Ilustrasi kerja. (Photo by Vlada Karpovich from Pexels)

Fenomena ini kerap terjadi di dunia kerja, terutama menimpa para fresh graduate. Yup, melimpah curahkan waktu hampir 24 jam memikirkan pekerjaan.

Selepas bekerja, lazimnya para pekerja akan mencari hiburan. Salah satunya nongkrong bersama rekan kerja. Namun, sering kali ada satu, dua, tiga kawan yang menolak ajakan karena alasan pekerjaan. Padahal, nongkrongnya akhir pekan.

Kemudian pada ajakan berikutnya, dia tetap menolak dengan alasan yang kurang lebih sama. “Sorry kayaknya gue gak bisa ikutan, lagi banyak kerjaan.”

Mungkin, banyak orang berpikir untuk tidak mengajaknya lagi. Urungkan niat itu, ajaklah terus hingga dia merasa bosan. Kalau tidak mau juga, bagikan artikel ini agar tercerahkan. Asiikk.

Semisal dia memang banyak kerjaan. Saking giatnya sampai lupa waktu. Tapi jangan salah kaprah hingga menyebut itu sebagai bagian dari nawa cita. Kerja, kerja, kerja. Sebab bisa saja malah terjebak situasi toksik dalam dunia kerja.

Baca juga: Semua yang Bergantung pada Upah adalah Kelas Pekerja

Salah satu toksik yang kerap menyergap para pekerja adalah hustle culture. Semacam gaya hidup dimana seseorang merasa dirinya harus terus bekerja keras dan mengorbankan waktu istirahat. Dengan begitu, ia beranggapan dirinya sukses.

Hustle culture pun sangat mungkin mendorong seseorang menjadi pekerja palugada yang rela mengambil pekerjaan lebih banyak hingga lebih sering lembur. Karena dalam pemikirannya telah tertanam bahwa hal ini perlu dilakukan untuk meraih kesuksesan atau financial freedom.

Padahal, bekerja dengan waktu yang panjang tidak menjadi jaminan bakal mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebagaimana disebutkan oleh Sarah Carmichael dalam tulisannya yang dimuat Harvard Business Review.

Sarah menyatakan bahwa berdasarkan riset, bekerja berlebihan atau lembur tidak serta-merta membuahkan hasil lebih baik dan banyak. Bisa saja seorang karyawan menghabiskan lebih banyak waktu di kantor, tetapi hasil kerjanya sama saja atau bahkan lebih buruk dibanding teman mereka yang kelihatan bekerja dengan durasi pendek.

Baca juga: Ketika Stand Up Comedian Jadi Bos dan Chat soal Pekerjaan ke Karyawan

Kemudian di masa teknologi berkembang pesat seperti sekarang, bekerja dengan durasi panjang semakin menjamur lantaran ditunjang dengan beragam fasilitas. Hal itu semakin menjadi-jadi ketika pandemi Covid-19 dan adanya work from home (WFH).

WFH membuat karyawan memiliki banyak waktu di rumah. Sisi buruknya, jam kerja banyak orang menjadi kian panjang seiring adanya ‘teror’ notifikasi email dan chat dari klien maupun orang kantor yang menanyakan soal pekerjaan di luar jam kerja.

Kebiasaan bekerja dengan waktu yang panjang pun tidak bisa dilepaskan dari pandangan keliru masyarakat soal kerja keras. Banyak orang yang masih berpikir bahwa sumber dari kemiskinan adalah malas bekerja.

Pandangan itu pada akhirnya membuat banyak orang memutuskan untuk bekerja lebih panjang. Padahal, kemiskinan tidak terjadi hanya karena kurang kerja keras. Tapi, banyak faktor antara lain persoalan akses dan privilese. Kekeliruan itu membuat masyarakat memaklumi hustle culture atau budaya ‘gila kerja’.

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Peneliti kesehatan mental, M Tasdik Hasan menyebutkan bahwa hubungan langsung antara kerja berlebihan dan kesehatan mental masih belum jelas. Namun, dia mengatakan, terlalu banyak bekerja bisa membuat lelah dan mengganggu ritme biologis tubuh, sehingga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental.

Kesehatan mental di sini bisa diasosiasikan sebagai terganggunya jam tidur, stres, depresi, cemas, hingga penurunan motivasi bekerja.

Kembali ke beberapa tahun silam, buku The 4-Hour Workweek yang dirilis oleh pengusaha Tim Ferriss mengangkat gagasan idealnya bekerja dengan jam kerja lebih pendek, tapi lebih efektif dan membawa hasil kerja yang lebih optimal dibandingkan bekerja dengan jam panjang.

Gagasan Ferriss tidak lepas dari prinsip Pareto atau yang dikenal dengan 80/20 rule. Dikutip Investopedia, prinsip ini menegakkan aksioma bahwa seseorang bisa membuahkan 80% hasil dari 20% energi yang dihabiskan untuk bekerja.

Artikel populer: Sengaja Nggak Jawab Telepon karena Lebih Suka Pesan Teks, Nggak Masalah kan?

Prinsip ini tidak hanya bisa diterapkan pada urusan pekerjaan, tetapi bisa juga di ranah-ranah lain seperti pengelolaan keuangan hingga urusan personal. Kunci dari penerapan gagasan ini adalah bekerja dengan cerdik atau “work smart, not hard”.

Sementara itu, Medy Navani dalam Entrepreneur Middle East berpendapat bahwa bekerja dengan durasi lebih pendek juga dapat meningkatkan fokus karyawan, memperbaiki manajemen waktu dalam bekerja, dan kepuasan mereka secara keseluruhan. Dengan demikian, perusahaan pun akan ikut diuntungkan.

Kembali ke soal hustle culture. Budaya ini pun bisa membuat kita mulai menyingkirkan kehidupan bersosialisasi. Padahal, perlu diingat bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, bukan makhluk pekerja.

Tentu tak dapat dipungkiri bahwa kesuksesan diraih dari hasil kerja keras. Namun, hidup tak melulu kerja kerja kerja, karena istirahat juga bagian dari kerja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini