Article
Ilustrasi pasangan (Photo by Christopher Alvarenga on Unsplash)

Sewaktu Isyana Sarasvati lamaran, #HariPatahHatiNasional sempat trending lagi, sebelumnya muncul pada 2017 gara-gara pertunangan Raisa Andriana. Selain tagar, berita tersebut menyulut komentar netizen tentang hubungan asmara antara Isyana dan Rayhan – kekasihnya – yang tak pernah diumbar dan tahu-tahu sudah mendekati hari pernikahan setelah pacaran 12 tahun.

Iya, pacaran selama 12 tahun. Dalam rentang waktu yang sama, Sirius Black di serial Harry Potter masih mendekam di penjara Azkaban. Sementara, di Amerika Serikat, film berjudul Boyhood diproduksi oleh penulis film bernama Richard Linklater yang memang dikenal lewat karya-karyanya yang bertema humanis realistik.

Dalam kurun waktu 12 tahun itu pula, kita bisa menyelesaikan studi di SD, SMP, sekaligus SMA secara berturut-turut – tentu saja sambil gonta-ganti gebetan dan sama sekali nggak mencerminkan sikap Isyana ataupun Rayhan. Ckck.

Itulah mengapa banyak netizen yang kagetan ketika Isyana dan Rayhan bertunangan. Lagi pula, apa sih yang nggak bikin kagetan netizen? Padahal, kalau dipikir-pikir, mereka nggak tiba-tiba-tiba-tiba amat, kok. Beberapa kali, Isyana diketahui mengunggah video cover di YouTube bersama Rayhan. Dalam salah satu video, ia bahkan menyebut Rayhan sebagai “my boyfriend”.

Baca juga: Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Seseksi-seksinya hubungan pacaran yang sehat, mendadak hubungan Isyana dan Rayhan jadi yang paling seksi. Banyak orang tiba-tiba mengagumi betapa hubungan yang tertutup ini justru lebih baik dan menarik daripada yang “baru sebulan pacaran, publish, terus putus”. Katanya, yang lebih penting adalah momen kedekatan kedua pihak, bukan validasi dari orang lain.

Ah, mosoooooooook?

Terakhir kali mendengar kalimat di atas secara langsung ketika saya berhubungan asmara dengan seseorang yang nyatanya menyimpan sejuta rahasia dan tidak membagikannya satu pun pada saya. Rasanya campur aduk; kayak makan bakso dikasih topping boba – sedikit membingungkan karena sama-sama bulat.

Tentunya boba dan bakso itu berbeda. Artinya, dalam sebuah hubungan asmara yang dibuat private, saya yakin betul kita semua paham mana hubungan yang ‘tidak diumbar’ dan mana yang ‘disembunyikan’.

Tak ada yang salah dari hubungan yang ‘tidak diumbar’ di media sosial. Tak ada yang aneh dari ‘tidak mengunggah foto pacar setiap saat’ di Instagram atau tidak saling follow di Twitter. Tak ada yang mengherankan dari pasangan yang tidak saling bertemu setiap hari.

Baca juga: Pacaran Lama-lama Akhirnya Ambyar juga

Sebaliknya, kamu seharusnya menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh ketika hubunganmu ‘disembunyikan’. Kamu saling bertukar kata cinta, tapi kamu tak mengenal lingkungannya. Tidak ada acara pergi bersama teman-temannya. Tidak ada momen perkenalan dengan keluarga. Tidak ada keperluan menyebut namamu di depan orang-orang sekitarnya. Tidak ada foto berdua yang boleh diunggah dengan alasan apa pun, bahkan untuk foto profil di WhatsApp.

Yang lebih aneh dan menyakitkan: kekasihmu tetap bersikap seperti seorang lajang. Kamu disembunyikan dan dia tak mengaku pada dunia bahwa kamu sudah menjadi pasangannya.

Ada perbedaan yang jelas antara ‘tidak diumbar’ dan ‘disembunyikan’. Mentang-mentang Isyana dan Rayhan punya hubungan yang nggak sering diumbar, bukan berarti mereka hidup dalam hubungan yang disembunyikan. Video-video Isyana dan balas-balasan mention mereka di Twitter adalah buktinya. Tidak ada sikap saling membantah keberadaan satu sama lain.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Tapi coba pikir: apa lagi yang kamu harapkan kalau keadaanmu berbeda dengan Isyana? Boro-boro mention-mu dibalas, lah wong pacarmu aja malah sibuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya masih single and ready to mingle, kok. Dalam dunia percintaan, istilah ini disebut stashing. Level kekejamannya mirip-mirip ghosting, suatu keadaan dimana seseorang menghilang secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan, setelah sebelumnya menjalin hubungan yang intens.

Dikutip dari Daily Mail, ada beberapa penjelasan soal fenomena stashing ini. Meski ini menyakitkan, tapi saya tetap harus menuliskannya: pelaku stashing bisa saja menganggap ‘kekasihnya’ sebagai orang yang nggak istimewa-istimewa banget untuk diakui sebagai pasangan, atau memang ia tak punya niat untuk melanjutkan hubungan serius. Lebih menyedihkan lagi, bukan tidak mungkin kalau si pelaku justru merasa malu memiliki kekasihnya sendiri.

Dih. Kecakepan amat, kan?

Yah, sekalipun si pelaku adalah orang yang cakep, saya sih yakin betul bahwa tak ada seorang pun di dunia yang berhak menyakiti hati orang lain dengan cara menghujaninya harapan, sebelum akhirnya menusuknya dalam-dalam.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Jadi, daripada terjebak dalam hubungan yang disembunyikan – kalau kata akun-akun relationship di media sosial merupakan wujud kemungkinan untuk ‘menjaga hati yang lain’ – lebih baik kita menyadari bahwa kita berhak punya pasangan yang bakal cukup bangga menyebutkan nama kita di depan orang-orang terdekatnya.

Serius, deh. Dicintai dan dihargai itu menyenangkan. Kamu pun berhak merasakannya.

Dan itu, sama sekali nggak egois.

3 KOMENTAR

  1. Saya pernah di stashing, sangat tidak enak dan bikin hati saya sakit dan khawatir karena pasangan saya tdk pernah memberitahukan keberadaan saya ke teman-temannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini