Ilustrasi. (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

Dunia begitu semarak memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) pada 8 Maret 2021. Beragam isu diusung, mulai dari kepemimpinan perempuan hingga berani mengambil pilihan dan tantangan. Pesannya jelas: melawan ketidaksetaraan, bias, dan stereotip yang dialami perempuan.

Hari Perempuan Internasional berawal dari unjuk rasa belasan ribu perempuan di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1908. Ketika itu, beberapa tuntutannya terkait dunia kerja, antara lain peningkatan standar upah dan pemangkasan jam kerja.

Nah, 113 tahun berselang, masih di dunia kerja, perempuan juga menghadapi masalah yang sama krusialnya, yaitu pelecehan seksual. Kasus pelecehan seksual di lingkungan kerja ini bahkan sudah memprihatinkan. Meskipun pandemi mengharuskan sebagian pekerja untuk bekerja dari rumah, pelecehan seksual tetap saja marak via teknologi digital.

Sebenarnya ada beberapa cara untuk peduli isu perempuan tersebut, salah satunya aksi sosial melalui aplikasi Campaign #ForChange. Sebab dengan satu aksi sekalipun, kita bisa melakukan perubahan besar.

Dan, untuk melihat gambaran terkini terutama mengenai pelecehan seksual di dunia kerja, berikut penjelasan dari Poppy Dihardjo, Founder Perempuan Tanpa Stigma (PenTas):

Pelecehan seksual seperti apa yang harus diwaspadai di dunia kerja saat ini, mengingat teknologi semakin maju?

Mungkin lebih ke pelecehan secara verbal. Bisa dari panggilan yang diberikan kepada kolega perempuan atau candaan yang inappropriate. Contohnya, saat ada orang yang bercanda seksis di grup WhatsApp (WA) pekerjaan. Ada yang pernah cerita ke aku bahwa dia diberi panggilan ‘pabrik susu’ karena berpayudara besar melalui message di grup WA pekerjaan. Belum banyak yang aware kalau kekerasan seksual itu tidak hanya physically, tetapi melalui kata-kata/verbal itu juga bisa membuka jalan untuk kekerasan seksual di workplace.

Apakah hukum kita sudah menjangkau kasus-kasus seperti itu?

Aku belum bisa bilang sudah atau belum, karena belum ada data rinciannya. Yang pasti, pemerintah dan para leaders itu harus bikin inisiatif untuk memastikan bahwa kebijakan yang ada tidak berat sebelah (kebijakan antara laki-laki dan perempuan itu timpang) dan harus relevan. Kita sebagai rakyat harus bisa berjuang, mendorong para leaders, mendesak mereka untuk membuat kebijakan terhadap hal ini. So far, sulit ya.

Apa yang perlu dilakukan ketika kita menjadi korban pelecehan seksual di dunia kerja?

STAR method: Stop, Think, Assess, and Respond.

Pertama, stop dulu. Kadang-kadang, kita tidak bisa pikir langsung, hal yang baru kejadian itu apa ya? Kita harus stop dulu for a moment untuk memastikan bahwa diri kita tahu apa yang kita rasakan.

Kemudian, pikirkan. “Oke, I think ini adalah kekerasan seksual, ini tidak bisa dibiarkan.”

Lalu, assessment. Mungkin kita bisa ngomong ke orang terdekat kita atau HR atau rekan kerja yang lain. “Eh, aku tadi dikomentarin nih kalau pantatku bagus, itu kekerasan seksual kan ya? Apa sih yang bisa aku lakukan?” Kemudian, bicarakan.

Yang terakhir, ada respond. Bisa dengan cara ke HR ataupun prosedur lain di perusahaan mengenai pelaporan pelecehan seksual yang bisa kamu ikuti.

Mental block pekerja yang menjadi korban pelecehan adalah susah mendapat pekerjaan/penghidupan, terutama relasi kuasa. Bagaimana memperkuat korban?

Sebagai bystander, make sure hal pertama yang kita lakukan bukan mengkonfrontasi pelakunya, tapi tanya dulu korbannya. “Hey, are you okay? Do you need help?” Sehingga, sang pelaku juga akan merasa awkward, ada pihak yang intervensi perlakuan inappropriate mereka.

Kalau kamu melakukan konfrontasi, kamu akan membahayakan juga dirimu. Terkadang, jika kita intervensi langsung, kita juga kena nih. Terkadang orang tidak bisa melihat secara objektif. Jadi, harus pastikan juga bahwa kita tidak membahayakan diri sendiri. Fokus ke korbannya dulu. Tawarkan bantuan. “Kamu mau aku temenin ke HR?” Tapi jangan juga memaksa korban. Kalau kamu juga merasa bisa melakukan laporan, kamu bisa lapor ke HR secara spesifik, bukan atas nama korban, tapi saksi.

Apakah aturan perlindungan dari pelecehan seksual di dunia kerja sudah menyentuh pekerja paruh waktu hingga pekerja perempuan? Terutama, untuk melindungi kelompok perempuan rentan seperti buruh pabrik, penyedia jasa, driver ojol?

