Ilustrasi lelaki. (Photo by Enoch Patro from Pexels)

Inilah fenomena yang kerap terjadi dalam keseharian, termasuk saat bersilaturahmi. Yup, ketika ajang silaturahmi malah berbelok jadi sidang penghakiman.

Mungkin momen ini pernah kalian alami, misalnya saat ramah-tamah dengan keluarga atau kerabat: awalnya basa-basi, curhat sedikit, lalu dipotong yang lain, dikomparasi dengan portofolio kesusahannya, dan tak jarang beberapa orang akan berubah jadi penceramah dadakan.

Dan, kaum Adam tampaknya hobi memotong dan paling mendominasi. Ini salah satu bukti bahwa lelaki justru yang lebih sering bacot. Ini sekaligus membantah stereotip yang selama ini tertanam kuat di masyarakat bahwa perempuan lebih cerewet ketimbang lelaki.

Baca juga: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Saya sempat telusur Google untuk memantapkan argumen ini. Ada hasil penelitian yang memang menyebutkan bahwa lelaki menginterupsi pembicaraan perempuan 2,3 kali lebih sering. Ada pula artikel ilmiah yang bisa diunduh gratis secara legal dari University of North Georgia berjudul Mansplaining: The Systematic Sociocultural Silencer. Artikel yang ditulis oleh Anna-Grace Kidd itu menjelaskan bahwa mansplaining merupakan masalah budaya nyata yang harus ditangani, seperti ketidakadilan sosial. Mansplaining telah menjadi nilai budaya yang dilembagakan dan sistematis tertanam dalam setiap aspek masyarakat.

Jadi, ya, mansplaining adalah mode komunikasi maskulin tertentu ketika lelaki, dalam percakapan dengan perempuan, berbicara seolah-olah mereka adalah pakar alias paling jago. Ada juga beberapa praduga keahlian, misalnya pada subjek tertentu; dari sepak bola, pemrograman, atau masalah teknik. Yang paling aneh tentu saja lelaki merasa lebih berpengalaman soal kehidupan.

Lantas, mengapa mansplaining begitu tersebar luas? Dari mana asalnya? Ini tentu bukan hasil karena lelaki tahu segalanya. Ini adalah ketakutan kolektif lelaki yang berasal dari sifat transaksional hubungan lelaki. Lelaki dikondisikan untuk percaya bahwa mereka harus berpura-pura sudah mengetahui segalanya.

Baca juga: Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Mansplaining berakar pada bagaimana lelaki dilatih untuk membentuk hubungan. Selama beberapa generasi, budaya maskulinitas telah mengajari lelaki untuk menekan ekspresi emosional mereka, untuk menunjukkan kepastian dan kepercayaan diri di atas segalanya, sejak dirinya masih kecil.

Alih-alih berhubungan dengan cara yang khas dan otentik secara individual, laki-laki didorong untuk berhubungan secara sosial dalam konteks kelompok dan organisasi, apakah itu di sekolah atau di tim olahraga. Dalam konteks kelompok inilah, pola persahabatan laki-laki dibentuk. Di dalam ruang yang terorganisir ini, lelaki diajari untuk menyembunyikan ekspresi emosional mereka.

Seringnya hal ini secara tak langsung melarang ekspresi emosional dan relasional yang lebih otentik pada lelaki, menyebabkan lelaki malah terhubung melalui lingkaran kompetensi. Lelaki mendekati satu sama lain tak hanya dalam hal kepentingan yang sama, tetapi dalam hal kompetensi dalam kaitannya dengan kepentingan tersebut.

Baca juga: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Fokus untuk mendemonstrasikan kompetensi ini menjadi sesuatu yang sangat berbeda ketika berhubungan dengan perempuan. Untuk memahami gejala ini, yang paling mudah adalah dengan melihat ketika lelaki melakukan PDKT lewat aktivitas bernama pamer, apakah itu pengetahuan atau kesuksesan finansial.

Sebagian besar dari lelaki hanyalah bocah yang dihalangi untuk mengembangkan kapasitas otentik dalam berhubungan. Banyak dari lelaki tidak pernah diberi ruang untuk berlatih dan mengembangkan kapasitas relasional itu. Ketika lelaki mencoba mengupayakannya, mereka malah dipermalukan dan diintimidasi.

Jadi, saat para lelaki merasakan dorongan untuk membuktikan bahwa dirinya tahu lebih banyak, berhenti sejenak dan tanya pada diri sendiri, “Apa yang mendorong keinginan saya untuk melakukan ini?”

Artikel populer: Bro, Masih Kepingin Banget Punya Penis Besar?

Setiap interaksi yang lelaki miliki adalah kesempatan untuk keluar dari balik fasad yang dirinya bangun dan agar terhubung dengan cara yang lebih otentik. Lelaki dapat mengesampingkan dorongan tanpa henti untuk membuktikan keahliannya dan sebaliknya berbagi apa yang menjadikannya manusia secara individu.

Kita bisa menjadi diri sendiri. Ketika kita berbagi cerita pribadi dan mendengarkan cerita pribadi orang lain, hal itu mengundang bentuk hubungan antarpribadi yang lebih otentik. Saat kita mendengarkan cerita orang lain, itu menumbuhkan empati.

Untuk menyudahi mansplaining ini, wahai para lelaki, termasuk saya, cobalah menahan ego dan beranikan diri untuk berkata, “Saya tidak tahu, tolong ceritakan lebih banyak soal itu.” Tentunya bukan sebagai ‘buaya’, melainkan murni itikad baik sebagai pendengar. Kalau tidak bisa berkata benar, memang lebih baik diam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini