Pelakor Lagi, Pelakor Lagi, Perempuan Lagi yang Salah

Pelakor Lagi, Pelakor Lagi, Perempuan Lagi yang Salah

Ilustrasi (katariau.com)

Disclaimer: tulisan ini sedikit banyak akan melukai ego perempuan-perempuan di luar sana, terutama barisan istri yang siap pasang badan membela sang suami mati-matian, tidak peduli yang sedang dibela benar atau salah. Tidak masalah. You’ve been warned and you can always disagree with me.

Sudah baca beberapa posting-an di media sosial yang sempat viral belakangan ini? Yes, apa lagi kalau bukan soal (lagi-lagi) dugaan perselingkuhan yang melibatkan pria beristri.

Peristiwa ini menjadi semakin drama lantaran disertai video aksi pelabrakan oleh si istri, yang diketahui bernama Bu Dendy, yang mengumpat sambil menghujani si perempuan dengan lembaran uang seratus ribuan.

Saking gemparnya kasus ini di antero negeri, sampai tulisan ini dirilis, tagar #BuDendy di jejaring sosial Twitter pun masih bertengger di peringkat pertama trending topic Indonesia.

Terlepas dari isi posting-an dan kasusnya, rasanya ada yang ‘menarik’ dari cara netizen – yang didominasi kaum perempuan – dalam berkomentar. Di situ, si perempuan, yang katanya menjadi selingkuhan si laki-laki, mendapat hujatan sedemikian rupa tanpa kenal ampun.

Ada yang menyebut perempuan nggak tahu dirilah, dibilang perempuan “kok bego banget mau-maunya jadi selingkuhan-lah”, dikatain pelacur, disumpahin kena azab dan gosong di kerak neraka, inilah-itulah…

Puas?

Tentu saja belum. Biar makin drama, tidak lupa juga sebar foto dan screenshot percakapan lengkap dengan caption: PELAKOR alias perebut laki orang.

Saya sendiri sangat tidak setuju dengan istilah ‘pelakor’ yang secara serampangan disematkan kepada perempuan-perempuan yang menjadi partner selingkuh si pria. Ada aroma maskulinitas yang kuat dari kata ‘perebut’ di sini. Perebut artinya orang yang merebut, bukan?

Yang jadi soal, pada setiap kasus dugaan perselingkuhan, kenapa hanya si perempuan yang kesannya paling agresif, mencuri, dan mengejar-ngejar suami orang? Sementara selingkuh adalah tindakan super sadar yang dikerjakan dua manusia, bukan hanya si perempuan.

Pun pada setiap kasus perselingkuhan, istri juga tidak pernah lepas dari penghakiman sosial. “Wah, pantes suaminya selingkuh. Istrinya malas dandan dan sibuk kerja begitu, sih.”

Wah, enak sekali ya jadi laki-laki…

Saya tidak sedang mendukung perselingkuhan, tapi menganggap perempuan sebagai satu-satunya pihak yang paling salah, rasanya kok bukan sesuatu yang bijak. Jika selingkuh itu salah, maka keduanya sama bersalahnya.

Jangan karena satu pihak sudah diikat secara hukum dan agama dengan orang lain, maka kesalahan ditimpakan sepenuhnya kepada pihak lain. Standar ganda banget.

Saya juga tidak sejalan dengan cara barbar yang dipilih pasukan ‘anti-pelakor’ dalam membongkar kehidupan pribadi si perempuan sampai menyeret dan mencemooh keluarganya.

Kalau memang tidak suka dan merasa keberatan, ya sampaikan hal-hal yang substansial saja, tidak perlu membawa-bawa urusan pribadi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan perselingkuhan. Ad hominem.

Apa karena dia adalah seorang perempuan, lalu siapa pun berhak melemparkannya sampai ke titik terendah? Sementara aib dan ketidaksetiaan si suami biarlah ditutup serapat mungkin, atau kalau perlu disiram air kembang biar wangi lagi. Begitu?

“Kamu bisa ngomong begini karena belum pernah menikah dan punya suami. Tunggu saja sampai kamu jadi istri!”

Ya nggak begitu. Anda juga tidak bisa memaksakan visi pribadi kepada orang lain. Ingat, nggak semua orang memilih menikah sebagai tujuan hidup.

Fenomena labrak-upload-permalukan semacam ini rasanya sudah seperti domino effect. Persis sinteron, semakin hari, hal-hal absurd seperti ini semakin sering kita temui.

Jika dulu kasus perselingkuhan dianggap sebagai aib pernikahan yang harus ditutup serapat mungkin, sekarang orang sudah tidak ragu lagi membeberkannya di media sosial. Yang penting amarah tersalurkan, perkara malu dipikir nanti.

Alasan memberi efek jera dan sanksi sosial dengan cara tidak mendidik semacam itu juga percuma. Kenapa harus selalu perempuan yang disalahkan? Bukankah selingkuh hanya bisa terjadi kalau keduanya sama-sama mau?

Rasanya ngeri membayangkan dunia yang isinya perempuan yang bukannya saling menguatkan, tapi malah saling serang. Ya, mereka ada dan akan selalu ada di sekitar kita.

10 COMMENTS

  1. “Wah, enak sekali ya jadi laki-laki…”

    Ga juga. Cowo nganggur dicap jelek koq lebih parah daripada cewe nganggur. Dan ini jugalah yang bikin cowo itu harus bekerja. Gak seperti cewek yang nganggurpun bisa survive*

    Beda ama (sebagian) cewe yang kerja asal-asalan cuma ngisi waktu luang nunggu dikawinin. Begitu kawin, jadi ibu RT yg gak punya keahlian dan pemasukan sama sekali.

    Sehingga ketika lakinya selingkuh, dia gak berani ke sang providernya sendiri. Kemarahannya cuma bisa dia salurkan ke cewek selingkuhannya. Cerai? Haha gila aja, mau makan apa?

  2. Jika dibaca dengan seksama, maksud dari tulisan ini adalah agar kita tidak menyalahkan perempuan yang menjadi selingkuhan saja. Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan laki-laki sepenuhnya. Dalam kasus perselingkuhan, all parties concerned have their own share of responsibility. Wanita yang menjadi selingkuhan seharusnya tidak bermain api dengan pria yang sudah diketahui beristri (lain cerita kalau ternyata dia dibohongi, pria berkata belum menikah, berarti dia juga korban). Pria-nya ya harusnya tidak jelalatan jajan di tempat lain, syukurilah apa yang dimiliki – perbaiki apa yang rusak di rumah. Istri sah-nya juga kalau sudah tahu suaminya selingkuh, mbok ya diingatkan dan ditegur dengan halus, mungkin khilaf. Jangan diam saja tapi kemudian meledak. Only if it gets too much dan suami tidak mau tobat, ultimum remedium ya berpisah — but again, only if the couple had already exhausted all other options possible seperti berdamai lagi, ke konsultan keluarga, dll. Jangan hanya karena tidak mau bercerai lalu mencak-mencak mempermalukan si selingkuhan, padahal yang melakukan perselingkuhan itu dua manusia dewasa yang mengambil keputusan sendiri untuk selingkuh meski sama-sama tahu itu salah.

    Mas di atas, anda berbicara seolah pria yang selingkuh pasti istrinya tidak bekerja dan/atau istrinya malas dandan. Tidak juga, banyak yang istrinya bekerja, cantik juga tapi tetap saja dimadu. Masalahnya, rumput selalu lebih hijau di taman tetangga, sehingga istri bertugas mengingatkan suami, “Hey, you know what, our grass is actually greener. Let’s water it everyday, you and me.”

    Dan mas, sekarang jamannya sudah berbeda. Teman-teman wanita saya banyak yang menganggur dan tertekan juga. Memangnya uang jatuh dari langit? Beli make-up pakai daun? Kalau minum kopi sama teman-teman dan ditanya kerja di mana, memangnya karena kita wanita maka kita tidak akan stress? Sama saja.

    Masalah survive/nggak survive, ada pula teman-teman pria saya yang tidak bekerja dan tetap survive tanpa rasa malu, sehari-hari nge-gym terus entah uang dari mana. Baik pria maupun wanita yang menganggur, toh sama juga sumber uangnya untuk survive ya dari keluarga (ayah/ibu/kakak/saudara kalau mampu membiayai).

    Banyak teman wanita yang memilih tidak bekerja setelah punya anak bukan berarti karena statusnya sebagai wanita tapi karena ingin mencurahkan perhatian penuh kepada anak, dan ini pun pasti sudah disepakati suami. Ya kalau berkeluarga, salah satu harus bekerja, kalau tidak nanti bayi dan seisi rumah makan apa? Pasti sesuai kesepakatan, kalau istri yang bekerja, suami tinggal di rumah. Kenapa lebih banyak suami yang bekerja dan istri yang di rumah, logikanya karena lebih efektif dalam arti ya suami kan tidak bisa menyusui (meski sekarang bisa juga ASI ditaruh di botol, tapi kasihan anaknya sih). Kakak saya sarjana teknik sipil, setelah melahirkan dia memutuskan menjadi ibu rumah tangga, satu: karena suaminya tidak mau bertukar posisi untuk jadi stay-home dad sehingga harus ada yang bekerja, dua: karena dia mau full-time mengurusi anak dan suaminya tidak keberatan.

  3. Kenalanku malah miris lagi. mantan suaminya selingkuh sana sini.

    kenalanku pasrah, sampai ngomong dari pada si suami main perempuan dibelakang, mending cerita sama dia siapa pacarnya, bagaimana, dan berbuat apa saja.

    Hingga suatu saat kenalanku itu mendatangi pacar suaminya. Meminta dia buat jadi istri kedua untuk suaminya. pacar suaminya itu tidak mau. karena ternyata dia tidak tahu bahwa si lelaki udah punya istri.

    tak lama kemudian kejadian itu berulang dan terus berulang. si suami cerita ke istrinya kalau punya pacar lagi. bahkan waktu si istri hamil!. untungnya waktu si istri minta pacar2nya untuk jadi istri kedua, entah kenapa selalu ndak mau atau gagal pernikahannya.

    sampai akhirnya kenalanku minta cerai. dan apa tanggapan keluarga si mantan suami?? “Kamu itu harusnya maklumi kalau suamimu nikah lagi. wajar kalau laki-laki punya istri lebih dari satu. biarkan dia bersenang2”. kenalanku cuman bisa diam.

    dari situ aku tahu ternyata faktor lingkungan dan keluarga juga mempengaruhi pola pikir.. sampai sekarang kenalanku trauma menikah. jangankan dia, aku aja jadi takut nikah begitu denger pengalamannya..

    Ada juga istri yang pasang badan mati-matian dengan cara seperti itu. menyedihkan. walaupun akhirnya cerai.

  4. Yang bikin istilah perempuan, yang bikin jadi rame juga perempuan, yang emosi dan yang simpati juga perempuan, yang anti istilah itu juga perempuan, yang kontra sama yang anti istilah itu juga perempuan.

    Bikin sendiri, rame sendiri, nentang sendiri, ribut sendiri, berantem sendiri.

    Ga heran digabung di satu gerbong aja kerjaannya berantem mulu.

  5. Setuju sama kamu Ariana , saya cerita sama suami tentang pola pikir istilah pelakor ini trus jawabannya dia makjleb banget : lah kan kalian para wanita sendiri yg sedari awal ribut sendiri ,jawabannya ya kurang lebih sama kayak kamu , perempuan yg mulai,perempuan yang ribut sendiri , sebenarnya hal paling awal yg harus dilakukan adalah merubah pola pikir wanita terhadap sesama wanita ,itu dulu deh..itu aja susahnya minta ampun hahaha..

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.