Ilustrasi (Image by Rudy and Peter Skitterians from Pixabay)

“Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini gak?”

Begitu kata seorang laki-laki berseragam polisi sambil mengokang senjata laras panjang atau bedil – dalam video yang sempat viral di ranah maya. Kita lewati dulu mbak-mbak yang menanggapinya dan tidak kalah viral juga. Yah, walaupun si mbak nggak salah juga. Aparat yang satu itu memang sering kali terlihat garang daripada mengayomi.

Tapi yang akan dibahas kali ini bukan sekadar video tersebut, melainkan akar permasalahannya yang sudah menjalar ke mana-mana dalam masyarakat kita: toxic masculinity atau maskulinitas beracun. Norma sosial dengan cara pandang yang sempit, semisal laki-laki harus berperan secara dominan, kuat secara fisik, tidak boleh menangis, piawai dalam hal seksual, dan lain-lain.

Maskulinitas sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah kejantanan seorang laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksualnya. Kualitas seksual ini kalau dibahas lebih jauh tentu akan sangat luas. Seksual saja bisa jadi sesuatu yang luas, apalagi hal-hal yang dihubungkan dengan itu.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Satu hal yang pasti, KBBI pun sebenarnya tidak punya patokan baku atas apa saja yang layak dihubungkan dengan kejantanan. Dengan demikian, hal-hal tersebut menjadi sangat perspektif. Memang, apa sih yang sepatutnya dihubungkan dengan kejantanan lelaki??

Sepertinya sudah sangat kuno dan basi jika menghubung-hubungkan kejantanan laki-laki dengan sesuatu yang kesannya gagah, perkasa, dan garang. Realitas ini pun diamini laki-laki ((( open minded ))) di seluruh dunia yang mulai menolak kejantanan mereka dihubung-hubungkan dengan berbagai hal tersebut. Mereka mulai menerima bahwa laki-laki juga boleh tidak berotot, boleh memakai baju pink, boleh menangis, dan boleh patah hati seambyar-ambyarnya.

Maka, video laki-laki berseragam polisi yang bilang “pacar kamu ganteng? kaya? bisa gini gak?” (mengokang bedil) adalah pemikiran yang mundur. Kalaupun itu bercanda, ya nggak lucu.

Baca juga: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Sebelum ini, pernah ada seorang laki-laki yang mengajarkan kita bahwa laki-laki juga boleh patah hati bahkan sampai ambyar. Kita menyebut beliau (bahkan) sebagai ‘The Godfather of Broken Heart’. Dia adalah pelantun tembang campursari bernama Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot.

Mungkin, makam pakde Didi masih harum semerbak bunga sampai saat ini. Pun, luka para sad boys dan sad girls masih menganga karena ditinggal lord patah hati. Tapi di balik itu semua, jelas pakde Didi membawa napas segar bagi laki-laki yang jauh dari standar maskulinitas masyarakat kuno.

Kini, mereka bisa lebih percaya diri dalam menampakkan ekspresinya, tidak harus selalu meringkuk di balik semboyan toxic masculinity “laki-laki kok nangis”. Ketika memang sedang merasakan kesedihan, mereka lantang berkata, “Nangis batinku, nggrantes uripku.” Terima kasih pakde, berkatmu kami jadi rebutan patah hati. Tanpa amarah, kami merangkul dan merayakan rasanya.

Baca juga: Didi Kempot ‘Membangunkan’ Soekarno dari Kubur

Nah, bicara soal toxic masculinity, seperti dilansir yayasanpulih.org, kini telah berkembang menjadi norma sosial tentang bagaimana laki-laki seharusnya berperilaku. Norma-norma tersebut dapat membuat seseorang menjadi misogyny, homophobia, dan violence.

Tuh kan, maskulinitas yang beracun hanya akan mencetak laki-laki dengan kepribadian yang tidak sehat. Tidak hanya itu, maskulinitas beracun ini mengancam kesehatan mental mereka. Bayangkan, hanya dari hal-hal yang mungkin dinilai sebagai bercandaan semata, ternyata membawa pengaruh sangat krusial.

Artikel populer: 5 Jebakan Kembali ke Mantan yang Abusif, Berkaca dari The World of The Married

Kita tahu, topik kesehatan mental jarang sekali menjadi perbincangan di tengah masyarakat kita yang justru menaruh banyak stigma di dalamnya. Boro-boro lelaki ngomongin kesehatan mental, lha wong nangis saja sudah membuat kejantanan mereka rontok?! Apakah susah sekali bagi kita untuk meyakini bahwa laki-laki juga manusia biasa?

Oh, tenang sobat-sobatkuh, tulisan ini tidak sedang menyinggung pacarmu kok, walaupun ketersinggungan tidak berpatok pada apa yang diterima, melainkan apa yang dirasakan. Tapi coba ditanyakan lagi, pacarmu gagah? perkasa? toxic masculinity nggak?

2 KOMENTAR

  1. Seharusnya maskulinitas itu berubah makna seiring jaman, kalau jaman dulu mungkin bisa jika dibandingkan dengan kekuatan. Karena saat itu dominasi seorang Pria diukur melalui seberapa kuat dia dalam bertarung serta bertahan hidup. Agak kurang masuk akal kalau persepsi maskulinitas jaman dulu disandingkan dengan jaman sekarang. Dimana konsep maskulinitas seorang pria yang diukur dari dominitas pria dalam hal Pengetahuan, Kekayaan serta kemampuan memimpin. Bagaimana anda membandingkan mana yang lebih maskulin… Erik Tohir pemimpin ratusan perusahaan dibanding preman sekelas Hercules atau John Kei…mana yang lebih maskulin. Kalau saya rasa pasti Erik Tohir karena dengan dominasi nya dia menguasai ratusan perusahan dan ribuan karyawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini