Foto Ilustrasi: Pixabay

Kisah cinta Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo, sempat menarik perhatian publik bertepatan dengan prahara di partai yang dipimpin oleh putra sulung mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Elemen bangsa yang bosan dengan huru-hara politik pada akhirnya memilih untuk fokus pada kisah pertama.

Tak heran nama Kaesang, Felicia Tissue (sang mantan), Nadya Arifta (sang pacar baru), hingga terminologi ghosting secara bergantian menghiasi trending topic di Twitter secara organik, mengalahkan buzzer-buzzer yang tengah bekerja saat itu.

Kisah cinta semacam Kaesang-Felicia-Nadya sebenarnya banyak terjadi di negeri ini. Bedanya cuma satu: Kaesang adalah anak presiden. Apalagi, urusan itu turut melibatkan keluarga besar. Menggelinding terosss.

Mengingat kita hidup di era digital, maka salah satu yang akhirnya dikulik secara mendalam oleh warganet budiman adalah jejak digital. Dalam hal ini, semua jejak digital Nadya digali nggak karuan.

Akun Nadya di Instagram sudah dikunci tak lama setelah akun gosip mengidentifikasi kebersamaan Nadya dengan Kaesang. Penelusuran pun berlanjut ke blog, Twitter, hingga yang paling mutakhir adalah ASKfm.

Baca juga: Saat Kepincut dengan Lelaki karena Status Sosialnya, tapi Kandas Begitu Saja

Persoalan mulai muncul karena 7 tahun lalu, Nadya pernah mengunggah beberapa hal terkait Pilpres 2014 dan dengan jelas menyebut bahwa di dalam hatinya terbesit nama Bapak Prabowo, serta menulis “AGREE” sampai lima kali untuk pertanyaan “Tadi Jerman vs Brazil 7-1 bisa jaid pertanda presiden ke-7 itu pasangan nomor 1, setuju?”.

Kita sebetulnya tidak harus peduli dengan persoalan cinta di antara mereka. Kita semestinya memberi perhatian terhadap masalah pengungkapan jejak digital semacam itu.

Bicara jejak digital, kita tentu ingat Fadli Zon. Dalam 2 kali pemilu, cuitannya tahun 2012 ketika Gerindra mendukung Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta, selalu muncul. Cuitan penuh pujian pada Jokowi itu tentu menjadi kontradiktif saat Pilpres 2014 dan 2019 yang mempertemukan antara Jokowi dan Prabowo secara head to head.

Tahun lalu, cuitan Iman Brotoseno pada 2013 yang memuat kata “bokep” kembali diviralkan setelah penunjukannya sebagai direktur utama TVRI. Padahal, pada masanya, tweet itu sebagai lucu-lucuan belaka. Namun, tak tanggung-tanggung, sutradara film 3 Srikandi tersebut sampai menghapus akunnya di Twitter.

Baca juga: Begini Cara TikTok Menjadi Panggung Baru untuk Aktivisme Politik

Di kancah sepak bola luar negeri, ada juga kisah jejak digital yang sejenis. Awal musim 2020/2021, Tottenham Hotspur membeli bek sayap Matt Doherty dari Wolverhampton Wanderers. Masalahnya, Doherty ini adalah fans Arsenal. Pada masa lalu, sebagaimana banyak fans sepak bola lainnya, dia juga pernah ngetwit mendukung tim kesayangannya. Padahal, Arsenal merupakan musuh bebuyutan Tottenham Hotspur. Peristiwa Doherty menghapus tweet pujiannya kepada Arsenal bahkan dijadikan video perkenalannya di Tottenham Hotspur.

Ketika media sosial muncul, sadar atau tidak, sejatinya kita sudah menaruh banyak jejak digital. Plus, jangan lupakan konteks dan waktu saat itu, dimana kita belum cukup matang untuk memilih mana yang baik diunggah dan mana yang tidak. Sebagian dari kita mungkin bersyukur bahwa beberapa media sosial telah ditutup, misalnya Friendster dan Path. Jika tidak, bisa jadi testi-testi zaman baheula juga bakal kembali muncul di Facebook, Twitter, Instagram, hingga TikTok.

Sebutlah yang ditulis Nadya Arifta di ASKfm pada 7 tahun silam. Pada 2014, usianya baru 17 tahun. Tentu menjadi cukup wajar ketika seorang remaja 17 tahun mengunggah apapun yang ada di pikirannya saat itu. Lagi pula, siapa yang tahu bahwa bertahun-tahun kemudian dia akan dekat dengan anak dari lawan jagoannya pada Pilpres 2014 tersebut?

Baca juga: Pacaran Lama-lama Akhirnya Ambyar juga

Lah, nggak usah jauh-jauh, itu jejak digital Pak Prabowo dan tim yang mengomentari pemerintahan Pak Jokowi masih bisa di-scroll ketika dirinya dilantik menjadi Menteri Pertahanan.

Di Facebook, setiap hari kita disodori memori perihal sesuatu yang pernah menjadi status kita bertahun-tahun silam. Kadang-kadang yang muncul malah foto mantan atau status tentang kangen mantan. Pada masanya, itu adalah ungkapan cinta. Ketika konteksnya sudah tidak sesuai, tentu saja maknanya telah bergeser, mungkin jadi lucu, mungkin pula jadi benci.

Jadi, marilah kita mencoba untuk tidak menganggap penting jejak digital, karena bagaimanapun sesuatu yang kita atau seseorang tulis pada masa lalu tentu tidak terlepas dari konteks pada masa itu, entah konteks politik, kedewasaan, percintaan, dan lainnya.

Termasuk juga soal Nadya Arifta. Unggahannya kala itu wajar saja. Tidak perlulah ditambah-tambahi sampai ke kadrun segala. Wong tahun 2014 juga belum ada istilah kadrun, kan?

Artikel populer: Berteman dengan Mantan Hingga Ketemuan Tanpa Bawa Perasaan

Mewajarkan jejak digital adalah hal penting, sebab orang-orang yang akrab bermedia sosial pada awal kehadirannya di Indonesia telah mulai berada di posisi-posisi penting, baik politik maupun jabatan publik. Masa iya kelak tahun 2029 ada seseorang yang pintar dan cakap tapi gagal masuk direksi BUMN gara-gara statusnya di Facebook saat ia masih muda pada 2009 isinya kata-kata kasar semua dan hal itu dibawa ke publik seperti Iman Brotoseno?

Mewajarkan jejak digital juga krusial agar jangan sampai ketika CEO Voxpop kelak memperoleh jabatan penting malah dirundung netizen karena pada tahun 2011 pernah ngetwit garing begini: “Dipo Alam berani melawan media karena di-support kakaknya: Dipo Vety Vera”.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini