Ilustrasi lowongan kerja (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

Aktivitas masyarakat di luar rumah kembali bergeliat. Sejumlah pusat perbelanjaan di kota besar, seperti Jakarta dan Bandung, mulai buka dan jalanan kembali menuju fitrahnya, macet. Beberapa kantor pun kembali memanggil karyawannya untuk work from office (WFO).

Meski demikian, itu tak lagi sama seperti dulu. Sebab, segala aktivitas di luar rumah harus berlandaskan adaptasi kelaziman baru atau new normal, yakni menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak, pengecekan suhu tubuh, rajin cuci tangan, hingga pengaturan kapasitas ruangan.

Karena itu, saya membayangkan sebuah julukan baru bagi Indonesia tercinta, yaitu ‘Negeri di Atas Kelaziman Baru’. Julukan tersebut nawacipta bagi keseriusan pemerintah yang ngebet menyegerakan kelaziman baru demi ekonomi agar tak tumbang.

Sebagaimana kata Presiden Jokowi bahwa masyarakat harus mulai berdamai dengan virus corona, yang setelah itu ditimpali oleh Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla: “Kalau kita hanya ingin damai, tapi virusnya enggak, bagaimana?”

Baca juga: Drama New Normal Pejuang PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad

Masa adaptasi kelaziman baru ini mungkin bisa juga dianalogikan sebagai musim semi. Lantaran sejumlah perusahaan dapat kembali beroperasi bahkan ada beberapa sektor yang sudah membuka lowongan pekerjaan. Tentu, kabar baik ini harus diteruskan kepada para pencari kerja, pokoknya jangan sampai berhenti di kamu.

Namun, pergulatan para pencari kerja di era kelaziman baru perlu effort dan pengorbanan ekstra. Pertama, pelamar kerja tak hanya cukup menyediakan skill, tapi harus memiliki cuan cukup tebal. Eitss… uang di sini bukan digunakan untuk menyuap alias pelicin ‘orang dalam’, melainkan untuk ongkos, apalagi berkas pendukung yang dibutuhkan kian berjubel.

Bayangkan kamu adalah pelamar kerja asal Bandung atau salah satu kota di Jawa tengah, mendapatkan tawaran atau interview pekerjaan di Jakarta. Tentu kamu senang lantas merenung, untuk menuju Jakarta atau melakukan perjalanan jarak jauh, kamu harus menggunakan tranportasi umum guna melintasi batas administrasi.

Baca juga: Kelas Pekerja Bukan Boneka

Sementara, salah satu syarat menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta, hingga pesawat adalah penumpang harus menunjukkan surat keterangan rapid test dengan hasil non-reaktif. Di sini letak tantangannya. Uang yang dikeluarkan untuk rapid test masih tergolong relatif mahal, sekitar ratusan ribu.

Jika dalam dua pekan ada dua sampai tiga panggilan kerja di Jakarta, maka harus bolak-balik dong. Setidaknya harus melakukan rapid test minimal dua kali. Pasalnya, hasil rapid test hanya berlaku selama tiga hari pada saat keberangkatan. Kalau gini caranya, bisa tekor sebelum bekerja.

Lantas terbersit, ini zaman teknologi modern bisa melakukan interview by phone atau tatap muka virtual. Tunggu dulu, apakah kamu tidak ingat bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim pernah dibuat kaget bahwa masih ada daerah di Indonesia yang belum ada listrik dan internet?

Kalaupun daerah si pelamar kerja sudah ada listrik dan internet, bagaimana dengan kondisi sinyalnya, apakah sudah stabil? Tentunya tak ingin ketika melakukan interview by phone atau tatap muka virtual malah mendadak hilang sinyal. Hingga yang tersisa tinggal keheningan dan pilu pelamar pekerja yang lagi-lagi gagal mendapatkan pekerjaan.

Baca juga: Privilese Belajar Daring dan Lulus Jalur ‘Give Away’

Tak cuma itu soal urusan sinyal, si pelamar kerja harus mengeluarkan biaya untuk kuota internet. Mau mengandalkan wifi tetangga, tapi lupa bahwa tetangga yang sama-sama pencari kerja baru saja memutuskan wifi di rumahnya secara terpaksa demi mengurangi pengeluaran selama masa pandemi.

Realitanya tak semua calon pekerja memiliki akses bebas internet. Kesenjangan akses listrik, internet, hingga ekonomi nyata adanya. Terutama, mengendap di daerah-daerah luar kota besar, seperti Jakarta.

Selain urusan ongkos, persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Misalnya, para pelamar kerja yang termasuk generasi lulusan ‘give away‘ gegara corona harus berjuang mengalahkan ego diri sendiri dan para pelamar kerja syarat pengalaman, seperti pegawai yang kena PHK hingga pebisnis yang hijrah jadi pekerja. Jadi, modal ijazah saja tidak cukup.

Meski begitu, para pelamar kerja syarat pengalaman tak boleh merasa di atas angin. Sebagaimana layangan di atas angin, bakal tertempa angin yang lebih kencang dan layangan lain yang menghadang.

Artikel populer: Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Dilema tak cukup sampai di situ, melihat pandemi yang mempengaruhi hampir semua sektor. Para pelamar kerja jadi merasa enggan untuk meminta gaji yang layak karena perusahaan ngakunya sedang merangkak lagi. Pikirnya, diterima saja sudah syukur, meskipun ada sedikit kekhawatiran bila nanti gajinya mentok di situ-situ doang.

Kelak, jika sudah diterima bekerja, tak lantas cerita usai. Sebab, sudah menanti sejumlah potongan seperti BPJS, Tapera, duaannn lainnya. Lantas, dengan melihat itu semua, timbul pertanyaan apa yang telah dan akan dilakukan negara?

Eitss… pasti mau bilang “jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu”, ya? Selain beda-beda konteks, masa sih nanya gitu aja nggak boleh? Itu kelaziman baru atau kezaliman baru?!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini