Ilustrasi komedi (Photo by tanialee gonzalez on Unsplash)

Bintang Emon diteror setelah melontarkan kritik berbalut lelucon, sementara seorang warga diciduk aparat karena mengutip lawakan Gus Dur. Insiden ini seakan mengiyakan bahwa Indonesia darurat humor.

Padahal, para petinggi negeri ini sering bercanda. Contohnya, ketika ditanya soal isu virus corona masuk Indonesia, Pak Luhut Binsar Panjaitan sempat berkelakar tentang mobil Corona. Belum lagi, meme yang dibahas oleh Pak Mahfud MD yang menyebut virus corona ibarat seorang istri.

Biar aman, apakah rakyat harus meniru jokes bapak-bapak pejabat tersebut? Ah, mana sampai hati rakyat menyamakan perempuan tercinta dengan virus? Siapa juga yang terhibur dengan candaan tidak sensitif itu?

Pejabat bisa bebas melawak dan rakyat seolah disuruh tertawa saja mendengar lelucon mereka. Namun, ketika warga biasa melawak, mengapa bisa jadi perkara?

Semisal, komika Bintang Emon yang sempat dipuji karena dianggap membantu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya virus corona melalui DPO alias Dewan Perwakilan Omel-omel yang humornya segar. Tetapi, lain cerita ketika Bintang turut mengomentari kasus Novel Baswedan. Belum selesai penonton tertawa dengan gerutuan ala Bintang Emon, sudah ada fitnah yang menyasar sang komika.

Baca juga: Sebab Guyonan Seksis Pejabat adalah Pandemik

Sejumlah akun di Twitter menyerang Bintang Emon dengan tuduhan tak berdasar. Seolah itu hukuman untuk sang komedian karena berani mengkritik penegakan hukum di negeri ini. Padahal, apa yang disampaikan oleh Bintang Emon hanya mengumpulkan keluhan rakyat dan mewakili suara publik yang resah.

Ketika sang avatar diserang, tentu saja warganet meradang. Warganet membalas dengan menjadikan tagar Bintang Emon anak baik trending. Gara-gara difitnah pakai sabu-sabu, Bintang Emon sampai inisiatif tes urine di rumah sakit. Hasilnya, komika pemenang ajang pencarian bakat itu bersih dari penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Kemudian, dia cantumkan hasilnya di media sosial untuk membungkam para penebar fitnah.

Semoga saja, Bintang Emon tidak trauma melempar kritik berbumbu humor karena pernah jadi korban teror oknum tidak jelas. Setelah ini, ia bisa melanjutkan bikin video dan melawan tuduhan dengan jenaka: “Iya, sabu. Sarapan bubur. Tapi kalau sabu-sabu, mohon maaf nih, gue nggak pakai. Gue minum obat anti-mabok aja gue mabok.”

Baca juga: Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Warkop DKI sudah wanti-wanti sejak dulu, “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Apakah masa itu telah tiba? Rakyat tidak boleh bercanda, walaupun cuma mengutip guyonan mantan presiden. Selamat datang di dunia distopia??

Buzzer yang menyerang komika dan aparat yang menciduk pengutip lawakan Gus Dur itu tampaknya punya satu kesamaan. Mereka tidak mau rakyat menyaingi kelucuan pejabat. Cuma pejabat yang boleh bercanda, rakyat tertawa saja sulit.

Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, sempat nimbrung dengan retweet with comment postingan berita tentang guyonan Gus Dur itu: “Lah, yang dipanggil kok mengutip. Panggil yang bikin jokes dong, Pak.”

Tito Karnavian ketika dulu menjadi kapolri tahu betul humor Gus Dur tentang polisi jujur tersebut. Ia justru menjadikannya sebagai cambuk untuk meningkatkan kualitas demi kepercayaan publik. Nah, sikap legawa seperti inilah yang seharusnya dicontoh.

Baca juga: Berguyon tentang Tubuh Perempuan Adalah Kegagalan dalam Melucu

Humor memang bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan saran yang membangun. Alangkah baiknya mau menerima masukan sembari tertawa. Namun, jika memilih tersinggung dengan humor, pesannya tidak akan sampai. Yang ada malah terkesan kaku dan anti-kritik.

Periode sebelumnya, para menteri sempat dipertemukan dengan komika di sebuah acara televisi. Komika tersebut melakukan roasting dengan menyindir kinerja menteri, tapi menteri ikut tertawa bersama. Nggak tahu kalau di belakang.

Begitu juga ketika anggota DPR yang mengundang komika untuk mengkritik para wakil rakyat. Di depan anggota DPR itulah, seorang komika berani membuat lelucon tentang DPR yang bandelnya disamakan dengan anak STM. Saat itu, para wakil rakyat terima-terima saja disindir begitu. Mungkin dalam hati menyesal telah mengundang komika tersebut.

Artikel populer: Kita Memang Butuh ‘Garis Lucu’ dalam Beragama

Kini, pejabat terkesan lebih sensitif terhadap lawakan rakyat. Apakah komedian hanya boleh melucu ketika disuruh pejabat saja? Setiap jokes yang beredar harus lolos sensor pemerintah dan aparat negara?

Kita pernah punya presiden perempuan, tetapi masih ada pejabat yang misoginis. Presiden yang humoris pun pernah menjabat di negeri ini, namun tetap saja ada pejabat yang alergi dengan humor, terutama yang berbau kritik.

Pliss, jangan jadikan humor seperti keadilan. Di negeri ini, keadilan tidak bisa didapatkan oleh semua orang. Sekarang humor mau direnggut juga? Humor seolah menjadi barang mewah dan privilese pejabat saja. Masa rakyat biasa mesti jadi pejabat dulu untuk bebas melucu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini