Pedoman Menjadi Orang yang Tidak Menyebalkan saat Bencana

Pedoman Menjadi Orang yang Tidak Menyebalkan saat Bencana

Dampak tsunami Selat Sunda (Foto dari udara dengan pesawat caravan Susi Air)

Indonesia kembali berduka, bencana tsunami yang menerjang beberapa lokasi di Provinsi Banten dan Lampung menjadi cerita pilu yang menutup pengujung tahun 2018.

Ratusan nyawa melayang, ratusan pemukiman rusak, dan puluhan perahu milik nelayan turut hancur diterjang ombak. Bencana tsunami ini menambah panjang catatan bencana alam di Indonesia sepanjang 2018, apalagi sebelumnya di tahun yang sama, tsunami juga terjadi di Palu.

Di era yang serba digital seperti saat ini, segala bentuk informasi yang positif maupun negatif mudah sekali untuk ditebar luas. Oleh sebab itu, apa sulitnya untuk tetap menebarkan pesan positif, bahkan saat situasinya genting?

Tak ada yang lebih menyejukkan dari ribuan doa yang dipanjatkan bersama di kala mata menyaksikan tragisnya bencana, juga tak ada yang lebih menenangkan dari dukungan tulus yang saling menguatkan, meski hanya sebatas ungkapan pesan lewat media sosial.

Baca juga: Bercermin dari Palu dan Donggala

Sayangnya, masih banyak netizen yang kurang bijaksana dalam menggunakan media sosial dalam menanggapi kabar duka terkait bencana. Mereka mungkin tak paham bahwa trauma pasca bencana itu nyata, baik bagi yang mengalaminya maupun tidak.

Sensitivitas mereka tampaknya terlalu tumpul, sehingga kurang peka saat memberikan reaksi terkait musibah yang menimpa orang lain. Meski saya cukup yakin bahwa para pembaca Voxpop tak memiliki pikiran sesempit di atas, boleh dong saya berbagi pengingat agar kita tidak menjadi orang yang menyebalkan saat menanggapi kabar bencana? Hee…

Stop hoaks!

Terlanjur panik, tanpa sadar justru terkadang kita menjadi bagian dari beredarnya sebuah kabar yang belum tentu kebenarannya. Meski bertujuan untuk menebar sikap waspada, namun jika kabarnya masih simpang siur lebih baik tahan untuk tidak menyebarkannya.

Pada dasarnya, ini adalah hal yang sangat sederhana, namun cukup sulit untuk dilakukan. Rasa panik mendadak biasanya membuat penerima kabar tak peduli lagi untuk mencari kepastian yang lebih jauh mengenai kabar yang diterimanya. Padahal, proses cross-check suatu berita sangatlah penting agar terhindar dari informasi yang menyesatkan dan membuat kepanikan yang berlebihan.

Mudahnya, selagi tak memiliki urgensi untuk menebar sebuah berita yang masih simpang siur, akan lebih baik jika kita tetap diam.

Baca juga: Bagaimana Turis Asing Diperlakukan saat Bencana di Daerah Wisata

Stop sebar foto korban!

Kecuali kerabat korban yang memiliki kepentingan untuk mengidentifikasi, sesungguhnya kita tidak berhak untuk menebar foto korban di dunia nyata maupun maya.

Selain karena terkait privasi, dengan turut menyebarkan foto korban ke khalayak ramai adalah bukti bahwa kepekaan kita terhadap sesama manusia sangatlah payah. Apalagi, jika kita menyebarkannya melalui media sosial, di mana jejak digital tak akan hilang dengan mudahnya.

Tanpa sadar kita telah mengizinkan lebih bayak orang untuk mengakses foto tersebut, memperbesar kemungkinan oknum tak bertanggungjawab untuk menyalahgunakan foto korban. Masih ingat kasus foto Ratna Sarumpaet babak belur yang tersebar di media sosial?

Sebelum kebenarannya terungkap, foto tersebut sempat membuat beberapa pihak tersulut amarah. Jika foto korban bencana yang turut kita sebarkan suatu saat dijadikan alat manipulasi politik, berarti kita turut andil sebagai penyebab kekacauan. Jangan pula lupa, bahwa foto dapat membangkitkan rasa trauma bagi sebagian orang.

Baca juga: Kenapa Menyelamatkan Nyawa 13 Orang Lebih Menarik daripada 200 Orang?

Stop jadikan bencana sebagai bahan lelucon!

Percaya atau tidak, saya masih sering menemukan jokes murahan yang menertawakan kemalangan atau menjadikan musibah sebagai bahan candaan yang dimuat sebuah akun lucu-lucuan di media sosial.

Musibah yang dimaksud tak melulu soal bencana alam, tapi juga soal musibah-musibah seperti pelecehan seksual, pencurian, kecelakaan, hingga kasus pembunuhan. Nampaknya semakin banyak orang sok pintar bermunculan dengan sebuah dark jokes yang salah kaprah demi meningkatkan jumlah followers.

Sederhana saja, jika kita masih memiliki nurani yang berfungsi, maka kita tak akan sampai hati menjadikan sebuah musibah sebagai bahan lelucon kapanpun dan dimanapun.

Stop mengeluarkan pernyataan yang tak relevan!

“Cuma di rezim ini bencana datang bertubi-tubi!” Ini salah satu komentar dengan level paling rendah sekaligus paling sering saya temukan ketika ada bencana. Terlebih, bencana terjadi saat tahun politik.

Artikel populer: Menemukan Pesan Penting Lainnya dari Seorang Sartre yang Ternyata Relevan dengan Kita

Tak peduli apapun jenis bencananya, komentar miring semacam itu rasanya sudah lumrah dilontarkan oleh beberapa orang yang rahangnya terlalu enteng untuk berbicara tanpa mempertimbangkan relevansi dan konteks.

Entah apa sulitnya untuk menggunakan nalar dalam mencerna sebuah informasi, sehingga saat mengeluarkan pernyataan tak perlu melenceng terlalu jauh dari poin permasalahan yang sebenarnya. Bukankah lebih baik diam daripada harus mengeluarkan pernyataan semacam itu?

Intinya, menjadi orang yang tidak menyebalkan dalam menanggapi sebuah berita bencana itu tak mudah-mudah amat. Selamat buat kamu yang sudah berhasil menghindari hal-hal di atas! Selanjutnya, jangan ragu untuk terus mengirimkan tanda report di jagat maya, jika menemukan hal-hal yang menyebalkan tadi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.