Article
Ilustrasi kelas borjuis (Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

Sepertinya saya ini orang paling tidak relijius. Sudah sejak beberapa tahun silam tidak pernah mengucapkan selamat hari raya dalam tradisi agama apapun melalui akun media sosial. Wah wah, betapa intolerannya saya, bahkan sama agama sendiri. Itu jika toleransi diukur dari ucapan selamat hari raya versi berbagai agama.

Seorang dosen, dalam sebuah kelas bertema perdamaian, pernah mengutarakan tanya, “Ada nggak ya yang bisa melampaui konsep toleransi?” Pertanyaan itu muncul dalam pemahaman bahwa toleransi selalu memiliki prasyarat utama berupa ketidaksukaan.

Misalnya, teman kos saya suka durian, sedangkan saya benci aromanya. Setiap kali doi makan durian di kos, saya bakal tersiksa akan baunya. Saya terganggu dengan aktivitasnya makan durian di kos dan dia terganggu dengan kerentanan saya membaui aroma durian. Dalam situasi itu, memungkinkan untuk ada toleransi.

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Tapi sebenarnya, saya dan teman saya tidak perlu repot-repot berusaha mewujudkan toleransi, sih. Durian itu kan bukan satu-satunya aspek dalam kehidupan di bawah atap kosan. Ada lebih banyak hal yang bisa kita nikmati bersama selain durian, seperti saling ngangkatin jemuran. Juga, hal-hal yang kita sambati bersama selain bau durian, seperti harga sewa yang kerap naik. Dengan adanya kesamaan-kesamaan nasib, kita tak lagi peduli amat ihwal toleransi-toleransian.

Dalam konteks antar umat beragama, prinsipnya pun tak jauh beda. Mungkin, orang tidak perlu juga terlalu repot berkampanye atau berdebat perihal toleransi antar umat beragama, seandainya kita sadar sedang hidup di bawah langit yang sama, dimana jumlah kelas pekerja adalah populasi terbesar dan kita merupakan golongannya.

Bukankah kita sama-sama menikmati hari libur nasional dan cuti bersama pada setiap perayaan hari raya agama apapun? Tak peduli muslim, nasrani, hindu, umat buddha, penghayat, agnostik, ateis, di hadapan tanggal merah, kita semua sama. Apalagi, di hadapan sale up to 70%!

Sebagai insan kapitalisme, pada hari libur, kita pun sama-sama jadi penglaris industri pariwisata dan seluruh penopangnya. Kita sama-sama menikmati waktu libur sebelum kembali dieksploitasi tenaga dan pikirannya. Sementara itu, negara bersuka cita lantaran pertumbuhan ekonomi diperhitungkan dari tingkat konsumsi per kapita.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Pada hari-hari biasa, kita pun sama-sama sambat soal sistem yang keranjingan jam kerja, memaki perusahaan yang memangkas asuransi kesehatan dari upah bulanan, beban pekerjaan yang tidak kelar-kelar, atau nyeri haid yang tidak memperoleh perhatian.

Jadi, jika ada konsep yang melampaui toleransi dalam konteks antar umat beragama, bagi saya, adalah persamaan nasib kita sebagai hamba dari sistem ekonomi yang ada. Ia yang mendesain kita sebagai pekerja rentan dan kelas menengah depresif, juga mendesain kesenjangan menjadi sebuah kewajaran.

Ya ampuuun, betapa hidup kita tidak melulu dihabiskan untuk ritual di rumah ibadah sepanjang waktu ataupun merayakan tradisi seperti hari raya setiap hari. Hidup membuat kita lebih banyak menghabiskan hari-hari untuk mencari nafkah, melakukan hobi, atau bahkan berkarya dan berkontribusi sosial di tengah segala keterbatasan. Adakah dalam aktivitas-aktivitas ini kita perlu menampakkan identitas agama masing-masing?

Baca juga: Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Lagi pula, apapun agama kita, bukankah pola beragama kita sama, ya? Melakukan ritual ibadah dan memperlakukan hari raya layaknya tradisi semata. Idul Fitri tentang mudik dan makan opor ayam, sedangkan Natal tentang pohon-pohon yang indah, kalkun panggang, dan tukar kado. Di malam perayaan pergantian tahun, kita pun menyalakan mercon bareng-bareng.

Usai libur hari raya, semua kembali ke rutinitas biasanya, menggenjot kembali produksi kapitalnya dan memainkan kembali peran sebagai borjuis-borjuis kecil di kota.

Maka, apa yang membedakan umat beragama sebenarnya bukan di identitas agamanya, melainkan pada bagaimana cara mengimani sebuah agama. Apapun agama kita, seandainya terlalu skriptualis dalam cara keberimanan, jadinya kan juga menyebalkan. Menyebalkan dalam arti memperlakukan agama tak lebih dari dogma buta yang mengekang ini-itu tanpa penalaran akan konteks, dan paling mentok jadi tradisi.

Artikel populer: Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Itu kenapa kita semestinya tidak perlu heboh kalau ada yang pindah agama atau sekadar lepas jilbab. Berpindah agama tapi masih beriman dengan cara yang tradisional dan kaku kan sama saja. Berpindahnya agama seorang yang begitu tidak lantas membuat barisan serikat buruh bertambah, perlawanan terhadap industri kecantikan meluas, apalagi mengurangi kesenjangan.

Michael Lowy menulis Teologi Pembebasan dalam tradisi gereja, Asghar Ali Engineer pun menulis Islam dan Teologi Pembebasan. Bukankah ini wujud nyata dari apa yang melampaui konsep toleransi? Yakni, progresivitas dalam beragama.

Karena pada dasarnya umat beragama itu sama saja, yang membedakan hanya kelas sosialnya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini