Official trailer "Akhir Kisah Cinta Si Doel" (Falcon Pictures)

Si Doel memang dilematis. Sejak bangku kuliah, Doel harus terjebak dalam cinta segitiga: bimbang antara Sarah atau Zaenab. Setelah 27 tahun berselang, masalah Si Doel masih berkutat di situ-situ saja.

Namun, kini kompleksitas problematika cintanya lebih bikin Mandra garuk-garuk kepala. Doel harus memilih satu dari dua hati. Dirinya belum bercerai dengan Sarah, tapi sudah nikah siri dengan Zaenab. Mak Nyak pun wanti-wanti agar anaknya jangan poligami. Sebagai anak Betawi asli yang kerjaannya sembahyang-mengaji, Doel harus mengikuti titah sang ibunda.

Dari film bertajuk Akhir Kisah Cinta Si Doel, kita tahu akhirnya Si Doel memilih. Sehingga, kisah cinta legendaris itu pun berakhir. Pada saat yang sama, Mandra baru memulai kisah cinta lamanya yang sempat kandas bersama Munaroh. Bisa jadi setelah ini dibuatkan spin-off berjudul Mandra & Munaroh yang disutradarai oleh Ernest Prakasa.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Dari film terakhir trilogi Si Doel the Movie ini, kita bisa mendapatkan kisi-kisi bagaimana mengakhiri kisah cinta segitiga ala Si Doel. Simak panduannya di bawah ini:

  1. Kontemplasi

Si Doel berangkat jauh-jauh ke Belanda bukan tanpa tujuan. Selain bekerja, ia juga melakukan kontemplasi di Negeri Kincir Angin itu. Saat traveling itulah dirasa momen yang pas untuk seseorang merenung tentang hubungannya. Sebab, hubungan seperti sebuah perjalanan, ada tujuan akhirnya.

Di dalam bus, Doel tampak melamun. Nggak pakai nunduk sambil scroll Instagram lihat story orang. Mungkin dia belum beli paket data roaming.

Kontemplasi diperlukan agar seseorang bisa melihat ke dalam dirinya sendiri. Tentang apa yang dibutuhkannya dan siapa yang ia cintai.

Berbeda dengan orang kebanyakan, saat Doel melakukan kontemplasi, seringnya dikagetkan dengan teriakan Mandra. Membuat lamunannya seketika buyar dan harus melamun lagi di lain kesempatan. Itulah yang bikin Doel lebih banyak diamnya. Kesal, tapi ditahan.

Baca juga: Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

  1. Hadapi Kenyataan

Ketika diberi tahu Hans bahwa Sarah tinggal di Belanda, Doel diam saja. Namun, ketika tahu Sarah punya anak dari hasil pernikahan dengannya, Doel berani menghadapi kenyataan. Bahwa dirinya adalah seorang bapak dari putra yang tak pernah ditemuinya.

Doel menemui istrinya yang dulu sempat pergi menghilang pas lagi sayang-sayangnya. Kemudian, Doel menyapa anaknya untuk saling bertukar kata ‘hai’. Bagi sebagian orang, posisi seperti itu bisa saja adalah ketakutan terbesarnya. Ditinggal tanpa alasan, tentu saja bikin trauma. Namun, Doel masih mau menemui orang yang telah menyakitinya tersebut. Lantas dapat kabar kalau sang istri dulu kabur dalam keadaan hamil. Ketika mendengarnya, kepala Doel tidak pecah. Ternyata Doel sekuat itu.

Biar diam-diam begitu, Doel tidak denial.

  1. Mendengarkan

Doel memang tak banyak cakap, tapi bukan berarti dia tak peduli. Dia mendengarkan. Mak Nyak kasih petuah, Doel pasang telinga. Sarah nelpon minta cerai, Doel dengarkan baik-baik. Zaenab mengutarakan perasaannya yang merasa sebagai runner up dalam kisah cinta, Doel simak dengan saksama. Dul Junior mengungkapkan isi hatinya terkait hubungan ayah-ibunya, Doel pun mencermati tanpa terkecuali.

Baca juga: Yang Paling Berbahaya dari ‘Ghosting’, Bukan Cuma Kisah Horor dalam Percintaan

Banyak mendengar bikin Doel mampu melihat situasi di ranah konfliknya dengan jelas. Tak pernah sekalipun dirinya menginterupsi orang lain. Dengan kejeliannya dalam menyimak, ia bisa bijak ketika mengambil keputusan.

Namun, Doel kebangetan. Saking hobinya mendengarkan omongan orang lain, Mandra ngajak ngobrol panjang lebar, nggak disahutinya. Dengar sih dengar, tapi tak membalas berucap sepatah kata pun.

  1. Ketemu dan Ngomong Langsung

Sebaik-baiknya rekonsiliasi hubungan adalah tatap muka. Jangan hanya via telepon atau chatting. Kurang berasa gregetnya.

Zaenab tegas mengajak ketemu Sarah untuk ngomong langsung sebagai sesama perempuan. Doel pun menyempatkan bertemu Sarah untuk membahas hal yang tertunda selama bertahun-tahun. Dengan Zaenab pun, Doel menyelesaikan masalahnya dengan pertemuan.

“Kamu kenapa sih, Nab?” tanya Doel.

“Gak papa, Ngab.” Zaenab menjawab pakai bahasa gaul dengan membalik sapaan ‘bang’ jadi ‘ngab’. Biar berima. Eh, nggak gitu deng.

Artikel populer: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Tentunya, ini pelajaran bagi kita yang hidup di zaman digital. Walaupun serba siber, bukan berarti putus hubungan cinta bisa via teks atau sambungan telepon. Itu hati orang, bukan customer service. Apalagi pakai blokir segala, memangnya situs porno?

  1. Ambil Keputusan

Muara semua masalah dan drama adalah pengambilan keputusan. Sebuah keputusan mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang. Bahkan, bisa terasa menyakitkan. Namun, itu lebih baik daripada digantung sekian lama. Setidaknya keputusan bisa menjawab pertanyaan dan segala terkaan yang mengganggu pikiran selama ini.

Walaupun menyesakkan, setidaknya satu kisah telah selesai. Rasa kecewa bisa datang bersamaan dengan kelegaan. Lega bahwa harapan telah bertemu kenyataan, entah sama atau tidak, itu di luar kuasa manusia. Yang jelas, manusia berhak mengapresiasi dirinya sendiri karena sudah berjuang sejauh ini. Bentuk penghargaan diri tersebut adalah move on, berdamai dengan garis kehidupan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini