Pacaran atau Kawin dengan ‘Bule’ Sama Aja, Nggak Usah Lebay, Keleus…

Pacaran atau Kawin dengan ‘Bule’ Sama Aja, Nggak Usah Lebay, Keleus…

Ilustrasi (Tim Savage/pexels.com)

Saya sempat tergelitik ketika membaca artikel di satu platform media digital. Intinya soal bagaimana pemberitaan terhadap orang Indonesia yang kebetulan pacaran atau menikah dengan ‘bule’.

Nah, kalau ini justru pengalaman sendiri. Sebenarnya, saya paling nggak suka pamer-pamer perkara beginian yang harusnya jadi urusan pribadi aja. Tahu sendiri lah ya, orang-orang keponya udah kayak apa.

Singkat cerita, saya pernah menjalin hubungan dengan laki-laki yang masuk dalam kategori ‘bule’. Berapa kali? Ratusan… Haha… Ada deh. Pokoknya, bukan urusan kalian, termasuk bagaimana menjalaninya dan kenapa hubungan itu kemudian harus berakhir. Ishh…

Lalu, pernah nggak sama yang lokal? Orang Indonesia, maksudnya? Dengan jujur, saya akan jawab, “Belum pernah.” Kemudian, berikutnya lagi udah bisa ditebak, salah satu dari beberapa pertanyaan di bawah ini pasti akan keluar:

“Kenapa? Nggak suka produk lokal, ya?”

“Doyannya ama yang impor melulu, ya?”

“Buat memperbaiki keturunan, ya?”

Oke, sebentar. Ini kita lagi ngomongin orang atau pangan, sih? Kok pakai istilah ‘produk lokal’ dan ‘produk impor’ segala?

Pertanyaan-pertanyaan di atas bikin jengah. Makanya, untuk urusan asmara, akhirnya saya memilih nggak terbuka sama sembarang orang. Kalaupun cerita, ya nggak semuanya. Ngapain, coba?

Pertama, semua pertanyaan di atas dari awal udah sangat asumtif. Kesannya hanya mau membuka hati untuk laki-laki asing, sementara yang Indonesia dicuekin. Lha, siapa saya?

Kedua, belum apa-apa udah di-judge rasis. Tapi karena udah sering kejadian, anggap aja sebagai bahan lucu-lucuan.

Ketiga, apa maksudnya memperbaiki keturunan? Kalau kebetulan sifat dan karakter si doi baik, saya jawab aja iya untuk pertanyaan ketiga. Kalau soal fisik, masa mau menghina Tuhan, dengan menganggap fisik mereka jauh lebih oke daripada kita?

Ya, gara-gara inferioritas bangsa kita, jadinya pisau bermata dua. Ini nih, kalau kita kelamaan dijajah bangsa asing dan nggak sadar ikut melanggengkan apa yang namanya post-colonialism hungover.

Ada yang terkagum-kagum lihat orang Indonesia bisa berjodoh sama ‘bule’, lalu mulai ikut-ikutan berburu ‘bule’ dengan harapan akan bernasib sama dan ikutan merasa bangga. Kesannya keren banget, gitu? Terus media juga nggak menolong dengan bikin judul berita dengan kata-kata “Bikin iri, apalagi bulenya ganteng!”

Aduh…

Lalu, ada aja perempuan Indonesia yang bangganya setengah mati bila dibilang wajah mereka wajah ‘selera bule’. Entah apa maksudnya, mengingat saya melihat teman-teman ekspat yang berpasangan dengan orang Indonesia, rupanya juga beda-beda. Jadi, apa yang dimaksud dengan ‘selera bule’?

Di sisi lain, ada yang malah jadi nyinyir sama mereka yang kebetulan punya pasangan orang asing. Apalagi, kalau orang Indonesia-nya perempuan dan laki-lakinya ‘bule’. Mulai dari sebutan ‘bule hunter’ sampai tuduhan sadis yang menggeneralisir macam ‘gold-digger’.

Memang sih, saya nggak menampik kenyataan kalau memang ada perempuan Indonesia yang seperti itu. Mereka sengaja mengincar ‘bule’ dengan harapan si ‘bule’ kaya dan bisa ‘memperbaiki kehidupannya’ dari segi finansial maupun keturunan, yang berarti lagi-lagi ada rasa insecure di sini.

Sialnya, fenomena ini bikin yang lain kena getahnya. Ada juga kok, pasangan Indonesia-asing yang murni menikah karena cinta. Nggak semua laki-laki berkulit putih itu kaya. Sebaiknya jangan gampang termakan gambaran film Hollywood.

Nggak semua kenalan lewat night club atau aplikasi kencan macam Tinder. Ada juga yang kenalan lewat komunitas hobi tertentu.

