Apapun Pandangannya, THR Jawabannya

Apapun Pandangannya, THR Jawabannya

Ilustrasi (Melissa Angela Flor via Pixabay)

Ramadan penuh berkah. Ungkapan itu memang tepat dan kerap dilisankan dalam ceramah-ceramah di masjid. Ceramah tentang karunia Tuhan untuk kebaikan umat manusia, bukan ceramah tentang politik praktis yang menguntungkan segelintir orang.

Ramadan semakin berkah, terutama ketika memasuki 10 hari terakhir. Mengapa begitu? Sebab, saat itulah, para pegawai negeri sipil (PNS) dan karyawan swasta bakal menerima THR.

Sudahlah, jangan diplesetkan lagi bahwa THR itu kependekan dari Ternyata Hanya Rayuan atau Tunangan Hanya Rencana atau Teman Hidup Raisa. Sudah, sudah cukup hati ini, aihh… THR ya Tunjangan Hari Raya.

Selain THR, para PNS alias abdi negara juga bakal menikmati gaji ke-13. Jadi, bisa bayangkan, seberapa konsumtifnya masyarakat pada saat itu?

Para penerima THR tentu gembira nan bahagia ketika mendengar kabar pemberian THR dan gaji ke-13. Coba bayangkan lagi, baru mendengar saja sudah senang, apalagi sudah cair. Bisa belanja-belinji.

Sejauh ini, belum ada karyawan atau PNS yang menolak THR, lalu mengembalikannya. Meskipun ada beberapa PNS yang anti-pemerintah, tetap saja sumringah kalau dapat THR. Sedangkan PNS yang fanatik terhadap pemerintah bakal semakin fanatik.

Ah, apapun pandangannya, THR jawabannya. Semua PNS sama di hadapan THR!

Begitu juga dengan para karyawan swasta. Banyak karyawan tak sepaham atau memiliki pandangan politik yang berseberangan dengan pemilik perusahaan. Bahkan, tak sedikit yang suka menebar ujaran kebencian.

Tapi, kalau urusan THR, nagih iya…

Jangankan karyawan yang nyata-nyata bekerja di situ, lha itu ada ormas yang minta THR ke perusahaan-perusahaan atau pengusaha. Lucu kan? Memang. Namanya juga lucu-lucuan. Bukan begitu?

Tapi, kemudian, ada yang bilang, “THR kan kewajiban negara dan perusahaan, sedangkan ganti presiden adalah hak warga negara.” Ya sudah sesuka hatimu saja, sudah terima THR belum?

Di sisi lain, THR turut menguntungkan para pedagang sembako, karena ada belanja masyarakat di sana. Sudah menjadi tradisi bahwa harga-harga sembako meroket saat Ramadan, apalagi menjelang Lebaran.

Jangan-jangan, kamu abai dengan harga itu? Toh, ada THR dan gaji ke-13. Jadi, tak masalah kalau harga sembako naik. Asalkan jangan harga baju, celana, tas, dan sepatu yang ikutan naik.

Sebab, yang paling penting, bukan menahan godaan saat berpuasa, tapi tampilan kita yang wah saat hari raya. Bukan begitu, wahai kelas menengah yang budiman?

Terlebih, tahun 2018, THR dan gaji ke-13 dipastikan naik. Anggarannya mencapai Rp 35,76 triliun atau naik 68,9% dibanding tahun 2017. Memang warbyasa. Berani demo Pak Jokowi soal beginian, eh?

Kalaupun ada yang kritik, ya seharusnya dari tahun lalu sih, sebelum UU APBN 2018 disahkan. Nyatanya? Nggak ada cibiran saat itu. Wajar sih. Ini soal uang.

THR dan gaji ke-13 menjadi semacam ‘mesias’ di tengah himpitan biaya cicilan rumah, kendaraan, ponsel, perlengkapan rumah tangga, dan masih banyak lagi. Waduh…

Coba bayangkan, andaikan THR dan gaji ke-13 tidak naik atau bahkan tidak turun? Bisakah PNS dan karyawan swasta merayakan hari raya dengan tulus dan ikhlas?

Jangan-jangan, dalam konteks kekinian, Lebaran disebut-sebut sebagai hari menang banyak, bukan hari kemenangan.

Selama Ramadan, kita memang diwajibkan untuk menahan hawa nafsu. Tapi, jangan-jangan saat Lebaran, kita memaklumkan diri untuk meluapkan hawa nafsu? Yah terutama pada gerai-gerai di ruko, mal, atau toko belanja online yang memberikan menjajakan diskon up to 99%?

Jangan begitu banget kali ya. Bagikan sebagian THR kepada orang-orang yang berhak menerima, seperti fakir miskin atau anak yatim piatu. Bukan kepada mantan koruptor yang mau nyaleg lagi.

Kemudian, yang juga perlu diperhatikan, jangan sampai makna THR hanya sebatas Tunjangan Hari Raya. Bagaimana kalau dimaknai pula sebagai Terapkan Hasil Ramadan? Sama-sama THR bukan?

Kamu tak harus menunggu sampai Lebaran. Bisa mulai diterapkan ketika memasuki 10 hari terakhir pada bulan Ramadan. Sebab, biasanya, kita mulai alpa untuk memenuhi tempat ibadah, karena lebih sibuk di ruang belanja.

Tapi, kalau kamu bisanya setelah Ramadan, ya nggak apa-apa. Asal kamu paham, kita sudah memasuki tahun politik. Kalau masih saja berujar kebencian, hallooo… ngapain aja waktu Ramadan? Cuma berburu takjil dan ramai-ramai acara bukber saja?

Yah, akhir kata, sebaik-sebaiknya THR adalah yang bermanfaat bagi banyak orang. Tak hanya dinikmati oleh orang-orang yang duduk di kursi empuk kantoran, melainkan juga bagi yang duduk di lesehan (seringnya) tanpa alas.

Dan, tetaplah fokus bekerja, jangan manja.

1 COMMENT

  1. Penulis cuma nyinyir, arahnya ndak jelas ke mana, dan menghilangkan konteks ekosob dari thr. Jadi premis dan argumennya ga ada. Simpulan soal konsumtif, belanja-belanji, dsb, cuma kosmetik untuk nutupin kosongnya argumen.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.