Perempuan Berpakaian Mini Adalah Penebar Teror Dosa, Ah Masa?

Perempuan Berpakaian Mini Adalah Penebar Teror Dosa, Ah Masa?

Ilustrasi (Molly Belle via Unsplash)

Suatu waktu, seorang ustaz kondang merasa terganggu dengan perempuan berpakaian mini dan menganggap mereka sebagai penebar teror dosa kepada laki-laki. Apa iya begitu?

Bulan puasa seharusnya menjadi momen refleksi diri dan menahan hawa nafsu, tapi tampaknya masih banyak lelaki yang begitu takut tak kuat iman. Kemudian, ya apalagi kalau bukan menyalahkan perempuan.

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak menyerah kepada hawa nafsu. Pun, mengajarkan ikhwal menutup aurat. Sesama muslim memang wajib mengingatkan, bukan wajib menghakimi.

Lagipula, jika memang perempuan berpakaian mini adalah penebar teror dosa kepada laki-laki, lantas bagaimana dengan laki-laki yang menebar rasa takut kepada perempuan di jalanan setiap hari?

Apa itu bukan teror?

Perempuan adalah pihak yang paling sering dilecehkan, mulai dari siulan di jalan, dipegang-pegang bagian tubuhnya, hingga pemerkosaan dan pembunuhan. Tak peduli dengan pakaian yang dikenakan, mini atau berjilbab sekalipun.

Belum lagi ketika sampai di kantor, terutama saat berhadapan dengan bos laki-laki. Seringkali perempuan harus diam ketika si bos dengan leluasa memegang bagian tubuh si perempuan tanpa persetujuan.

Akhirnya, banyak perempuan yang mau tidak mau membatasi ruang geraknya di ruang publik, hanya karena takut dengan perlakuan seperti itu.

Apa itu bukan teror?

Akibatnya, banyak perempuan menjadi tidak produktif dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari. Bukan, bukan karena manja, tapi demi keselamatan hidup.

Seringkali perempuan harus mengurungkan niat berpergian dengan berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum, karena risih dengan gangguan di jalan. Padahal, dengan berjalan kaki, bisa menghemat biaya sekaligus mengurangi dampak lingkungan akibat kendaraan pribadi.

Masih ingat dengan kasus begal payudara?

Seorang laki-laki dengan isengnya meremas payudara perempuan yang sedang berjalan kaki di Jalan Kuningan Datuk, Depok. Memang pakaian apa yang dikenakan korban? Mini? Oh bukan, berjilbab.

Selain di Depok, ada juga aksi peremasan payudara di Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Bedanya dengan di Depok, apa? Ya mirip, korbannya sama-sama perempuan berjilbab. Menurut ngana berpakaian mini?

Belum lagi, aksi begal payudara di Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta, di Lamongan, Jawa Timur, lalu di Riau, dan masih banyak lagi.

Kalau di luar negeri, ada yang namanya kelompok Incel (Involuntarily Celibate – secara terpaksa membujang/menjadi perjaka), yang menjadi ancaman nyata bagi perempuan. Sudah terjadi tiga kasus pembunuhan perempuan oleh laki-laki bernama Elliot Rodger, Alek Minassian, dan Dimitrios Pargoutzis.

Mereka melakukannya lantaran cinta dan permintaan kencannya ditolak perempuan. Kelompok Incel aktif bersosialisasi di dunia maya dan menebar kebencian terhadap perempuan dan laki-laki (yang sukses tidur dengan banyak perempuan).

Balik lagi ke negeri sendiri.

Berita mengenai perempuan yang dibunuh oleh laki-laki akibat ditolak juga banyak ditayangkan di koran-koran Indonesia. Misalnya, kasus perempuan diperkosa menggunakan gagang pacul hingga tewas. Padahal, ia sudah jelas menolak berhubungan seksual. Bahkan, ada suami yang membunuh istrinya, lantaran menolak bersenggama.

Banyak yang tidak menyadari adanya penyakit misoginisme ini, yaitu kebencian terhadap perempuan yang begitu meluas dan mendarah daging. Kemudian, diafirmasi dengan tindakan seperti memperkosa dan membunuh.

Hal itu juga tak lepas dari perasaan dimana laki-laki merasa berhak mengatur tubuh perempuan, mulai dari mengatur cara berpakaian hingga mengancam akan memperkosa, jika tak mengenakan pakaian yang dituntut oleh masyarakat patriarkis. Sudah menjadi korban, disalahkan pula.

Selain itu, lingkungan yang menumbuhkan bentuk maskulinitas yang tidak sehat juga menyuburkan bagaimana laki-laki berperilaku terhadap perempuan. Seringkali anak laki-laki dididik untuk menekan emosi mereka, dan ketika dewasa tak sanggup menghadapi penolakan terutama dari perempuan.

Alhasil, yang mereka lakukan adalah meneror, mulai dari teror verbal seperti memanggil perempuan yang menolaknya dengan sebutan yang merendahkan hingga pembunuhan.

Anak laki-laki banyak dibebaskan untuk menjadi apapun sesuka hati, sementara anak perempuan sedari kecil dijejali amanat-amanat untuk menjadi terdomestikasi.

Ini akhirnya tidak memberikan rasa tanggung jawab atas perilaku anak laki-laki. Anak laki-laki diberi keleluasaan dan keistimewaan hingga akhirnya saat dia dewasa, kesalahan mereka diampuni dan dimaklumi. Ya balik lagi, karena dia laki-laki.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa laki-laki takut ditertawakan, perempuan takut dibunuh. Ini benar adanya, karena perempuan termasuk saya, selalu was-was ketika berpergian dan menggunakan jasa transportasi.

Perempuan lebih sering diteror ketimbang laki-laki yang selalu khawatir tak kuat iman. Dan, nyatanya tak banyak lelaki yang menyadari itu. Mereka bahkan ‘membenarkan’ dosa dengan menyalahkan perempuan.

Kalau begini, siapa yang menebar teror? Perempuan berpakaian mini atau misogini?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.