ini adalah pengalaman yang menyiksa sekaligus mengasyikkan.

“Kok mukanya sama semua?” Ini merupakan pertanyaan sekaligus sindiran yang sering dilontarkan. Padahal, membedakan anggota boyband sebenarnya semudah membedakan pemain sepak bola.

Yang bikin jadi susah karena yang satu dianggap lebih maskulin. Lebih keren bisa menghafal nama-nama pemain Manchester United ketimbang anggota boyband Super Junior, misalnya.

Saat perhelatan Piala Dunia 2002, dirilis buku-buku tulis dengan sampul belakang menampilkan foto tim sepak bola dari negara tertentu. Ketika itu, saya masih SD dan merasa takjub dengan kemampuan teman-teman yang bisa mengabsen nama-nama pemain sepak bola.

Artikel populer: Pikiran Ngawur seputar Rok Makin di Atas, Prestasi Makin di Bawah

Saya sendiri paling banter cuma bisa menyebut yang mana Ronaldo dan yang mana Michael Ballack. Memang, penyerang bakal lebih terkenal ketimbang posisi lainnya.

Dalam sepak bola, tiap pemain punya peran dan fungsi berbeda. Ada yang namanya kiper, bek, gelandang, dan penyerang. Seperti halnya dalam sepak bola, anggota boyband pun punya pembagian tugas. Ada vocalist, dancer, rapper, dan peran tambahan unik yang disebut ‘visual’.

Dalam penampilan Super Junior tempo hari, member yang paling diingat dan sering disebut adalah Siwon. Visual yang dianggap paling menarik oleh serangkaian standar ketampanan ideal.

Mereka juga biasanya sering jadi aktor. Peran visual adalah untuk menarik perhatian ke grup, memikat penggemar potensial dengan fitur-fiturnya yang menakjubkan.

Visual berdiri di depan dan di tengah pada setiap foto grup, mengiklankan produk perawatan kulit dan minuman kesehatan, dan diundang untuk jadi model di beberapa majalah fesyen paling bergengsi di Korea.

Ketika Siwon jadi bahan perbincangan karena kerupawanannya, fungsinya sebagai visual terlaksana. Meski begitu, dalam hal vokal, Siwon pun bertalenta.

Ini juga berlaku dalam sepak bola bahwa tidak semua pemain bakal diundang jadi bintang iklan. Hanya yang bertalenta cemerlang dan seringnya yang punya citra visual yang memikat, seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo.

Sekali lagi, sepak bola dan grup idol sebenarnya punya banyak kesamaan, yang membedakan yang satu lebih dianggap maskulin. Yang pasti, jangan bikin ribut sama pendukung keduanya.

We are one! Let’s love…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.