Pacaran Lama-lama Akhirnya Ambyar juga

Pacaran Lama-lama Akhirnya Ambyar juga

Ilustrasi (Photo by Gokil on Unsplash)

Perihal asmara, saya gadis paling cupu sedunia. Ketika teman-teman sebaya berbincang serius tentang hubungan cinta, saya cuma bisa dengerin dengan seksama. Ketika mereka asyik ngobrolin seks, saya pun jadi pendengar yang lebih seksama.

Lalu, ketika obrolan sampai pada urusan nikahan, saya cuma bisa menatap lekat masing-masing sorot mata mereka. Pada korneanya, terpancar ketulusan, kadang-kadang kedunguan.

Belakangan ini saya menginjak usia dua puluh lima dan masih saja sepolos sebelumnya. Tidak ada track record dalam hubungan asmara, bercinta suka sama suka, apalagi diskusi soal biaya ke pelaminan.

Pengalaman asmara saya sama persis dengan pengalaman melamar kerja, selalu mengalami penolakan. Beruntunglah, saya sudah terlatih hidup menderita sejak presiden kita Bu Mega.

Eh, sebentar, tapi gimana mungkin topik percintaan dibahas oleh seorang yang nihil riwayat hubungan asmara?

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Begini. Pertama, untuk bisa memaknai cinta kan syarat utamanya ialah jatuh hati, tidak perlu sampai tahap saling mencintai, lebih-lebih saling memiliki. Kedua, untuk memaknai pernikahan pun tidak harus dengan bekal pegalaman, ada sambatan orang-orang yang selalu nyaring terdengar. Maka, memaknai cinta dan pernikahan hanya butuh perasaan dan penalaran. Sebab, cinta itu perkara emosional dan pernikahan perkara rasional.

Ada yang hobi menulis puisi tentang dirimu, melukiskan pesona binar mata hingga tahi lalat dalam wujud kata-kata. Kalau dibilang itu luapan perasaan cinta, memang iya. Tapi, menghimpun emosi cinta sekadar dalam karya prosa itu kebodohan. Sama halnya dengan menganggap puncak estetika mencintai hanya ada tatkala kelon-kelonan.

Ada yang bersukarela mengantar jemputmu saat kerja, berusaha nabung buat beliin buku-buku sesuai minatmu atau album musik kesukaanmu. Nah, struktur cinta yang begitulah yang sebenarnya memanusiakan. Bagaimanapun, kita ini manusia, berbadan, dan berakal. Jatuh cinta tidak membuat kita lepas dari kebutuhan asupan kalori, keterampilan, dan pengetahuan, kan?

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Dalam semesta kapitalisme, bilang cinta sepenuh hati tapi kok usahanya cuma bikin puisi atau tuman ngajak wikwikwik – tanpa peduli masa depan orang yang dicintai – adalah omong kosong.

Sebagai pendengar khotbah curhat percintaan, beberapa topik pernah saya simak. Dari yang paling purba, yakni kekasih posesif, sudah dicicip lalu diputus, malu ngenalin pacarnya ke teman-teman, hingga yang kontemporer yakni bertahun-tahun pacaran tapi nikahnya sama yang baru ta’aruf-an. Kasus terakhir itulah yang paling mencerminkan betapa pernikahan adalah perkara yang rasional.

Sebagai awam, saya berprasangka pacaran itu kan latihan menjalin komitmen. Lazimnya, semakin lama berlatih semakin lancar, lha kok ini malah ambyar? Mungkin, logika berlatih semacam itu hanya ada di tahap latihan soal CPNS, tidak dalam pacaran.

Kenapa orang tega memutus hubungan cinta yang sudah sekian tahun dengan alasan “lebih baik gagal menikah daripada gagal dalam pernikahan”?

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Semakin tua dan sengsara, orang jadi realistis bahwa pernikahan bukan sekadar aktivitas bercinta. Mungkin, itu diantara sebabnya. Berbeda dong perasaan cinta masa kuliah dimana hidup masih ditanggung orangtua, dengan masa dewasa saat susah payah berkarier dan bekerja.

Nikah itu tuntutan kebudayaan, bercinta itu tuntutan hasrat dan perasaan. Menikah adalah praktik kebudayaan dimana kita saling membagi separuh hidup kita dengan seseorang. Maka, pertimbangan-pertimbangan nikah itu rasional berasaskan norma sosial, alih-alih dorongan emosional atau bahkan seksual seperti cinta kala remaja.

Rasional dalam tempurung otak laki-laki tentu berbeda dengan perempuan. Tapi, mereka bisa sama-sama menyebalkan kalau kelewatan.

Seorang perempuan rasional akan berhitung pada kualitas-kualitas yang nampak, usia dan kemapanan materi, misalnya. Jadi, wajar kalau laki-laki diputus dalam kondisi karier yang belum cemerlang di usia yang cukup dewasa. Sementara laki-laki rasional berhitung pada karakter kepatuhan demi menjamin maskulinitas di masa depan. Jadi, wajar kalau perempuan mandiri dan keras kepala akan tergantikan oleh akhwat yang lain.

Kasus “pacaran lama-lama akhirnya ambyar juga” ini pun kasus paling b-g-s-t, bagi perempuan usia 26 ke atas. “Aku pesimis soal pernikahan. Selain karena kenangan selama tujuh tahun nggak mungkin ilang hanya dalam satu edisi kalender, menemukan pengganti setahun dua tahun ke depan itu terlihat mustahil,” kata seorang teman a.k.a sobat ambyar.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Keluhan tersebut merupakan problem sosial, alih-alih personal. Usia 26 ke atas adalah masa-masa insekyur perempuan lajang di negeri ini – yang termakan dogma perawan tua.

Bagi perempuan ini, putus cinta di usia segitu tanpa ada cadangan (gebetan) terasa amat sial. Jadi, mengertilah jika beberapa perempuan menyimpan banyak gebetan, itu bagian dari strategi. Memang terkesan brengsek sih, tapi lebih brengsek mana dengan pakem norma sosial tentang usia ideal pernikahan perempuan?

Semakin besar angka di kue ulang tahun perempuan lajang, semakin tampak menggelisahkan. Berapa banyak laki-laki yang mempertimbangkan semakin tua perempuan, maka semakin dewasa, berpengetahuan, dan bijaksananya ia sebagai pasangan? Seperti para perempuan memandang semakin tua lelaki lajang, dianggap semakin tampan, mapan, dewasa, dan bijaksana?

Faktanya, kebanyakan lelaki memilih menikah dengan akhwat hijrah yan masih kinyis-kinyis. Atau, sebagian perempuan akhirnya minta putus dan memilih pasangan yang lebih tua dan lebih mapan.

Meski cinta perkara emosional, bukan berarti hidup cukup mengandalkan puisi cinta. Tapi, meski pernikahan perkara yang rasional, bukan berarti fisik dan materi jadi pertimbangan utama. Maka, beberapa orang berujar, “Nggak ada kriteria pasangan hidup bagiku, selain visi yang sejalan.”

Apa kabar pasanganmu? Aman?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.