Sering Dicap sebagai ‘Kutu Loncat’, Pekerja Milenial Sebenarnya Bisa Setia

Sering Dicap sebagai ‘Kutu Loncat’, Pekerja Milenial Sebenarnya Bisa Setia

Ilustrasi (Thomas Litangen/unsplash.com)

Kaum milenial memang selalu menjadi topik hangat karena karakteristiknya yang berbeda 180 derajat dibandingkan generasi sebelumnya. Karakteristik yang paling menonjol adalah bagaimana perilaku mereka dalam dunia kerja.

Pada 2015, kaum milenial merupakan kelompok pekerja terbesar yang terus berkembang hingga sekarang. Namun, stereotip negatif kerap menimpa mereka dalam dunia kerja. Salah satunya adalah pengambaran milenial sebagai ‘kutu loncat’ alias sering pindah-pindah kerjaan.

Survei yang dilakukan oleh Gallup pada 2016 menemukan 21% milenial gonta-ganti pekerjaan lebih dari dua kali dalam setahun, di mana tiga kali lebih besar dibandingkan responden yang bukan kaum milenial.

Pada tahun yang sama, Deloitte juga melakukan survei terhadap 7.700 milenial dari 29 negara, yang menunjukkan 40% milenial berencana untuk resign jika ada kesempatan, dan 63% menyatakan merasa kurang pengembangan diri.

Survei-survei yang dilakukan pada 2016 itu membawa image buruk milenial hingga sekarang. Stereotip ‘kutu loncat’ membuat kaum milenial dianggap tidak setia dengan perusahaan, haus perhatian dan apresiasi, mudah datang dan pergi, dan lain-lain.

Namun, jika ditelisik, apakah milenial seburuk itu dalam dunia kerja atau ada hal lain yang perlu kita kaji ulang?

Mari kita bicara soal angka, studi dari Pew Research baru-baru ini menunjukkan milenial tidak gonta-ganti pekerjaan secepat generasi X pada saat usia yang sama.

Bila dibandingkan antara dua generasi yang meraih gelar sarjana, generasi milenial mampu bertahan lebih lama di perusahaannya dibandingkan pekerja generasi X lakukan pada tahun 2000-an.

Studi yang sama juga menyebutkan kaum milenial akan lebih betah bekerja di perusahaannya sekarang, bila terdapat jenjang karir yang jelas dan banyaknya kesempatan untuk mengembangkan diri.

Dari studi terbaru tersebut, kita bisa menyimpulkan karakteristik pekerja milenial tidak serta-merta tidak setia terhadap pekerjaan. Namun, dari karakteristik tersebut kita bisa mengkaji bahwa kultur perusahaan juga memberi peran mengapa banyak karyawan yang datang dan pergi.

Riset dari Gallup juga menemukan bahwa 50% responden melakukan resign karena alasan tidak betah dengan manajer mereka, sementara 87% pekerja milenial menyatakan pengembangan diri sangat penting untuk ditanamkan di perusahaan.

Tingginya angka tersebut menunjukkan kita tidak bisa melihat suatu hal dari satu sisi saja. Budaya dan nilai-nilai yang ada dalam perusahaan ternyata memberikan pengaruh besar apakah pekerja milenial mau setia atau tidak.

Milenial tidak suka lingkungan pekerjaan yang kaku

Salah satu alasan mengapa kaum milenial melakukan resign adalah karena mereka tidak memiliki rasa sense of belonging atau kepemilikan terhadap bisnis yang dijalankan. Salah satu nilai budaya yang diterapkan di perusahaan start up bernama iPrice adalah take ownership beyond your role.

Nilai tersebut mengartikan bahwa setiap orang dapat melakukan tugas, meskipun itu di luar dari peran dan jabatan mereka. Entah itu membetulkan typo dalam rilis, mengecek fitur website, atau sekadar mengangkat galon air di kantor.

Rasa kepemilikan ini akan membuat pekerja milenial tidak takut untuk melakukan perubahan dan memberikan umpan balik untuk meningkatkan kualitas produk dan jasa perusahaan.

Nilai ini juga menyarankan para pekerja untuk berinteraksi dalam konflik yang sehat, yakni diskusi dan debat yang menyangkut produktivitas, serta membuang jauh-jauh budaya ‘bos selalu benar’ dan ‘cukup lakukan apa yang bos perintah’.

Milenial tertarik dengan kesempatan untuk berkembang

Banyak pekerja milenial yang berada pada masa krisis tidak mengetahui jenjang karier atau bidang apa yang ingin mereka tekuni di perusahaan mereka. Pada dasarnya, milenial senang mempelajari hal baru dan berbeda. Hal ini seringkali disalahpahami sebagai perilaku malas dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin dan monoton.

Budaya perusahaan yang memberikan kesempatan pekerjanya untuk berkembang lebih disukai oleh kaum milenial. Misalnya dengan memberikan pelatihan dan workshop terbuka yang bermanfaat bagi mereka.

Perusahaan juga perlu memperhatikan talenta internal yang mungkin tersembunyi di dalam perusahaan. Tidak ada yang tahu kan kalau seorang penulis konten ternyata senang mempelajari data-data dan marketing, atau mungkin seorang desainer visual sebenarnya ingin menjadi seorang desainer UI/UX?

Milenial suka bersenang-senang dan produktif secara bersamaan

Sebuah studi menunjukan budaya perusahaan yang fleksibel dan fun akan meningkatkan produktivitas pekerja milenial. Hal ini didukung dengan perilaku milenial yang mendefinisikan produktivitas sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya.

Jika zaman dulu, produktivitas ditunjukkan dengan kehadiran secara fisik di tempat kerja, kini milenial dapat bekerja di mana saja menggunakan teknologi canggih seperti smartphone.

Banyak milenial yang menyatakan mereka enggan bekerja di lingkungan yang kaku dan jadul. Mereka lebih suka bekerja di lingkungan santai di mana bisa produktif dan bersenang-senang dalam sekali waktu.

Pada masa sekarang, mungkin hal ini bisa menjadi pecutan untuk mengubah gaya kerja perusahaan-perusahaan lawas, jika ingin pekerja milenialnya tetap setia. Selalu berikan waktu bermain, tapi bukan berarti tidak profesional dan berkomitmen dengan tugas-tugas.

Lingkungan yang penuh dukungan adalah kunci milenial untuk setia

Stereotip pekerja milenial yang selalu haus perhatian dan apresiasi memang bisa jadi benar, namun tidak sepenuhnya harus diambil sisi negatifnya. Milenial akan lebih betah berada di lingkungan kerjanya, bila mereka mendapatkan umpan balik yang bermanfaat dari manajernya.

Riset Gallup menunjukkan hanya 19% milenial menyatakan mendapatkan dukungan suportif dari manajernya. Dalam buku Love ‘em or Lose ‘em, penulis Beverly Kaye dan Sharon Jordan-Evans menulis bahwa meningkatkan frekuensi percakapan antara manajer dan bawahan akan membuat mereka lebih betah dan setia.

Lingkungan yang saling mendukung akan membuat milenial lebih senang mendengarkan umpan balik dan bekerja lebih baik. Hal ini juga membuat mereka lebih bangga terhadap pekerjaan dan pencapaian mereka.

Menciptakan budaya perusahaan yang memungkinan pekerja dapat produktif dan bersenang-senang akan meningkatkan loyalitas mereka. Banyak milenial yang merasa bahagia dan puas dengan pekerjaannya karena merasa berkembang, diapresiasi, dan didengarkan.

Stereotip dan generalisasi berlebihan selalu berdampak buruk kepada pekerja milenial. Mengingat kaum ini sudah mendominasi sebagian besar lingkungan kerja, sekarang adalah saatnya bagi perusahaan untuk lebih fleksibel untuk menciptakan iklim kerja yang membuat mereka bahagia dan lebih setia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.