Orang-orang yang Mesti Kita Waspadai setelah Teror di Christchurch

Orang-orang yang Mesti Kita Waspadai setelah Teror di Christchurch

Ilustrasi (Willfried via Pixabay)

Daoud Nabi adalah imigran asal Afganistan yang pertama syahid dibunuh teroris di Selandia Baru. Dalam rekaman video, ia mengucapkan Hello Brother kepada pembunuh yang mencabut nyawanya. Kemudian, orang-orang merespons kebaikan itu dengan hashtag #HelloBrother di Twitter, bagaimana orang baik, yang menyapa dengan hangat, tersenyum, dibalas dengan tembakan mematikan.

Kita sedang membela kemanusiaan, membela hati nurani, membela keadilan, dan membela sesuatu yang suci.

Apa yang dilakukan penjagal di Christchurch, Selandia Baru adalah produk kebencian. Dalam manifesto yang ditulis dengan buruk, penjagal itu hanya meneruskan apa yang telah dikatakan para fasis dan islamofobik. Seperti kata-kata Trump dan senator bodoh dari Australia yang menyalahkan imigran muslim terhadap pembunuhan tadi. Saya tak perlu menuliskan di sini, jangan sampai kita memberikan ruang untuk kebencian hadir dan menyebar.

Seorang teman menulis bahwa ia khawatir kebencian ini akan menular ke Indonesia. Ia takut akan ada retorika kebencian yang diteruskan orang fasis ke kehidupan sehari-hari. Tapi, ia salah.

Baca juga: Langkah Konkret Menghadapi ‘Simpatisan Teroris’ di Media Sosial

Kebencian orang fasis tadi sudah hadir di Indonesia. Pembakaran vihara, pengusiran orang syiah di Sampang, penyegelan masjid Ahmadiyah, hinggga seruan untuk membunuh Ahmadiyah. Hasilnya? Pembunuhan orang-orang Ahmadiyah di Cikeusik.

Salah satu hal yang menyuburkan kebencian tadi adalah rasa sombong. Bahwa satu kelompok manusia lebih baik dari yang lain. Bahwa satu ajaran lebih mulia dari yang lain.

Kita lupa bahwa perbedaan itu semestinya tidak dijadikan alasan untuk membenci, tapi usaha untuk lebih peduli. Akan ada orang-orang keji yang merasa bahwa perbedaan ras, perbedaan mazhab, dan perbedaan haluan politik sebagai ancaman. Orang-orang ini yang semestinya kita waspadai.

Retorika kebencian ras, misalnya kecurigaan kepada orang-orang Arab dan Tionghoa mengakar karena produk stigma rasialis yang tak juga diruntuhkan. Orang-orang Tionghoa kaya raya karena menghisap upah murah dari ‘pribumi’, orang-orang arab adalah keturunan Nabi yang tak bisa salah meski terbukti melakukan kekerasan. Label-label semacam itu perlu kita gugat, runtuhkan, dan kembalikan pada tempatnya. Dalam peradaban gelap yang tak perlu lagi dibuka.

Baca juga: 6 Tangga Menuju Bom Bunuh Diri

Xenofobia bukan hal baru di negara-negara barat baik di Eropa, Amerika, maupun Australia. Sejak dulu sudah ada, tapi belakangan kebencian itu makin meningkat dengan label agama.

Legitimasi ayat dalam Alkitab, argumen kebudayaan, sampai apologis ala-ala filsafat juga disertakan untuk membenarkan kebencian kepada Islam. Islam disebut tidak bisa hidup dengan adat istiadat, tata nilai, dan kebudayaan Eropa, Amerika, atau Australia. Beberapa yang fasis menyebut kalau imigran muslim mau ke eropa, ya mereka yang mesti menyesuaikan diri dengan Eropa dan bukan sebaliknya.

Di Indonesia, hal serupa juga ada. Orang-orang yang menjual ketakutan akan “Aseng”, “Kafir”, “Cina”, “Komunis”, “Liberal”, “Syiah”, hingga “LGBT”. Kata-kata itu digunakan untuk menakut-nakuti umat Islam di Indonesia. Sentimen tadi digunakan untuk pra-kondisi, seolah ada ancaman pemurtadan, ada usaha liberalisme, hingga melabeli Ahmadiyah dan Syiah sebagai orang-orang sesat. Retorika yang menyerempet xenofobia ini semestinya diakhiri.

Baca juga: Mengulamakan Mereka yang Berdakwah dalam Diam

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk membentuk solidaritas lintas kelompok. Umat muslim sudah waktunya bergandeng tangan dengan kelompok LGBT untuk saling melindungi. Feminis bersama kaum buruh memperkuat barisan. Para pelajar dan aktivis saling mendorong untuk mempromosikan keberagaman.

Pesannya sederhana, jangan sampai keyakinan kita dalam beragama, membuat kita saling membunuh satu sama lain.

Kampanye ini telah dilakukan di Eropa, Amerika, dan Australia. Orang-orang menunjukkan simpati pada kaum muslim. Kelompok LGBT dan anarko membantu muslim. Bahkan, sinagoge yahudi mengumpulkan uang untuk membantu korban penembakan di Selandia Baru.

Keyakinan dalam beragama semestinya digunakan untuk menyebarkan cinta kasih. Kita harus ambil bagian dalam mempromosikan kebaikan, bukan menyebarkan ancaman, rasa takut, apalagi retorika kebencian.

Kini, sebagai umat muslim, terutama jika kita punya akal sehat dan mengaku orang baik, harus memilih siapa yang kita anggap ulama. Sebab, belakangan banyak orang yang disebut-sebut sebagai ulama, tapi menyebarkan ancaman, rasa takut, dan retorika kebencian. Sementara, kata-kata yang diucapkan tak mencerminkan sedikit pun keilmuan. Apakah mereka pantas dianggap sebagai ulama?

Artikel populer: Dari ‘Kafir’ ke ‘Non-Muslim’ dan Ide Kesetaraan di Pesantren dan NU

Atau, kita akan mencari ulama-ulama dengan rekam jejak keilmuan yang jelas, anti-kebencian, dan mendorong perdamaian untuk menjadi panutan? Pilihan ini ada pada diri masing-masing, orang baik maupun yang merasa punya akal sehat. Kita harus sadar kebencian ras, superioritas agama, atau tradisi adiluhung yang fasis mesti dilawan.

Hanya karena kamu tinggal duluan di satu tempat, punya tradisi panjang, dan mengklaim penduduk asli, bukan berarti kamu boleh melakukan penjagalan atas nama Zionisme seperti di Israel.

Hanya karena kamu pendatang, bukan berarti kamu bisa seenaknya merebut tanah, menghapuskan tradisi, melakukan genosida, atas nama Tuhan dan peradaban seperti yang dilakukan imigran pada suku asli di Amerika atau Aborigin di Australia.

Konteks, sejarah, semestinya digunakan untuk membela kemanusiaan, membela yang lemah, bukan pembenaran atas kejahatan, apalagi kekerasan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.