Pacaran, tapi Nggak Mau Menikah, Gimana?

Pacaran, tapi Nggak Mau Menikah, Gimana?

Ilustrasi (Van Thang via Pexels)

Tulisan ini sebetulnya terinspirasi saat membaca artikel Heni Purwati di Voxpop berjudul “Menikah, tapi Nggak Mau Punya Anak, Boleh kan?” – yang mengulas titik singgung patriarkal dengan keputusan untuk memilih childfree.

Childfree adalah sebutan untuk para pasangan yang sengaja memutuskan untuk tidak mempunyai anak, baik itu anak kandung, tiri, atau angkat. Belakangan, childfree menjadi tren gaya hidup.

Sontak, saya berpikir apakah publik kita siap menerima pilihan-pilihan yang cenderung distigmatisasi lahir dari rahim peradaban Barat? Yah, secara sensasi peradaban kita punya relasi antagonis dengan peradaban Barat. Gitu kan?

Sekalipun childfree adalah keputusan atas pilihan pribadi yang merupakan bagian dari hak asasi manusia, tetap saja mereka harus banget berhadapan dengan keluarga, kerabat, teman, bahkan dengan tetangga yang suka bisik-bisik tapi berisik.

Pasangan suami-istri yang memutuskan childfree tak jarang dinyinyirin, dikucilkan, bahkan ‘dihakimi’. Mereka dinilai super egois hingga dianggap menolak rezeki Tuhan. Tapi, jangankan childfree, pasangan yang mengalami kendala biologis untuk memiliki anak juga tak luput dari sindiran.

Janganlah melihat bagian yang satu, tapi menutup bagian yang lain, seolah-olah bagian yang satu itu adalah kebenaran absolut. Apapun pilihannya, setiap orang berhak hidup setara.

Childfree adalah sebuah realitas, belum lagi realitas lain tentang potret pasangan yang hanya ingin pacaran, tapi nggak mau menikah, apalagi punya anak. Fenomena ini beda-beda tipis dengan childfree, kalau dilihat dari konteks sosial.

Baca juga: Kalaupun Nggak Pacaran, Bukan Berarti Harus Nikah Muda

Titik interseksinya ada pada ‘pilihan’ itu sendiri. Apa yang patut disalahkan dari sebuah pilihan? Bukankah setiap pemilih bertanggung jawab secara utuh atas pilihannya itu?

Setiap pilihan sesungguhnya tidaklah lahir dari ruang kosong. Bisa jadi tidak ada pilihan dalam kehidupan manusia yang tidak memiliki dasar pengetahuan. Bahkan sampai ke titik terabstrak sekalipun, seperti ‘memilih untuk tidak memilih adalah pilihan’.

Pilihan sejatinya adalah hasil dari olah pikir manusia sebagai makhluk rasional yang berdasarkan pada pandangan dunia (worldview). Kemudian, dari worldview ini mengalami uji keabsahan terhadap realitas.

Worldview memiliki peranan penting bagi setiap individu dalam melakukan tindakan apapun. Akibat integratifnya adalah segala bentuk aksiologis dari setiap pandangan dunia tidaklah memiliki kontradiksi dari apa yang ada dalam pengetahuannya.

Singkatnya, jika ada kontradiksi antara pandangan dunia dengan apa yang harus dilakukan, maka sudah barang tentu cara pandang pada dunianya lah yang patut dikoreksi. Lebih spesifik lagi, hasil dari dialektika pandangan dunia dan realitas objektif akan melahirkan ideologi yang diyakini dan patut diperjuangkan.

Baca juga: Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Bisa bayangkan, bagaimana worldview kelompok masyarakat politik yang tega mempersekusi seorang ibu di kerumunan massa, karena beda pilihan politik? Bagaimana worldview masyarakat patriarkis terhadap perempuan yang sudah tahu menjadi korban, tapi sering disalahkan juga?

Setiap pilihan untuk berpacaran tanpa menikah pun demikian. Ia lahir dari kondisi-kondisi terdalam manusia. Melalui beragam benturan dengan apa yang dihadapinya hingga melahirkan solusi agar tetap bertahan pada apa yang diyakininya (ideologi).

Jadi, kalau ada yang pacaran lalu menikah atau pacaran terus tapi nggak mau menikah, itu adalah karya ideologis setiap manusia. Begitu juga dengan pasangan yang menikah dan memilih punya anak atau pasangan yang menjalani childfree.

Antara childfree dan hubungan asmara tanpa pernikahan, sama-sama berjalan di tengah beragamnya argumentasi penolakan. Bahkan, lebih ekstrem lagi, bisa sampai pada tindakan subordinatif. Karang-karang penolakan itu bisa saja berdasarkan pada asumsi psikologis, norma adat, dan tafsir dalam agama.

Meskipun demikian, menyamakan begitu saja antara pacaran tanpa menikah dengan menikah lalu memilih untuk childfree adalah sebuah keterburu-buruan. Sebab, keduanya lahir dari konteks dan kondisi internal pelaku yang berbeda. Tetapi, di sisi lain, ada sebuah asumsi ontologis dari keduanya, yakni ‘pilihan’ itu sendiri.

Artikel populer: Bagaimana Seharusnya Melihat Konflik Jerinx SID dan Via Vallen

Saya pun tidak meyakini seberapa banyak pasangan yang memiliki relasi semacam ini – pacaran tanpa menikah. Tetapi, fakta tersebut bukan hal baru, sebab Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir (1929) telah lama dijadikan episentrum tentang itu. Tentu, masih banyak lagi orang yang tidak sepopuler Sartre atau Simone de Beauvoir, yang memiliki komitmen serupa.

Akhirnya, bagaimana pun juga setiap pilihan tidak bisa dihukum secara egois dan sporadis tanpa didahului oleh pendalaman cara pandang si pemilih terhadap dunia, terutama sebelum ia memutuskan pada suatu pilihan.

Sementara, bagi publik yang merasa paling benar, yang tidak mau mendasari pikiran dan tindakannya dengan latar argumentasi dan dalil yang tepat, akan terbentur pada kesia-siaan.

Dan, tugas bagi pihak yang memahami atau setidaknya mencoba memahami realitas itu adalah menyediakan seperangkat logframe pandangan dunia agar orang tak serampangan menyimpulkan, apalagi sampai menghakimi.

Memang situ siapa?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.