Pakaian Lari Didesain Nyaman, Hati juga Harus Dibuat Nyaman

Pakaian Lari Didesain Nyaman, Hati juga Harus Dibuat Nyaman

Ilustrasi pelari (Bradley Wentzel via unsplash)

Kaos katun dan celana pendek sekadarnya, dulu, sudah cukup sebagai modal untuk berlari. Seiring semakin menjamurnya kegiatan lari, para pelari sekarang sudah semakin tahu bagaimana pakaian lari yang nyaman dan sesuai standar profesional

Untuk atasan, ada singlet, tank top, lengan pendek, atau lengan panjang. Untuk bawahan pria, ada pilihan mulai dari celana pendek dengan berbagai ukuran panjang, hingga celana ketat. Untuk wanita, semua pilihan itu ditambah skort.

Semua ini digunakan agar aktivitas berlari menjadi lebih nyaman dan tepat sasaran. Contohnya, dengan memilih bahan seperti poliester dan nilon dapat menguapkan kelembapan keluar dari tubuh dan cepat kering. Bahan seperti ini membuat kulit tetap dapat bernapas (breathable) dan membuat anda tetap adem selama berlari.

Tapi, kalau anda melintasi daerah tertentu, keadaaannya akan berbeda. Pakaian yang didesain agar aktivitas berlari jadi nyaman itu malah membuat si pelari mendapatkan ketidaknyamanan. Duh.

Di media sosial, video pelari wanita yang diadang warga saat berlari di wilayah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman Yogyakarta, karena dianggap berpakaian kurang sopan menjadi viral. Pelari wanita yang dianggap berpakaian kurang sopan itu dipukul oleh warga saat melewati rute karena dianggap tidak menghormati aturan lokal.

Ruhiyana, Ketua Milad sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA, yang menggelar acara lari itu menegaskan acara yang ia gelar sesuai dengan prosedur yang ada, serta merupakan bagian dari kerja sama dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) DIY. Sehingga rute maupun pakaian yang ditentukan sudah sesuai standar atlet profesional, tetap sopan, dan nyaman.

Tapi, apakah panitia event lari ini juga sudah mempertimbangkan daerah yang dilintasinya. Apakah akan membuat si pelari dan warga yang dilintasi menjadi nyaman. Bukan apa-apa, kalau aktivitas berlari yang menyenangkan itu malah berbalik jadi tidak menyenangkan, kan malah gak asik jadinya.

Selain masalah pakaian, kalau memang aktivitas lari itu mengganggu warga ya harusnya rute tidak dibuat melewati tempat itu. Kan males banget pas kita keluar rumah mau beli bubur tiba-tiba ada serombongan orang “asing” lari-lari di gang rumah.

Untung saja panitia sudah berkoordinasi dengan perangkat desa pasca kejadian ini. Disampaikan jika yang dipermasalahkan memang mengenai pakaian. Masalah ini juga sudah diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak pelari sudah tidak lagi mempermasalahkan insiden tersebut.

Damai untuk semua.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.