Ilustrasi (Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

Bagi sobat misqueen, tanggal muda minggu pertama serupa tanggal-tanggal lainnya. Kering. Lain hal dengan mereka yang berduit, dimana lembaran merah dalam dompet kian tebal. Membuat hati riang gembira.

Namun, kali ini, alih-alih bisa sorak-sorak bergembira – bergembira semua – sudah bebas negeri kita – Indonesia merdeka mereka yang berduit kini tengah dilanda panic buying alias memborong sejumlah barang karena panik. Hal itu terjadi tak lama setelah Presiden Jokowi mengumumkan bahwa dua warga asal Depok, Jawa Barat, positif terinfeksi Virus Corona (COVID-19).

Terbukti, barang dagangan – terutama bahan pokok dan makanan – di gerai-gerai ritel ludes dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Selain itu, panik beli terjadi di apotek dan sejumlah jaringan ritel kesehatan, sasarannya masker, hand sanitizer, hingga tisu basah. Seolah itu tak cukup, pembelian juga dilakukan secara online. Transaksi pun melonjak, padahal bukan Harbolnas.

Baca juga: Virus Corona: Cara Media Meliput Malah Sering Bikin Takut dan Panik

Sementara, sobat misqueen seperti saya relatif lebih selow dalam menanggapi situasi. Bukan berarti tak acuh, tapi lebih pada permenungan atau diam sambil berpikir dalam-dalam tentang keadaan. Tentunya, diselipi harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ibu-ibu di permukiman tak jauh dari tempat tinggal saya, misalnya, tetap memancarkan wajah ceria ketika menyuapi anaknya makan dengan nasi plus telor yang ditambahi kecap. Ia bersahutan dengan tetangga lainnya. Saling mengingatkan untuk lebih waspada.

Namun, di sisi lain, postingan demi postingan di media sosial terkait panic buying semakin marak. Di grup WhatsApp, foto orang-orang yang memborong beras, mie instan, obat-obatan, serta beberapa barang lainnya tak henti-henti.

Adapun masker menjadi komoditas yang paling penting saat ini. Bahkan, barang ini kian langka. Disinyalir karena adanya penimbunan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk kemudian dijual dengan harga yang sangat mahal. Bayangkan, dari harga biasanya se-boks cuma Rp 35.000-an, melejit jadi Rp 350.000. Sepuluh kali lipat! Tegaaa banget sihh…!!!

Baca juga: Level Hoaks Kesehatan di Atas Politik: Sehat Harus, Bodoh Jangan

Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada 2013. Saat itu, sehari sebelum pengumuman bensin jenis premium naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 per liter. Masyarakat berduyun-duyun ke SPBU untuk mengisi penuh tangki kendaraan. Ada pula yang membawa jeriken atau wadah lainnya. Biar kemudian bisa dijual dengan harga baru.

Masih ada aja ya, orang-orang yang memanfaatkan keadaan dan penderitaan orang lain demi kepentingan atau keuntungannya sendiri. Padahal, kita bangsa yang bermoral lho, konon katanya.

Kembali ke fenomena panic buying menyusul masuknya wabah Virus Corona ke Indonesia. Sebetulnya panik beli itu juga terjadi di negara lain. Nggak perlu jauh-jauh, semisal negara tetangga kita: Singapura. Ketika itu, Pemerintah Singapura mengonfirmasi 33 kasus Virus Corona.

Baca juga: Vigilante dalam Masyarakat Kita, Bisa Merasuki Siapa Saja

Sama halnya dengan Indonesia, orang-orang – yang tentu saja berduit – ketakutan bahan makanan menjadi langka, jika wabah di negaranya meluas. Tapi bedanya, orang Singapura yang punya duit itu banyak. Lah, kita?

Memang ada yang peduli-peduli amat dengan keberlangsungan hidup orang lain di negeri ini? Apa iya, ada yang mikirin bagaimana nasib mereka yang dompetnya kering kerontang, padahal tanggal muda?? Suruh siapa misqueen!!!

Padahal nih ya, jika mau sedikit waras, ketersediaan barang-barang pokok tersebut cenderung bakal aman-aman saja. Justru dengan kepanikan, peluang terjadinya kenaikan harga atau inflasi menjadi sangat besar. Para pengusaha ritel dan penyewa pusat perbelanjaan pun telah menjamin soal ketersediaan barang. Begitu juga pemerintah. Buat apa kita sampai berantem-berantem di media sosial ketika pemilihan presiden, kalau persoalan dasar ini sampai tak bisa diatasi?

Artikel populer: Katanya Bangsa yang Ramah, kok Masih Rasis sih?

Dan, teruntuk kamu-kamu yang sibuk memborong barang karena panik, jangan lebay! Kita tahu, saat manusia merasa terancam, bagian otak yang memproses rasa takut dan emosi menjadi kelewat aktif. Akibatnya, tak bisa lagi berpikir rasional.

Tapi soal itu, artis kawakan Aming pernah share begini di Instastory: “Pada akhirnya bukan Corona yang membunuh kita. Tapi saudara-saudara kita yang punya duitlah! Berbondong-bondong, ngeborong sampai stok kosong. Sobat miskin cuma bengong dimatiin saudara sendiri dalam keadaan kelaparan. Siapa lebih jahat. Corona apa manusia?”

Bisa jadi ibu-ibu yang saya lihat di permukiman tadi sebenarnya juga ketakutan. Bedanya, mungkin mereka lebih bisa mengontrol emosi dan memiliki teman untuk sharing. Ikatan kebersamaan itu yang memungkinkan kita bisa mengenal diri sebagai suatu kesatuan.

Saling jaga, gais!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini