Ilustrasi. (Photo by Ron Lach from Pexels)

Banyak orang menganggap bahwa pacaran lima tahun terus putus itu artinya rugi. Saya bingung, rugi gimana sih?

Oh, apakah karena masyarakat menganggap bahwa orang yang berpacaran tujuannya selalu menikah, sehingga tidak menormalisasi orang yang berpasang-pasangan tanpa menikah?

Orang berpacaran kan setidaknya ingin ada sedikit eksklusivitas untuk melakukan penjajakan. Anggap saja latihan dalam berkomitmen sebelum menikah. Doi baik nggak? Setia gak? Pemikirannya gimana? Ada tesnya lho, namanya TWK alias Tes Wawasan Kekasih.

Tapi nyatanya, pacaran sering jadi semacam ajang ‘investasi’ buat meyakinkan pasangan dan keluarga bahwa dirinya layak ‘investasi’, eh layak jadi calon yang tepat.

Misalnya dalam masyarakat heteronormatif, lelaki dianggap pemberi nafkah utama, sehingga ketika pacaran, lelaki dituntut untuk membiayai kebutuhan perempuan kayak bayarin ke salon, bayarin makan, beliin tas, sepatu, dan lain-lain. Banyak lelaki melakukannya dengan harapan bahwa perempuan kelak merasa terpenuhi dan menerima lamarannya untuk menikah. Kadang ada pula perempuan yang merasa terjebak dan terpaksa untuk mengatakan “ya” saat diajak menikah.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Begitu juga dengan perempuan. Ia juga kerap dipaksa melakukan semacam ‘investasi’ dengan iming-iming janji dinikahin, jika mau diajak berhubungan seksual. Ada pula perempuan yang menerima perlakuan seperti pekerja rumah tangga supaya kelak dinikahin. Contohnya baju pacarnya dicuciin, kamar kosnya dirapihin. Padahal kasih upah aja nggak. Itu ‘investasi’ atau manipulasi?

Nah, bahaya dari ‘investasi’ dalam masyarakat heteronormatif tersebut adalah lelaki akan merasa rugi jika ia telah menghabiskan banyak uang. Tak jarang bila si lelaki tidak tulus, dia akan mencatat semua biaya yang pernah dikeluarkan untuk perempuan, kemudian menagihnya ketika putus.

Atau, ketika putus, si perempuan kekeuh nggak mau putus karena sudah diiming-imingi janji pernikahan dan menganggap dirinya udah nggak perawan lagi. Sebagai korban patriarki, ia bisa melakukan hal yang dapat merugikan orang lain. Padahal keperawanan hanya mitos.

Baca juga: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Sebenarnya sih nggak ada yang salah dari ‘investasi’ dan pacaran lama-lama, asalkan… dilakukan dengan setara.

Waktu yang saya habiskan untuk pacaran lama-lama tanpa menikah, misalnya, adalah bentuk ‘investasi’ juga. Wah, harusnya balik modal dong? Tentu saja!

Saat pacaran, seseorang ‘menginvestasikan’ waktu untuk mengenal dirinya sendiri dan pasangan. Latihan untuk membangun relasi yang baik, latihan menahan emosi, latihan kerja sama, ya semacam workshop. Perkara menikah sama dia atau tidak, itu urusan nanti! Lah, kok gitu? Nggak buang-buang waktu tuh?

Gini deh, pernah lihat orang yang sudah pacaran lima tahun kemudian putus, terus langsung menikah dalam waktu kurang dari setahun dengan orang lain yang baru ia temui, nggak? Nah itu, karena dalam lima tahun dia sudah berevolusi dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, matang, dan mumpuni.

Baca juga: Kalaupun Kamu Anti-Pacaran, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Dalam lima tahun tersebut, ia mendapatkan pengalaman dan kesadaran akan tujuan hidupnya. Dia juga kemudian sadar bahwa ia memiliki visi dan misi yang berbeda dengan mantannya. Cabang pohon saja tumbuhnya bisa beda arah padahal masih satu pohon, apalagi manusia? Seiring berjalannya waktu manusia bisa berubah, termasuk dalam hal pacaran.

Pengalaman yang seseorang dapatkan selama lima tahun terakhir bersama mantannya dapat digunakan untuk menjalin dan membangun hubungan lebih baik dengan orang lain. Ia bisa belajar dari pengalaman sebelumnya untuk mengeliminasi kesalahan dan mencari tahu apa yang ia benar-benar inginkan dari pasangan dan relasinya.

Makanya tak jarang orang yang sudah lama berpacaran kemudian putus dan mendapatkan pasangan yang baru. Sering kali orang yang baru lebih baik dari mantannya.

Menjalin relasi pun tak harus selalu mikirnya ‘investasi’ kepada orang lain. Relasi dengan orang lain justru ‘berinvestasi’ pada diri sendiri, karena di situ kita diuji dan dilatih. Kita ‘investasi’ waktu pada diri sendiri!

Artikel populer: Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Jadi, tidak ada yang rugi ketika menjalani hubungan dalam waktu yang relatif lama, asalkan dapat memetik pelajaran. Tapi, kalau menerapkan prinsip-prinsip heteronormatif dalam sebuah relasi, tentu saja akan terus merasa rugi.

Coba deh untuk saling berbagi. Contohnya saat kencan, ada yang bayar makanannya, ada yang bayarin transportasinya. Kita bisa berkontribusi dan disesuaikan dengan kantong masing-masing. Tak perlu memaksakan diri jika salah satu tidak sanggup, cukup dikomunikasikan saja. Dengan demikian, kita belajar membangun relasi.

Jika merasa nggak cocok dengan kontribusinya yang terlalu kecil dalam hubungan dan merasa terbebani, apalagi kalau si dia nggak bisa diajak berkomunikasi, kita punya pilihan untuk mengakhiri hubungan. Mungkin bukan jodoh.

Bisa jadi saat ini jodoh kita masih pacaran sama orang lain, mengalami turbulensi dalam hubungan, sambil melatih emosi. Bersiap untuk menjadi pribadi yang lebih baik agar kelak sama-sama layak dan cocok dengan kita. Jodoh deh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini