Nyaris Jadi Korban Pelecehan Seksual Pengemudi Ojek ‘Online’

Nyaris Jadi Korban Pelecehan Seksual Pengemudi Ojek ‘Online’

Ilustrasi (Lum3n/pexels.com)

Hadirnya ojek online tentu membawa kemudahan bagi banyak orang yang hendak berpergian. Terlebih, bagi mereka yang tidak punya kendaraan, seperti saya contohnya. Namun, bagaimana jika ada oknum-oknum pengemudi ojek online alias ojol yang berperilaku menyimpang?

Tulisan berikut ini tidak bermaksud menjelek-jelekan ojek online, tetapi memang saya sendiri mengalami kejadian ini dan nyaris menjadi korban. Kejadian itu terjadi di sekitar gang kos-kosan saya pada 27 Februari 2018.

Tepat pukul 13.00, saya keluar dari kos dengan mengendarai sepeda ontel menuju arah kampus. Hanya berjarak sekitar tiga rumah dari kos, ada seorang laki-laki separuh baya berpakaian lengkap dengan atribut ojek online. Dia duduk di atas motor bebek dengan keadaan mesin motor menyala.

Kemudian, saya mengayuh sepeda melewati laki-laki tersebut. Tetapi saat melewatinya, dia memandang wajah saya cukup lama. Saat itu, perasaan mulai tak enak. Dan benar saja, dia memanggil saya, “Mbak… mbak, sini dulu.”

Saya menoleh ke belakang, tetapi terus mengayuh sepeda. Setelah dia memanggil beberapa kali, kemudian baru saya berhenti. Dalam hati, muncul rasa takut melihat wajahnya yang kayak orang bingung. Apalagi, gang di sekitar kos-kosan terbilang sempit dan sepi bahkan selalu sepi, meskipun siang hari.

“Ada apa, Mas?” ucapku – sambil baca istighfar dalam hati dan berdoa memohon kepada Allah agar melindungi saya dari hal-hal jahat.

Dia pun mematikan mesin motornya. “Di sini kosan cowok di mana ya, Mbak?”

“Itu di sana,” ujar saya menunjuk kosan cowok, tetapi dia tidak mengikuti arah telunjukku. Dia malah memperhatikan tubuhku. Saya mulai gemetaran, apalagi tidak ada orang yang lewat saat itu.

“Sudah dulu ya, Mas.”

Kemudian saya berlalu di depannya dan mengayuh sepeda sekuat tenaga. Dia terus memanggil-manggilku sampai beberapa kali, “Mbak… mbak…”

Persis di pertigaan jalan ketika hendak belok kanan, saya beranikan diri menoleh ke belakang. Dia masih melambaikan tangannya memanggil saya. Dan, saya hanya bilang, “Itu di sana.”

Setelah itu, saya hilang dari pandangan matanya. Hingga sampai di kampus, keringat saya bercucuran dan nafas sangat tidak beraturan sekali.

Semula, saya tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Hingga suatu malam pada 4 Maret 2018, saya akhirnya menceritakan kejadian tersebut pada ibu penjaga sekaligus yang bersih-bersih di kosan. Setelah diceritakan, tak ada tanggapan selain mengucapkan berhati-hati dan waspada.

Namun, pagi hari pada tanggal 5 Maret, saat saya keluar kamar, ibu penjaga sedang menyapu di depan kamar. Dia lalu memanggil saya, “Mbak, apa yang mbak ceritakan semalam itu saya ceritakan juga pada anak kosan sebelah. Ternyata mbak yang saya ceritai itu juga mengalami hal yang sama seperti mbak dan ojek online-nya juga sama,” tuturnya.

Si ibu kemudian melanjutkan ceritanya. Dia bilang, “Kejadiannya masih di tempat itu juga dan dia juga pura-pura menanyai hal yang sama. Pengemudi ojek online itu membuka celananya dan melihatkan ‘anu’-nya pada mbak itu.”

“Terus, apa yang terjadi?” tanya saya penuh rasa penasaran.

“Mbak itu lari ketakutan. Kayaknya pengemudi ojek online itu ada kelainan deh mbak, mau melihatkan ‘anu’-nya.” Begitu kata ibu penjaga kos saya.

Duh, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi pada saya ketika itu? Bagaimana kalau dialami juga oleh perempuan yang lain? Atau, terjadi pada diri Anda? Amit-amit ya, saya tidak mau membayangkannya. Semoga tindakan pelecehan tersebut tidak terjadi pada Anda dan perempuan manapun.

Ya, lagi-lagi perempuan masih menjadi korban pelecehan seksual dan menjadi objek pemuas nafsu laki-laki yang kacau. Ini adalah satu bentuk untuk melecehkan perempuan dengan cara yang lain.

Jika perilakunya seperti itu, kemungkinan besar sudah banyak perempuan yang menjadi korban pelecehan si pengemudi ojek online tersebut. Bisa jadi korbannya adalah penumpangnya sendiri.

Saran saya, pihak perusahaan penyedia aplikasi angkutan online lebih selektif dalam merekrut para pengemudi. Dan, jangan ragu memberi sanksi tegas kepada pengemudi yang melecehkan perempuan. Kalian itu sudah mendapat kepercayaan masyarakat, jangan khianati itu!

Kembalilah ke khittah, wahai pengemudi angkutan online… Ini bukan hanya persoalan mengantar dan menjemput penumpang, tetapi bagaimana penumpang merasa aman dan nyaman.

Pihak perusahaan juga seharusnya melakukan serangkaian tes, seperti tes kejiwaan dan semacamnya. Jangan cuma mendaftar, bayar sekian rupiah, asal ada kendaraan, bisa bergabung. Tidak bisa sebatas itu.

Saya belum tahu apakah perusahaan penyedia aplikasi angkutan online memiliki kode etik untuk pengemudi atau tidak, tapi seharusnya sih ada. Ini demi keamanan dan kenyamanan penumpang.

Saya juga ingin mengajak para perempuan untuk berani bersuara mengungkap perilaku pengemudi ojek online atau siapapun orang di sekitar kita, yang melakukan pelecehan. Sebab, semakin kita diam, semakin kita dijajah dan terus dianggap lemah.

Semoga kejadian ini menjadi kewaspadaan agar kita lebih berhati-hati.

4 COMMENTS

  1. Aku juga pernah mbak, tapi bentuk pelecehannya si driver sering ngerem mendadak, padahal posisi lagi nggak ada polisi tidur. Aku uda takut duluan mau negur, trauma pernah dipegang paksa di tempat gelap beberapa tahun sebelumnya. Takut nanti malah tambah diapa-apain. Mana jalannya juga gelap waktu tu. Akhirnya di tempat yang agak rame aku turun, belom nyampe rumah.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.