Dan, nggak semua perempuan Indonesia yang pacaran sama laki-laki asing pasti langsung mau dibawa ke ranjang sebelum menikah. Lha, laki-laki Indonesia juga banyak yang kelakuannya kayak gitu dan nggak semuanya pernah tinggal di luar negeri. Masih mau nyalahin budaya Barat?

Tapi dasar sial, yang namanya stereotip memang lebih mudah melekat, terutama di kepala yang bebal.

Rasa-rasanya malas juga harus menjelaskan alasan kenapa dua anak manusia saling tertarik satu sama lain. Terlepas dari warna kulit, ras, maupun kebangsaan mereka. Ya biarkan saja tho, kalau memang ada rasa dan Tuhan ingin mereka berjodoh. Kok, kita bisanya usil sih?

Lantas, mengenai pertanyaan, “Kenapa harus ‘bule’?” Kata siapa harus? Bagaimana kalau kebetulan laki-laki yang tertarik memang kebanyakan ‘bule’? Terus ada yang ngomong, “Kenapa nggak sama orang Indonesia saja?” Lha, situ ngapain ngatur-ngatur?

Kebetulan aja yang nyamperin belum ada yang orang Indonesia sendiri. Namanya juga rezeki. Mau ‘bule’ atau lokal, jangan samakan dengan pangan, keleus… Nggak usah pakai kata ‘produk’ segala, memangnya dagangan? Kalau memang jodohnya begitu, situ mau apa?

4 KOMENTAR

  1. Haha, ada betulnya. Memperbaiki keturunan? Alhamdulillah gen saya sudah sempurna, lalu apa yang harus diperbaiki? Tampang kesukaan bule? Bule yang mana dulu? Ada strata donk sama seperti kita juga. Tidak semua perempuan Indonesia mau dengan bule sembarangan dan tidak semua bule juga mau sama kami. Sama2 punya standard, selera, dan kemampuan kok. Sama aja! Kalau saya pribadi lebih memilih bule, karena supaya lebih bebas berkeluarga inti. Jadi mertua sudah tahu diri dan jarang ikut campur. Mau berpesta ria, bangun telat kek, mau masak atau ga, dll., aman. Terus kalau ada masalah juga bisa leluasa kami atasi bersama. Kapal keruk? Kalau perempuannya berpendidikan dan dari keluarga berada, justru kami yang lebih berhati2 memilih bulenya, jangan2 menikahi kami supaya bisa buka usaha di Indonesia, aka married for business, gubrak! Saya yakin sekali perempuan Indonesia masih berharga diri tinggi dibandingkan dengan perempuan tetangga sebelah yang sudah terkenal dengan sebutan menikah demi greencard atau permanent residence 🙏🏻

  2. Saya paling benci kalau ada yang bilang “memperbaiki keturunan”, hello saya memang ga cantik dan pesek tapi bukan berarti saya mau memperbaiki keturunan, karena kita ga tau Tuhan kasih kita anak mirip siapa. Disaat saya ga punya keinginan sama sekali menikah dengan bule, justru saya malah menikah dengan bule. Mereka pikir hidup saya enak, padahal saya juga harus bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Kurang-kurangin lah berpikir yang tidak-tidak tentang orang Indonesia yang menikah dengan orang asing, kehidupan kita sama aja kok dengan orang berkeluarga pada umumnya. Yang membedakan adalah menikah dengan bule apalagi tinggal di luar negeri itu menuntut kita lebih mandiri, hidup ya antara suami dan istri, tidak ada ikut campur mertua bahkan saudara lainnya (yang ini sangat jarang terjadi di Indonesia).

  3. Jangan dipikir menikah dgn “bule” itu mudah, mulai dari mengurus Surat nikah, daftar diri, adaptasi budaya bahasa Dan karakter, fluktuasi kurs mata uang sewaktu mengunjungi mertua sampai fluktuasi kurs mata uang rupiah ( dikirain nikah sm “bule” trus jadi Kaya Dan segala macam jadi harga “bule”)
    Sebelum pindah negara dan menikah, Saya mempunyai karir yg bagus dgn gaji 2 digit perbulan. Sekarang di negeri seberang dgn status sbg “dependent” mencari pekerjaan menjadi hal yg membingungkan.
    Saya sebagai seorang istri merasa harus bisa mengimbangi suami dalam taraf pekerjaan, intellectual Dan cara pikir. Jadi emak2 dirumah aja, nunggu suami pulang bikin bodoh mbak!!
    Makanya coba dipikir ulang menikah dgn “bule” dgn tujuan memperbaiki taraf hidup dan keturunan. Setuju dgn penulis, great writting kak.

TINGGALKAN PESAN