Kalau aku lihat dari industri pekerjaanku, di dunia advertising, yang paling rentan itu adalah anak-anak interns. Mereka cenderung menjadi target pelecehan seksual di lingkungan kerja, karena hanya akan ada di perusahaan dalam waktu singkat. Di salah satu kasus yang aku tangani, ada perusahaan yang hanya memberi SP (surat peringatan) saja ke pelaku kekerasan seksual kepada seorang intern. Sedih nggak? Hanya karena korbannya intern, yang dianggap bukan karyawan tetap di perusahaan itu, kasus pelecehan seksual tidak dianggap serius.

Mungkin kalau di pabrik, dari cerita teman-temanku yang bekerja di lingkungan pabrik, itu masih timpang banget. Relasi kuasa masih sangat signifikan. Terutama, jika mereka (atasan) merasa bahwa para buruh pabrik lah yang membutuhkan pekerjaan, itu akan ada ketimpangan ini. Cuma, unfortunately aku tidak bisa bicara atas pengalaman mereka, karena aku tidak punya pengalaman di sana.

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika maraknya pelecehan seksual dijadikan ‘bahan bakar’ oleh kelompok tertentu untuk kampanye domestifikasi perempuan?

Menurutku, ini narasi yang berasal dari laki-laki banget. Justru, yang perlu kita lakukan sebagai perempuan adalah dengan tidak mengamini/mengiakan pemikiran seperti itu. Karena budaya kita masih kental dengan patriarki, sangat penting bahwa kita sebagai perempuan, untuk tidak mengamini hal itu. Namun, juga harus paham terhadap hak-hak kita sebagai perempuan di lingkungan kerja. Satu hal yang kita sering lupa adalah hal-hal yang ada di dalam kontrak. Apa hak kita dan apa kewajiban perusahaan. Bahkan, kalau di kantorku, urusan perpajakan pun yang bermasalah rata-rata adalah perempuan. Kenapa sih kayak gini? Karena kita sebagai perempuan, cenderung dikondisikan untuk menerima saja, “Udah diterima saja, don’t be difficult”.

Jadi buat perempuan, jangan diamini, keep moving forward. Buat perempuan, hal pertama yang perlu kamu tanya saat interview itu, “Kultur perusahaan itu bagaimana?”

Seberapa memprihatinkan pelecehan seksual di dunia kerja saat ini?

Kasus pelecehan di lingkungan kerja semenjak pandemi tuh memprihatinkan terutama pada kategori verbal melalui teknologi, misalnya pada virtual meeting. Sudah ada kok, organisasi di Indonesia yang melakukan riset untuk angka kasusnya.

Apa langkah awal yang praktis dan cukup efektif atau bersifat pertolongan pertama ketika mengalami pelecehan?

Kalau aku, terkadang kita terlalu sering untuk memberikan semua tanggung jawab pada korban untuk melakukan sesuatu, which is not fair. Tapi kurang lebih, hal yang bisa kita lakukan itu tergantung dari posisi kita.

Sebagai korban, pertolongan pertama diri sendiri adalah dengan STAR method. Sebagai bystander, pastikan kita fokus ke korbannya dahulu. Divert the attention by shielding her, asking “Are you okay? Do you need help? Kamu mau aku temenin ke HR? Kamu mau menenangkan diri dulu?” Make sure she/he is okay.

Apakah perlu ada aturan internal untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut, lalu ilustrasinya seperti apa?

Membuat kebijakan yang inklusif dan tidak berat sebelah. Aku menginisiasi yang namanya “No Recruit List” (NRL), yang merupakan database pelaku kekerasan seksual di lingkungan kerja, yang sistemnya berdasarkan aduan. Jika ada sexual misconduct di kantor, kita akan menghubungi perusahaannya untuk mengawasi, mengevaluasi, dan membatasi pelaku kekerasan seksual.

Menurutku, belum banyak perusahaan yang punya SOP tentang penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan kerja. Saat ini, NRL berusaha untuk melakukan training kepada HRD terhadap hal ini. Yang terpenting adalah edukasi leaders-nya, bukan karyawan. Leaders lead. Kalau mereka memimpin dengan example, yang lain tentu bisa mengikuti. It starts from the top. “Kalau leaders masih ketawa kalau ada anak buahnya yang bercanda seksis, ya bakalan terus bercanda seksis dia.”

Tapi, kalau ada anak buah yang bercanda seksis, tapi jika leaders-nya maupun HRD teredukasi tentang hal ini, anak buah pun bisa tahu kalau hal-hal kekerasan seksual, mulai dari bercandaan, pemberian julukan, maupun pelecehan secara fisik itu sifatnya sangat inappropriate.

Terakhir, apa pesan-pesan yang ingin disampaikan?

Nah, aku ada inisiatif namanya “No Recruit List”, dimana kita memegang database pelaku kekerasan seksual, mau yang dilakukan di kantor ataupun di luar, yang bisa diakses oleh semua HR di Indonesia. Aksesnya tidak umum, mereka harus bertanya kepada kita, “Eh Poppy, kita lagi merekrut seseorang nih, boleh tolong cek gak apakah nama-nama ini ada di list-mu?” Kalau ada, ya kami akan sampaikan. Sudah ada beberapa kasus dimana pegawainya diberhentikan atau tidak di-hire.

Jadi mikir aja dulu sebelum melakukan sesuatu, apalagi pelecehan seksual, karena saat ini banyak organisasi seperti NRL yang akan bikin kalian susah nyari kerja!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini