Pegiat Kesetaraan di Sekeliling Rasul, Akhi dan Ukhti Perlu Tahu

Pegiat Kesetaraan di Sekeliling Rasul, Akhi dan Ukhti Perlu Tahu

Ilustrasi (Image by Pezibear on Pixabay)

Assalamualaikum, akhi dan ukhti… Gimana hiruk-pikuk tahun politik ini? Jangan sampai riuh politik mencederai ukhuwah kita hingga memutus tali silaturahmi, ya. Sebab yang demikian akan dilaknat oleh Allah SWT.

Kita tahu, suhu politik di Tanah Air semakin memanas. Satu yang mencolok adalah kehadiran ibu-ibu yang turun ke lapangan untuk menyukseskan salah satu pasangan calon. Mereka mendatangi rumah, berorasi, bahkan ada yang sampai berdoa dengan meminjam doa kanjeng Nabi Muhammad.

Konon, doa tersebut pernah dibaca oleh Rasulullah ketika perang. Namun, dalam konteks politik sekarang, kita tidak sedang berperang. Apalagi, kontestasi diikuti oleh saudara seiman. Jadi, doa perang tak lagi relevan.

Peran ibu-ibu dalam perjuangan sekiranya sudah terjadi sejak zaman Rasul. Perannya begitu besar, bukan sekadar urusan politik praktis. Perjuangan yang membebaskan umat.

Perjuangan itu tak terlepas dari nilai-nilai kesetaraan yang juga diusung oleh berbagai ideologi saat ini. Salah satunya, feminisme.

Jika ada anggapan bahwa feminisme adalah paham yang tidak pernah duduk bersama dengan syariat, barangkali kita perlu membaca lembaran tarikh lebih jauh. Dan, jika feminisme dianggap sebagai konsep kesetaraan gender yang berasal dari Barat, lalu dituding sebagai biang keladi berontaknya istri kepada suami, mungkin jangkauan leksikografi kita harus diperlebar.

Pokok-pokok pikiran dalam feminisme memang pemberontakan, namun dalam tanda kutip. Ia memberontak kepada budaya patriarkis yang menumpahkan segala urusan domestik hanya dan hanya kepada perempuan. Mereka yang patriarkis, baik laki-laki maupun perempuan, tentu menolak mentah-mentah feminisme.

Baca juga: Kamu Bilang Feminisme itu Buruk?

Padahal, kalau kita cermati dalam salah satu riwayat, Rasul Muhammad bahkan membantu istrinya, yakni Aisyah, ketika menggiling gandum. Tak hanya itu, Rasul menjahit bajunya sendiri.

Atau, kisah romantis Rasul pulang terlalu larut dan enggan mengetuk pintu hingga memilih tidur di luar semalaman karena tidak mau membangunkan Aisyah. Riwayat yang sering akhi dan ukhti bubuhkan caption, “Kisah mana yang lebih romantis dari ini?”

Namun sayang, banyak orang yang kurang mengambil ibroh bahwa sikap Rasul itu adalah bukti beliau bukanlah laki-laki patriarkis. Beliau menghargai hak-hak Aisyah untuk beristirahat dan paham betul apa yang namanya berbagi peran dalam rumah tangga.

Jika Rasul saja ikut andil dalam urusan domestik, apakah kamu masih mengatakan bahwa feminisme bertentangan dengan Islam? Itu baru urusan domestik, belum soal perjuangan perempuan di sekeliling Rasul yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini.

Tapi, sebelum lanjut, kita perlu samakan dulu persepsi tentang feminisme. Kalau menurut pandangan umum, inti dari feminisme adalah kesejajaran hak dan kewajiban serta kemampuan antara laki-laki dan perempuan.

Jika laki-laki bisa sekolah tinggi dan bekerja di luar rumah, perempuan juga bisa dong. Jika laki-laki bisa menjadi leader, perempuan pun mampu. Termasuk, jika laki-laki bisa berkuda dan memanah, perempuan juga punya kesempatan yang sama.

Sesungguhnya para pegiat kesetaraan atau sekarang ini kita kenal dengan sebutan feminis, sudah ada sejak zaman Rasul. Bahkan, sangat dekat dengan kehidupan maupun perjuangan Rasul.

Baca juga: Ada yang Hilang dalam ‘Buffalo Boys’

Sebut saja, Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Mungkin nama itu asing, tapi kita pasti lebih familier dengan nama Zubair bin Awwam yang merupakan salah satu jenderal terhebat pada masa Rasul. Nah, Shafiyyah adalah ibunda Zubair.

Zubair bin Awwam tak pernah menjadi jenderal hebat tanpa didikan Shafiyyah. Ibarat Ratu Gorgo dalam epos The Battle of Thermopylae, Shafiyyah bak perempuan Sparta yang mengirim anaknya ke hutan untuk membawa pulang kulit serigala. Jika mati di hutan, artinya memang lemah. Jika pulang hidup dan membawa kulit serigala, pantaslah ia disebut petarung.

Ketika Perang Uhud, Shafiyyah tidak berdiam di rumah dan menenun. Beliau menjadi relawan perang yang mengantarkan air minum kepada pejuang. Ketika posisi umat Islam terdesak, Shafiyyah membuang tempat minum, lalu mengambil tombak dan pedang.

Diayunkannya tombak pada musuh-musuh hingga menjadikan Shafiyyah sebagai tameng hidup Rasul. Melihat aksi tersebut, Rasul memerintahkan Zubair bin Awwam, “Temui ibumu, ajaklah pulang.”

Namun, Shafiyyah menolak mentah-mentah. “Bagaimana aku pulang dengan tenang, sementara saudara-saudaraku dibantai?” Ketika Rasul mendengar itu, beliau berucap, “Biarlah ia di posisinya yang sekarang.”

Jika Rasul dan Islam menolak feminisme, keberadaan Shafiyyah di tengah perang tak pernah dibenarkan. Shafiyyah mampu mengimbangi, bahkan cenderung lebih unggul dalam bertarung, dibanding rekannya yang laki-laki.

Selain Shafiyyah, ada yang namanya Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah. Perempuan hebat ini mengenyam Perang Uhud hingga memiliki kualifikasi yang tidak main-main: ‘Si Jago Pedang’. Sama seperti Shafiyyah, tugas awal Nusaibah adalah relawan perang yang membawakan kendi air minum.

Baca juga: Anggapan Keliru terkait Feminis yang Harus Diluruskan Agar Pikiranmu Tidak Cupet

Sampai pasukan muslim terdesak dan melihat saudara-saudaranya lari menghindari musuh, Nusaibah meletakkan kendi dan mengambil pedang pejuang yang terluka. Sambil mengibaskan pedangnya, ia berteriak kepada para pria yang kocar-kacir, “Pulang saja kalian, penggilingan gandum menunggu.”

Berkat Nusaibah, moral pejuang bangkit dan kembali melawan. Seketika terdengar teriakan Rasul yang memerintahkan, jika ada yang terluka, berikan perisai kepada yang berperang. Saat itulah, Nusaibah menangkap lemparan perisai dan melindungi Rasul hingga Rasul berucap; “Tidaklah aku melihat ke kiri dan kanan, kecuali Nusaibah berperang untukku.”

Ketika ditanya soal 12 luka di tubuhnya yang dialami saat Perang Uhud, Nusaibah berseloroh, “Musuh hendak menyerang Rasul, kubilang pada mereka langkahi dulu mayatku, dan seketika telingaku sobek tertebas.”

Selanjutnya, Khaulah binti Azur. Nama Khaulah mungkin bisa disamakan dengan sosok Artemisia dalam film 300: Rise of an Empire. Sejak belia, ia sudah berlatih tombak dan pedang. Tak hanya itu, ia mahir berkuda sejak remaja. Kepiawaian ini nantinya digunakan dalam Perang Yarmuk melawan pasukan Romawi.

Di bawah komando khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, pasukan Islam berperang membebaskan Syam (Suriah) dari jajahan Romawi. Ketika itu, awalnya Khaulah juga menjadi relawan perang yang membawakan air minum.

Ketika berperang dengan pasukan Romawi di bawah komando Jenderal Theodore, ada seorang pejuang berbaju hitam, bercadar, menunggang kuda, dan mengibaskan tombaknya. Pasukan Romawi roboh dibuatnya. Panglima Khalid bin Walid penasaran dan mendekati. Tapi orang berbaju hitam itu terus menghindar hingga Khalid meneriakinya, “Siapa engkau?”

Artikel populer: Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Seketika, ‘Black Rider’ tersebut menghentikan kudanya dan membuka cadar. Ia berkata, “Aku tidak malu sebagai pejuang, namun aku malu engkau pria bisa berjihad, sedang aku wanita hanya membawa kendi.”

Takjub Panglima Khalid dibuatnya.

Saudara-saudariku, tidakkah kita lihat betapa hebatnya perempuan pada masa itu? Tapi, bukan berarti perempuan yang mengurus rumah tangga tidak hebat. Mereka sama hebatnya, asalkan itu memang menjadi pilihan dan berbagi peran.

Namun, jika kamu masih menilai bahwa feminisme bertolak belakang dengan Islam dan masih membebankan urusan domestik hanya kepada perempuan, lha bagaimana? Rasul sendiri ikut membantu urusan dapur.

Dan, coba kita maknai lagi kisah Shafiyyah, Nusaibah, dan Khaulah, maka kredo tentang ‘profesi terbaik perempuan adalah ibu rumah tangga dan melayani suami’, atau ‘tempat terbaik perempuan adalah di rumah’, bakal tergeser.

Lalu, ada yang bilang, “Ah, mereka kan di zaman perang. Dalam perang, semua hal bisa terjadi.”

Baiklah, kita lihat istri Rasul, Khadijah binti Khuwailid. Beliau adalah CEO multinational company yang disegani suku Quraisy pada zamannya. Ketika itu, Islam belum ada hingga tak perlu menunggu situasi perang untuk membuat perempuan menjadi hebat.

Kunci sukses bisnis Khadijah adalah mengelola aset kapital dan memutar profit menjadi supply. Kemampuan manajerial yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki pada masa itu. Tapi, Khadijah membuktikan ia mampu.

Kisah-kisah di atas membungkam anggapan tentang feminisme yang katanya tidak sesuai dengan syariat dalam arti kesetaraan hak, peran, serta kemampuan perempuan dan laki-laki.

Jadi, jangan cuma diambil soal perangnya aja, ya Ukhti, apalagi hanya untuk urusan pilpres.

Tabik!

2 COMMENTS

  1. Kak.. apakah ada referensi yang bisa dibaca lebih lanjut terkait kisah” perempuan” hebat yang dijelaskan di atas, khususnya keterlibatan beliau” di medan perang…?

    Kalau ada, saya sangat berterima kasih… 🙂

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.