Ilustrasi kurir. (Image by Haynie C. from Pixabay)

Marah kadang bikin semuanya jadi nggak normal. Emosi memuncak, pikiran kacau, hingga keluar kata “blok goblok” yang mbulet banget dari seorang ibu kepada kurir – seperti di video yang viral belum lama ini. Tapi daripada terus berfokus pada kata-kata di video tersebut, sambil menghukum sang ibu beserta anaknya, kita semestinya juga fokus pada sisi pekerjaan si kurir.

Di situasi tertentu, kerja pengiriman barang oleh kurir nyatanya nggak segampang dan seenteng men-deliver kata “blok goblok”. Jika guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kurir pun kadang bisa dibilang sebagai pahlawan tanpa tanda apapun.

Peristiwa kurir yang dimaki karena barang tak sesuai pesanan adalah sekelumit cerita dari pandangan masyarakat yang kerap meremehkan pekerjaan jasa pengiriman, selain masalah teknis akibat kalah cepat dengan perkembangan teknologi digital.

Baca juga: Peringatan untuk Orangtua sebelum Marah-marah dan Viral di Media Sosial

Nggak cuma diomelin, saya pernah mendengar ada kurir yang malah ditipu waktu COD (cash on delivery). Ada pula yang diancam saat mengirim barang yang isinya nggak sesuai. Bahkan, sampai ada kurir yang sudah mengantar barang jauh-jauh, eh nyaris mengalami kekerasan fisik karena konsumen nggak mau bayar saat COD.

Setidaknya dari video yang viral dengan kata “blok goblok” tadi, kita sebagai konsumen harusnya lebih introspeksi. Seperti apa pandangan kita terhadap pekerjaan si kurir? Sudah sejauh mana kita memahami teknologi digital dan ketentuan belanja online? Dan, mungkin, kalau nggak ada kejadian itu, kita pun nggak tahu bagaimana kerasnya kehidupan kurir di lapangan.

Baca juga: Di Balik Toko ‘Online’ Ada Kerja Perempuan yang Terabaikan

Nggak cuma soal ngirim barang yang jaraknya jauh tapi pas sampai di lokasi orangnya nggak ada. Atau, barang yang dibawa seperti membawa beban hidup, berat dan banyak banget. Seorang kurir ternyata juga harus siap segala-galanya, termasuk – jangan sampe sih – diajak gelut oleh konsumen. Gelut dalam kondisi sebenarnya atau bergelut secara mental. Belum lagi, risiko kecelakaan di jalan.

Ada baiknya kita memposisikan diri sebagai kurir. Pada dasarnya, kurir juga manusia. Punya rasa punya hati, jangan samakan dengan belati koruptor dana bansos kala pandemi. Kurir juga kelas pekerja yang bergantung pada upah tak seberapa. Tugas utamanya mengantar barang pesanan, memastikan barang tersebut sampai dengan selamat. Jika ada yang lecet atau rusak, sah-sah saja komplain. Tapi, kalau barang nggak sesuai pesanan, bukan salah kurir, selesaikan dengan penjual terlebih dahulu.

Baca juga: Semua yang Bergantung pada Upah adalah Kelas Pekerja

Tanpa kurir, kenikmatan berbelanja kita bisa pupus. Nggak ada yang namanya belanja online yang kita sering andalkan saat ini. Banyak hal-hal penting jadi terhambat. Bahkan, pesanan sempak untuk kucing yang telat datang bisa bikin orang panikan dan mulai mikir yang nggak-nggak tentang si kurir. Ya begitulah kerja kurir, ia berjasa dalam urusan paling penting dan paling nggak penting umat manusia.

Menurut survei cepat yang dilakukan MarkPlus terhadap 122 responden di seluruh Indonesia dengan 59,8% berasal dari Jabodetabek dan 41,2% non-Jabodetabek, frekuensi penggunaan jasa kurir dibandingkan sebelum pandemi diakui oleh 39% responden meningkat signifikan dan 39% lainnya mengaku sedikit meningkat. Mayoritas masyarakat menggunakan jasa kurir untuk mengirim barang yang dibeli dari e-commerce, yakni sebanyak 85,2%.

Artikel populer: Cerita-cerita Pekerja NGO, dari Masalah Upah Hingga Percintaan

Namun, masih ada perusahaan yang ngasih fee ke kurir cuma mentok seribuan per paket. Atau, menerapkan sistem freelance dengan upah yang masih di bawah UMR. Dengan berbagai risiko dan beban yang ditanggung, menjadi kurir nyatanya memang nggak segampang dan seenteng yang kita kira. Banyak orang memilih kerja sebagai kurir karena tidak ingin menganggur, kerja demi menghidupi kebutuhan anak dan istri.

Semoga dengan kejadian ini, kita bisa lebih teredukasi dengan kata “blok goblok”. Termasuk, perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan orang sebagai kurir dengan memberi apresiasi berupa upah layak dan reward.

Dan, jangan sampai ada Duta Kurir Indonesia karena sudah memaki kurir. Eh, gimana?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini