Yang Tidak Kita Sadari dari Fenomena Pelakor dan Bu Dendy

Yang Tidak Kita Sadari dari Fenomena Pelakor dan Bu Dendy

Ilustrasi (Efes Kitap/pixabay.com)

Jagat dunia maya, khususnya di Twitter, sempat heboh oleh nama Bu Dendy. Namanya tiba-tiba melesat ke urutan nomor satu trending topic Indonesia.

Masanya Dilan sudah lewat. Masa-masa rindu itu berat kini sudah digantikan oleh, “Nyoh duit, Nyoohh.”

Nama Bu Dendy menjadi viral setelah aksi rekaman videonya tersebar. Video itu menampilkan sosok perempuan yang sedang duduk menunduk. Ia dimaki-maki dengan kata-kata hinaan dalam bahasa Jawa.

Tak hanya itu, wajah dan tubuhnya juga dilempari uang lembaran Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu dalam jumlah yang sangat banyak.

Reaksi pun bermunculan dari warganet. Tentu saja, bukan warganet namanya jika tidak memberikan reaksi yang unik menyambut segala hal yang viral.

Beragam cuitan muncul, mulai dari yang ingin dapat uang dari Bu Dendy meski harus mencari masalah dengannya, hingga yang pura-pura dapat uang dari Bu Dendy seperti Bude Sumiyati.

Kemudian muncul juga cuitan yang menduga-duga siapa dan bagaimana kehidupan Bu Dendy. Sampai pada prediksi apa yang akan dilakukan olehnya dalam beberapa keadaan.

Kemunculan Bu Dendy seakan menjadi pengalihan fokus bagi warganet yang merasakan suasana bosan pada politik, yang hampir setiap waktu selalu diperbincangkan di media sosial.

Bahasan mengenai ‘pelakor’ memang selalu bikin heboh. Padahal, istilah ‘pelakor’ yang digunakan secara serampangan hanya merugikan perempuan, meski perselingkuhan dilakukan secara sadar antara laki-laki dan perempuan. Istilah itu seharusnya tidak relevan.

Yang lebih parah, dari beberapa kasus ‘pelakor’ sebelumnya, kerap disertai kekerasan fisik. Namun, dalam kasus yang melibatkan Bu Dendy, ini menjadi sesuatu yang tidak biasa. Tapi, lagi-lagi, tetap saja perempuan yang disudutkan.

Meski sebagian netizen menganggap video tersebut sebagai hal yang lucu, tapi sadarkah kita bahwa secara tidak langsung hal ini sebenarnya mempromosikan bentuk kekerasan terhadap perempuan?

Istilah ‘pelakor’ yang digunakan merupakan bentuk cerminan dari perspektif masyarakat akan stigma negatif dari perempuan sebagai penggoda.

Padahal, kalau bicara soal perselingkuhan, seharusnya kan ada dua pihak yang salah. Si pasangan dan orang ketiga. Kalau salah satu saja dari mereka tidak meladeni, perselingkuhan itu tidak akan terjadi toh?

Meski fenomena Bu Dendy ini lucu, tapi kita sebaiknya berhati-hati dalam menyikapi kasus ini dan kasus serupa yang mungkin terjadi pada kemudian hari. Jangan sampai kita secara tidak sadar sebenarnya sedang melanggengkan diskriminasi terhadap perempuan.

Love you all…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.