Ilustrasi (Photo by Drop the Label Movement on Unsplash)

Ide mengenai otoritas tubuh perempuan tidak mendapat banyak dukungan, terutama dari mereka yang merasa berpegang pada ‘moralitas’. Padahal, definisi soal moral pun belum bisa diukur secara pasti. Kalau menurut KBBI, moral adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya.

Ajaran tersebut bisa disepakati secara umum, jika lingkungan dan budaya tidak sama dari satu masa ke masa. Dulu, perempuan di beberapa daerah dianggap wajar ketika bertelanjang dada di muka umum. Sekarang, ya siap-siap digelandang pak polisi. Jangankan itu, berpakaian sedikit terbuka saja menjadi semacam ukuran ‘moralitas’ seorang perempuan. Ya, di hadapan mereka yang merasa menjadi ‘polisi moral’.

Sementara itu, ide mengenai otoritas tubuh dipandang sebagai sesuatu yang bisa merusak ‘moral’ bangsa. Padahal, ide tersebut justru bisa mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Bahwa siapapun tidak bisa mengintervensi tubuh seseorang, apalagi menguasainya. Jadi, ini adalah ide yang progresif tentang bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Baca juga: Perempuan Berpakaian Mini Adalah Penebar Teror Dosa, Ah Masa?

Mengenai kehormatan perempuan, bukankah kita bisa melindunginya dengan cara memuliakannya? Secara prinsip, semestinya itu tidak ada masalah. Namun, dalam praktiknya sering timbul masalah, karena ternyata caranya berbeda-beda.

Sebagian orang menyangka bahwa kemuliaan hanya dapat diperoleh, jika perempuan tetap berada di dalam rumah untuk mengerjakan urusan-urusan domestik. Sebagian lagi menganggap bahwa perempuan perlu mengaktualisasikan dirinya di luar rumah.

Jika diibaratkan, boleh jadi seperti melindungi diri dari nyamuk. Ada yang memilih untuk menggantung kelambu sebagai tabir, ada pula yang keluar untuk membunuh nyamuk satu per satu beserta sarangnya.

Tentu kita bisa menilai bahwa berdiam diri dalam kelambu tidak akan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Sebaliknya, mereka yang keluar yang mampu mengatasi masalah dengan tuntas.

Ketika perempuan hanya dinilai sebagai properti atau objek, maka kebebasan atas akses, fasilitas umum, manfaat, dan keterlibatan terhadap keputusan publik menjadi semakin sulit. Lantas, bagaimana bisa menemukan jalan pemberdayaan perempuan, jika mereka ditempatkan dalam ruang terbatas? Sebab berada dalam kelambu bikin kita nggak bisa ngapa-ngapain selain tidur! Sungguh tidak produktif sekali.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Namun, jika perdebatan mengenai otoritas tubuh hanya sampai pada cara berpakaian, maka yang terjadi adalah pembiaran terhadap masalah lain yang lebih krusial, salah satunya kesehatan reproduksi. Ayolah, masih banyak masalah lain ketimbang ngurusin cara berpakaian orang lain, bukan?

Misalnya, soal aborsi. Konsep pro-choice dianggap merusak nilai-nilai moralitas, agama, dan kemanusiaan. Masa sih sengaja menggugurkan kandungan dibiarkan saja? Bukankah itu sama saja merampas hak hidup jabang bayi?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebetulnya tidak salah. Mengasihani jabang bayi adalah salah satu perjuangan kemanusiaan. Tetapi, bagaimana jika perempuan yang hamil adalah korban perkosaan?

Hamil dengan trauma berkepanjangan akan menganggu mental dan sangat berbahaya bagi ibu dan janin. Alhasil, perkembangan janin akan terhambat. Si bayi bisa saja lahir dengan kondisi cacat. Sebab, ibu yang mengalami depresi selama kehamilan cenderung melahirkan bayi dengan persoalan berat badan, gangguan pernapasan, prematur, dan lain-lain.

Baca juga: Soal Perkawinan Anak di Bawah Umur, yang Katanya Tak Bisa Dilarang

Lalu, bagaimana dengan perempuan yang tinggal di daerah yang serba terbatas dari segi fasilitas, infrastruktur, serta akses dan layanan informasi? Hamil bukan lagi hal menggembirakan, melainkan ancaman kematian. Tingginya angka kematian ibu disebabkan oleh keterlambatan dalam penanganan saat kehamilan maupun persalinan.

Selanjutnya, hal yang lebih krusial lainnya adalah tentang perjodohan. Saya percaya, seseorang yang berusaha mencarikan jodoh untuk orang lain, termasuk untuk anak atau keluarganya, adalah ladang pahala. Terlebih, orangnya cocok, tentu akan menjadi sumber kebahagiaan.

Tetapi, kalau perjodohan itu bersifat pemaksaan, ya sama saja mendorong tubuh orang lain ke dalam api neraka. Neraka dunia. Maka, yang tadinya ladang pahala berubah menjadi ladang dosa. Yang semula niat baik, eh malah ikut menjajah hidup orang lain.

Nilai kebahagiaan itu jelas beda-beda. Kebahagiaanmu belum tentu sama dengan kebahagiaan orang lain, meskipun dia adalah anak atau saudaramu sendiri.

Perkawinan usia anak adalah salah satu contoh di Indonesia yang sampai saat ini belum terselesaikan dengan baik. Biasanya, mereka dikawinkan dengan alasan kemiskinan, budaya, agama (menghindari zina), hingga masalah kenakalan remaja yang katanya bisa selesai kalau dikawinkan.

Artikel populer: ‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Perkawinan ini menyebabkan anak kehilangan kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya. Akses pendidikan pun menjadi terbatas. Terlebih, anak perempuan menghadapi ancaman kematian saat bersalin. Sebab, mereka lebih berisiko dibandingkan orang dewasa karena organ reproduksinya belum matang.

Jadi, beberapa hal krusial di atas tidak bisa dipisahkan, jika kita berbicara tentang otoritas tubuh. Sebab, sudah tertanam dalam benak hampir semua orang bahwa tubuh anak perempuan adalah milik orangtuanya. Sementara, tubuh istri adalah milik suaminya. Dengan begitu, orangtua atau suami merasa berhak mengintervensi.

Kepemilikan terhadap tubuh perempuan seperti itu malah menjadikan perempuan tidak leluasa atas tubuhnya sendiri. Maka, tidak mengherankan jika kekerasan dalam rumah tangga masih marak.

Sebetulnya masih banyak hal-hal yang lebih krusial mengenai otoritas tubuh perempuan, seperti kebebasan menentukan jumlah anak, kebebasan menentukan metode kontrasepsi, kebebasan untuk menolak berhubungan seksual, dan lain-lain. Namun, selama ini, kita terlalu menghabiskan banyak waktu untuk menilai perempuan dari pakaiannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini