Abdul Mateen (Instagram)

“Mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.”

Narasi tersebut berulang kali hadir dalam tontonan anak di hari libur, setidaknya dari tahun 1970 hingga 2000-an. Narasi yang menandakan berakhirnya doktrin film tentang kehidupan seorang putri dan sang pangeran.

Narasi itu kemudian membangkitkan fantasi anak tentang ‘sosok idaman’. Anak perempuan, misalnya, tumbuh dengan imaji bahwa dirinya haruslah cantik, lemah lembut, serta bergantung pada laki-laki dan rela disiksa berkorban. Harapannya, kelak akan datang seorang lelaki bak pangeran, lalu menikahinya dan hidup bahagia.

Imaji itu kini kembali diuji. Apakah gambaran ‘sosok idaman’ berkat narasi yang mensubordinasi perempuan tersebut masih kuat hingga kini? Lantas, apa dampaknya?

Netizen sempat ramai mengomentari unggahan foto Pangeran Abdul Mateen, putra Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei. Banyak komentar yang terlontar dari perempuan, seakan membangkitkan fantasi yang telah tertanam sejak lama. Sosok pangeran yang rupawan dan tajir melintir. Plus, beragama Islam – satu hal yang membuat mayoritas orang Indonesia semakin menggandrungi sosok Abdul Mateen.

Baca juga: Ceritakanlah kepada Anakmu bahwa ‘Frozen’ adalah Dongeng tentang Ratu Independen

Namun, saking gandrungnya, banyak komentar dari netizen perempuan yang ‘offside’, karena melontarkan guyonan-guyonan seksis dan mengandung unsur pelecehan verbal. Ujaran-ujaran seperti “Rahimku anget”, “Rahimku bergetar”, “Bikin basah”, hingga “Cr*tnya di dalem ya sayang”.

FYI aja nih. Kalau kamu terangsang melihat laki-laki, bukan berarti itu menjadi pembenaran untuk melakukan pelecehan. Dampaknya nggak main-main, lho! Komentar-komentar tadi dikategorikan sebagai kekerasan berbasis gender online (KBGO).

KBGO sendiri, menurut Komnas Perempuan, terdiri atas beberapa bentuk antara lain pendekatan untuk memperdaya (cyber grooming), pelecehan online (cyber harassment), peretasan (hacking), konten ilegal (illegal content), pelanggaran privasi (infringement of privacy), ancaman distribusi foto/video pribadi (malicious distribution), pencemaran nama baik (online defamation), dan rekrutmen online (online recruitment).

Baca juga: Di Rumah Aja saat Pandemi Bukan Berarti Kami Dihamili

Sementara itu, ekosistem media sosial kita, dimana setiap orang mendapatkan akses bicara yang sama tanpa tersekat kelas sosial, memungkinkan orang-orang berkuasa seperti Pangeran Mateen berada dalam posisi setara dengan rakyat jelata. Sebab itu, beberapa orang merasa berhak memberi komentar apapun tanpa memikirkan dampak ataupun unsur kekerasan di dalamnya.

Guyonan seksis hadir karena terbatasnya literasi seksualitas. Selama ini, masyarakat kita masih tabu membicarakan seks, apalagi kalau yang ngomong itu adalah perempuan. Duh, langsung dianggap sebagai perempuan nggak bener.

Komentar semacam “Rahimku anget” sama saja dengan celotehan seksis nan misoginis yang sering kali dilontarkan oleh laki-laki kepada perempuan. Beda kata-katanya saja. Kita mengecam laki-laki yang kelakuannya seperti itu, begitu juga dengan perempuan.

Baca juga: Cek, Orang Lain yang Baperan atau Guyonanmu yang Toksik?

Biasanya, laki-laki mudah sekali berkomentar seksis tentang tubuh perempuan yang dianggapnya tidak sesuai dengan ‘karakteristik ideal’. Tentunya karakteristik semau-maunya dia, yang bisa saja berasal dari film porno. Atau, karakteristik berdasarkan ‘standar kecantikan’ yang berlaku dalam masyarakat patriarkis.

Sedangkan perempuan mudah sekali berkomentar seksis pada laki-laki yang dianggap ideal dan memenuhi syarat sempurna, tentunya menurut doktrin seksualitas yang ada sejak lama.

Tapi, tetap saja, lebih banyak perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Coba ketik saja “Pangeran Abdul Mateen” di Google, muncul pula berita yang membahas Anisha Isa, perempuan yang disebut-sebut dekat dengan sang pangeran.

Alhasil, akun Anisha di Instagram pun dibanjiri komen netizen. Banyak pula komentar yang bernada negatif dan jahat. Konon, beberapa netizen menyuruh Anisha untuk putus dari Pangeran Mateen. Bahkan, ada yang mem-bully Anisha di kolom komentar sebuah unggahan. Akhirnya, Anisha menutup kolom komentar hingga mem-private akun Instagram-nya.

Bayangkan, Anisha juga ikut menjadi target kekerasan online. Jadi, Pangeran Mateen tidak sendiri, kekerasan tetap menyasar perempuan.

Artikel populer: Nonton Drakor tentang Perselingkuhan yang Bikin Pikiranmu Jadi ‘Glowing’

Hal itu sering terjadi dalam masyarakat yang memposisikan perempuan sebagai submisif dari pikiran lelaki. Sedangkan pelecehan demi pelecehan yang terjadi adalah kesalahan doktrinasi pada anak-anak dan remaja.

Kasus ini tak akan pernah habis selama masih dinormalisasi dan terdapat narasi-narasi bahwa kita berhak mengobjektifikasi orang lain. Kita perlu mengubah narasi tersebut. Pendidikan seksualitas perlu menekankan persoalan privasi dan konsensus.

Tak ada pembenaran terhadap guyonan-guyonan yang menjadikan orang lain sebagai objek seksualitas tanpa konsen. Entah dia seorang pangeran, pejabat, maupun rakyat biasa. Seideal apapun orang tersebut, sedekat apapun dia dengan fantasi seksual kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini