Teruntuk Kamu yang Pro dan Anti Pangling-pangling Club

Teruntuk Kamu yang Pro dan Anti Pangling-pangling Club

Ilustrasi via Pixabay

Siapa sih yang nggak ingin terlihat paling cantik dan menawan di hari pernikahannya?

Pastilah, impian setiap orang ingin menampilkan versi dirinya yang terbaik dengan atau tanpa riasan menor. Terlebih, dalam sebuah seremoni ikatan yang suci nan sakral di hadapan keluarga dan teman.

Tren riasan untuk perempuan hari ini pun sangat beragam, mulai dari yang natural, minimalis, hingga yang penuh dan mengubah bentuk wajah. Itu semua berkembang sesuai zaman dan bisa dipelajari.

Jika ingin membicarakan bagaimana perempuan merasa tidak percaya diri tanpa memakai kosmetik, berarti pembahasannya harus mencakup bagaimana kapitalisme meraup keuntungan dari persaingan antar perempuan untuk terlihat lebih cantik. Hal itu sudah banyak dikaji dalam jurnal ilmiah dan buku.

Sebagai pecinta kosmetik, saya memiliki kesempatan untuk menikmati produk luar maupun dalam negeri. Keduanya tidak kalah saing, jika kita membandingkan hasilnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Namun sayangnya, kebebasan untuk memilih produk kosmetik tidak dibarengi dengan kebebasan untuk memilih riasan yang diinginkan para pengantin perempuan.

Belum lama ini, terjadi kehebohan di kalangan netizen Tanah Air soal dandanan Meghan Markle saat acara pernikahannya dengan Pangeran Harry. Kehebohan antara pro pangling-pangling club dan anti pangling-pangling club, menyusul tagar #AntiPanglingPanglingClub yang dibuat Raisa.

Meghan Markle, sang princess, tidak memakai begitu banyak riasan ketika melangsungkan Royal Wedding. Sebelumnya, Kate Middleton, istri Pangeran William, juga sama.

Tentu itu beda dengan tren riasan di Indonesia yang sedang laris di pasaran, yang diikuti oleh make up artist (MUA). MUA di sini nggak kalah hebat dengan MUA di luar negeri.

MUA Indonesia lebih condong menggunakan alas bedak yang sama dengan kulit atau yang satu tingkat lebih putih atau terkadang menjadi sangat putih. Mereka juga mengedepankan alis yang dibuat simetris dengan arsiran yang membentuk bingkai wajah.

Selain itu, memakai bulu mata palsu agar terlihat penuh dan menonjolkan mata, kemudian menggunakan blush on kekinian yang diarsir tak jauh di bawah mata.

Inilah yang dianggap sebagai definisi cantik. Atau, terlihat pangling, begitu para pelanggan menyebutnya.

Dari testimoni beberapa teman yang kebelet nikah, banyak yang ingin riasannya terlihat ‘manglingi’ saat seremoni. Mereka ingin terlihat lebih cantik daripada biasanya tatkala bersatu dalam ikatan janji suci. Selain itu, mereka ingin tampil dalam versi dirinya yang terbaik.

Sedangkan bagi yang ingin menggunakan riasan sederhana pada hari pernikahannya, mereka ingin terlihat apa adanya. Bahwa dirinya yang akan dinikahi adalah orang yang ditemuinya setiap hari. Inilah wajah yang ingin diabadikan dalam janji suci pernikahan.

Kedua alasan tersebut tidak ada yang salah. Keduanya sama-sama benar, karena perempuan berhak memilih apa yang ia ingin kenakan pada hari pernikahannya.

Riasan bisa membuat perempuan berdaya, tapi bisa juga membuat perempuan merasa teropresi alias tertindas. Namun, tak sepatutnya kita menjadikan riasan sebagai tolak ukur untuk menilai orang lain.

Bagi saya, merias adalah sebuah seni. Dalam merias wajah, kamu harus memilih kuas yang tepat, perpaduan warna yang sesuai, ketahanan bahan kosmetik, dan tekanan yang digunakan saat mengarsir wajah. Sama halnya dengan melukis, ada teknik dan metodenya sendiri.

Tak heran, para perias ini disebut make up artist, karena pekerjaan mereka adalah seni yang menghasilkan sebuah karya. Tak semua orang bisa mempelajarinya dalam sekejap. Itu mengapa tarifnya mahal. Terlebih, pekerjaan mereka sangat berisiko terhadap kesehatan.

Sayangnya, tidak banyak pecinta kosmetik yang menyadari bahwa keinginan tersebut tak lepas dari pemikiran kolonial, yang menganggap bahwa orang yang lebih putih atau terlihat lebih putih itu lebih tinggi kelasnya.

Ada banyak cara untuk mempercantik diri tanpa merubah 180 derajat wajah kita. Contohnya, kita bisa memilih alas bedak atau foundation yang sesuai dengan warna kulit. Kemudian, memilih palet warna yang cocok dengan warna kulit. Tonjolkan bagian wajah yang kita sukai.

Terlepas ingin riasan yang sederhana atau yang bikin pangling, kita bisa memilih seberapa banyak yang diubah tanpa merasa tertekan terhadap standar-standar kecantikan yang ada.

Ini yang harus disadari.

Banyak MUA kulit hitam yang bangga atas kulitnya sendiri dan dapat tampil cantik tanpa harus terlihat lebih putih. Atau, MUA yang berbadan besar yang tak ragu memberikan kontur wajah, karena ia ingin menonjolkan tulang pipi.

Kamu juga bisa terlihat cantik dengan kuning langsatmu dan tampil dengan riasan yang penuh pula. Sudah banyak Youtuber MUA Asia dengan ragam kulit warna yang menyiarkan cara-caranya. Di situ, kita bisa meningkatkan kreativitas tatkala kita bermain dengan wajah yang ada.

Pastikan, saat kamu menentukan riasan yang diinginkan, riasan itu mampu menampilkan siapa dirimu sesungguhnya. Kemudian, bagian tubuh mana yang ingin ditampilkan lebih baik, dengan riasan sederhana ataupun riasan yang penuh, bahkan menor sekalipun.

Jangan sampai kamu memilih riasan, karena ikut-ikutan. Atau, karena kamu merasa tertekan, sebab teman-temanmu memilih riasan yang berbeda dari pilihanmu.

Mau riasan yang bikin pangling atau anti pangling-pangling club, perempuan akan lebih cantik, jika ia bebas menentukan haknya sendiri.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.